Jumat, 22 Juni 2012

WAHYU PANCASILA


Sebuah Bahan Renungan Perjalanan Bangsa Oleh : K.R.T.H. RONO HADINAGORO LIMA PULUH DELAPAN TAHUN PERJALANAN PANCASILA Sebagian besar masyarakat yakin bahwa Rumusan Pancasila dicetuskan pertama kali oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, sehingga tanggal tersebut pernah dijadikan tonggak sejarah hari kelahiran Pancasila. Namun perkembangan jaman sempat memudarkan keyakinan itu. Pada era orde baru, ada pergeseran paradigma sejarah, sehingga peran Bung Karno sebagai pencetus pertama Pancasila sebagai dasar negara sempat menjadi dikaburkan. Hal seperti ini wajar, karena sejarah itu adalah history (his story/cerita dia), sehingga wajar saja jika peran seorang tokoh sangat bergantung pada kesan dan pesan subyektif si pembuat versi sejarah itu kepada tokoh yang akan diceritakan. Upaya pengubahan orientasi serta paradigma sejarah Pancasila pada era orde baru sebenarnya membawa dampak positif terhadap citra Pancasila itu. Momentum kesaktian Pancasila, terlepas dari versi sejarah mana yang benar, disengaja atau tidak, justru mengangkat harkat Pancasila, karena terdapat kesan bahwa Pancasila itu dirumuskan oleh seseorang yang dianggap memiliki catatan negatif menurut anggapan yang beredar luas pada saat itu. Bahkan paradigma sejarah versi rezim orde baru yang menganggap bahwa rezim orde lama di bawah pimpinan sang pencetus rumusan Pancasila itu terlibat dalam pengkhianatan Pancasila, turut serta membersihkan pamor Pancasila. Akan tetapi sayang seribu kali sayang, penyelewengan yang dilakukan oleh sebagian tokoh serta pemimpin orde baru yang berhasil secara halus bernaung atau berlindung di balik jubah Pancasila, nilai luhur Pancasila itu menjadi kusam. Pada masa orde baru banyak orang mencari pembenaran atas hasrat serta kepentingannya dengan menggunakan dalih Pancasila. Dengan alasan “musyawarah mufakat”, maka dihalalkanlah praktek-praktek korupsi, kolusi, dan manipulasi. Dengan alasan “ini negeri Pancasila”, “demi menyelamatkan Pancasila”,… ini dan itu,… maka dibebaskanlah para pelaku kecurangan, penyelewengan, kedzaliman, kemunafikan, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai bentuk penyimpangan lain di satu sisi, sementara di sisi lain tidak sedikit orang yang benar-benar membela kebenaran malah dipersalahkan bahkan harus mendekam di dalam ruang bertirai besi dengan tuduhan “ ekstrimis, .. anti pancasila, orde lama, komunis, dsb… Kemahiran oknum penguasa orde baru berlindung di balik Pancasila telah menyebabkan pencemaran keluhuran Pancasila. Menjelang akhir dari kejayaan rezim orde baru, secara terbuka sudah mulai bermunculan pernyataan yang mempertanyakan Pancasila. Bahkan tidak sedikit yang membuat pernyataan anti sakralisasi Pancasila, dengan alasan bahwa Pