Jumat, 22 Juni 2012

SULUK LANGIT SAPTA


Melengkapi cerita Ki Sriwidada yang berbicara tentang “macam-macam ruh”, dalam Serat Centhini Jilid I ada pembicaraan masalah ruh (roh) ini yang disebut Suluk Langit Sapta. Yaitu ketika Jayengresmi (anak dari Sunan Giri yang pada akhir cerita menjadi Seh Amongraga) mendapat wejangan dari Seh Sekardelima di Gunung Slamet. Dialog itu sebagai berikut (Serat Centhini Jilid I, pupuh 41 – Asmaradana, tembang 1 s/d 6): 1. Raden kawruhna malih, prakara kang langit sapta, ana ing sira dununge, pima-pima dipun pirsa, langit kang ana sira, mara ngong jarwani kulup, den becik pidangetira. Artinya: Untuk diketahui, tentang tujuh langit, yang tempatnya ada didalam diri pribadi, untuk diketahui, langit yang ada dalam diri pribadi, akan saya ceritakan, mohon didengarkan. 2. Dingin langit roh-jasmani, dene langit ping kalihnya, langit roh-nabati ranne, roh-napsani kaping tiga, dene langit kaping pat, roh-rohani wastanipun, dene langit kaping lima. Artinya: Yang pertama langit roh-jasmani, sedangkan yang kedua, langit roh-nabati namanya, roh-napsani yang ketiga, sedangkan langit ke-empat, roh-rohani namanya, sedangkan ke-lima. 3. Ingaranan roh-nurani, langit kaping nemme ika, roh-rabani ing wastane, langit kaping pitu ika, roh-kapi wastanira, anenggih ing tegesipun. Artinya: Dinamakan roh-nurani, langit ke-enam itu, roh-rabani namanya, langit ke-tujuh itu, roh-kapi namanya, sedangkan artinya. 4. Tegese langit jasmani, tinitahaken ing Allah, amepeki ing uripe, ana ing jasad sadaya, langit roh-nabati ka, amepeki uripipun salire badan sadaya. Artinya: Artinya roh-jasmani, diperintahkan oleh Allah SWT, melengkapi menjadi hidup, pada seluruh jasad, sedangkan roh-nabati, melengkapi kehidupan keseluruhan badan semua. 5. Ingkang langit roh-napsani, amepeki ingkang karsa, karepe badanne kabeh, langit roh-rohani uga, mepeki ngelmunira, sakehe badan sadarum, langit roh-nurani nira. Artinya: Yang langit roh-napsani, melengkapi kehendaknya, kehendak (keinginan) badan semua, langit roh-rohani juga, melengkapi ilmunya, keseluruhan badan semua, sedangkan roh-nurani. 6. Amepeki cahyanenike, sakehe badan sadaya, langit roh-rabani raden, amepeki adhepira, ingkang badan sadaya, lan langit roh-kapi iku, pan pepak pasrahing badan. Artinya: Melengkapi dengan cahaya (penerangan hati), keseluruhan badan semua, langit roh-rabani, melengkapi dengan ketekunan menghadap, dan langit roh-kapi, yang melengkapi badan dengan kepasrahan (penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah SWT). Karena penjelasan dalam Serat Centhini Jilid I ini sangat singkat, jadi interpretasi dari Suluk Langit Sapta ini bisa sangat luas, tapi yang sudah pasti ini adalah tingkatan-tingkatan roh dalam diri kita menuju kesempurnaan roh atau kesempurnaan hidup. Mungkin sedikit berbeda dengan penjelasan Ki Sriwidada yang menjelaskan tingkatan roh menjadi sembilan tingkatan, sedangkan Suluk Langit Sapta hanya tujuh tingkatan, sedangkan penjelasan secara rinci agak mirip tapi ada juga sedikit perbedaan, hal ini bukan karena salah atau benar, tapi hanyalah masalah interpretasi. Dibawah ini interpretasi saya pribadi tentang tingkatan roh di Suluk Langit Sapta (berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca): 1. Roh-Jasmani – melengkapi jasad dengan kehidupan: adalah tingkatan roh yang paling awal atau paling dasar yaitu roh hanyalah sekedar memberi hidup kepada badan jasmani tapi diluar memberikan kehidupan roh tidak berfungsi, jasmani lebih berfungsi menguasai kehidupan, jadi seluruh kehidupan hanyalah menjalankan secara phisik kemauan jasmani. Sebetulnya ini juga yang disebut roh-hewani, jadi hidup menuruti kehidupan naluri jasmani untuk bisa hidup. 2. Roh-Nabati - melengkapi agar tetap hidup: nabati artinya adalah tumbuh-tumbuhan. Sifat mendasar dari tumbuh-tumbuhan, keberadaannya adalah hanyalah untuk tumbuh selama tersedia makanan atau kondisi lingkungan yang bisa menghidupinya. Jadi pada tahapan ini roh semata-mata memberi kelengkapan agar badan bisa bertahan hidup dengan mencari makanan dan lingkungan agar bisa bertahan hidup. Atau kalau istilah saat ini adalah suatu kondisi roh memberi kehidupan dengan motivasi utama melengkapi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) untuk hidup, kehidupan untuk mencukupi kebutuhan dasarnya agar bisa bertahan hidup. 3. Roh-napsani - melengkapi dengan kehendak (keinginan): pada tahap ini roh menggerakan seluruh badan untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Kehendak atau keinginan manusia tidak ada batasnya. Pada tahapan ini kehidupan adalah untuk memenuhi keinginan-keinginan, dari satu keinginan ke keinginan yang lain apakah keinginan yang bersifat buruk maupun yang bersifat baik. Keinginan baik adalah suatu pengendalian terhadap keinginan buruk, tapi tetap namanya keinginan (karsa). Selama manusai terjebak dalam lautan keinginan, kehidupan adalah untuk meraih apa yang diinginkan tanpa batas. 4. Roh-rohani - melengkapi dengan ilmu (pengetahuan): pada tahap ini roh menggerakkan badan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Segala macam usaha dilakukan untuk mengetahui lebih banyak ilmu pengetahuan. Bermacam-macam Ilmu pengetahuan lahir maupun ilmu pengetahuan bathin. Pada tahap ini kehidupan sangat dipenuhi dengan motivasi haus akan ilmu pengetahuan, dari satu ilmu ke ilmu yang lain tanpa batas. 5. Roh-nurani - melengkapi dengan cahaya (penerangan hati): pada tahap ini roh menggerakkan seluruh badan untuk mencoba menangkap cahaya penerangan dalam hatinya. Mendengarkan bisikan hati nurani, apa yang baik atau apa yang tidak baik untuk diperbuat. Bisikan nurani ini secara terus menerus membisikkan kebaikan kepada seseorang, tapi seseorang punya kecenderungan tidak mau mendengarkan, sehingga sampai pada tahap tidak mampu mendengar bisikan nurani, atau tidak bisa membedakan antara bisikan dirinya sendiri dengan bisikan nurani yang murni. Nurani adalah suatu bisikan atau petunjuk (penerangan) kehidupan dari Sang Pecipta (Allah SWT). Pada tahapan ini manusia mulai mendalami spriritual atau agama agar punya kemampuan mendengarkan suara-hati. Suatu tahapan roh yang sudah cukup sulit untuk bisa dicapai. 6. Roh-rabani - melengkapi dengan ketekunan untuk menghadap: pada tahap ini roh akan menggerakkan badan semata-mata untuk secara tekun menghadap kepada Allah SWT atau “Ingkang Murbeng Dumadi” yang telah menciptakan roh itu sendiri atau menciptakan kehidupan. Sudah tidak peduli dengan yang lain kecuali secara tekun menghadap kepada Sang Pencipta. 7. Roh kapi - melengkapi dengan kepasrahan: kapi itu sendiri berarti putih sebagai lambang kesucian, pada tahapan ini roh menggerakkan badan dengan totalitas kepasrahan kepada Allah SWT. Tanpa keinginan lainnya, kecuali menjalankan kehidupan seperti apapun yang dikehendaki (diperintahkan) oleh Allah SWT. Pada tahapan ini tidak ada lagi perbedaan antara badan/jasmani dan roh, keduanya adalah “loro-loroning a tunggal”, dua tapi satu dalam totalitas kepasrahan terhadap kehendak Allah SWT. Tahapan ini juga bisa disebut tahapan makrifat dalam ajaran tasauf Jawa. Kita bisa menganalisa diri kita sendiri atau orang-orang sekeliling kita, kita sedang dalam tahapan roh yang mana?? Dengan mudah kita bisa melihat bahwa memang ada manusia yang masih berada pada tiap-tiap tahap roh di Suluk Langit Sapta, bahkan sampai akhir hidupnya tidak bisa/tidak mampu beranjak ke tahap berikutnya atau kata lainnya tidak bisa/tidak mampu mencapai kesempurnaan hidup. Memang betul bahwa didalam kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al – Israa’ ayat 85 dikatakan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". Sedangkan khasanah pengetahuan spiritual di Jawa berumur sangat tua, bahkan sebagian ada yang sudah beredar dalam tata masyarakat Jawa, sebelum kedatangan agama-agama besar yang ada saat ini. Dengan mengetahui apa yang diceritakan oleh khasanah spirituil di Jawa, kita bisa mengetahui bagaimana usaha mereka dalam mencari jalan menuju kesempurnaan hidup, sebagai suatu referensi ataupun bahan perbandingan. Ini yang selama ini telah dilakukan oleh Walisanga dalam menyebarkan agama Islam pada jamannya, dengan tidak mengabaikan adanya unsur spiritual dan kebudayaan yang masih hidup dalam masyarakat, tanpa harus mempertentangkan. Secara esensial tujuan dari pengetahuan spiritual dan agama apapun juga adalah mengagungkan keberadaan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, yang dijadikan konsep etika Pancasila pada sila pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar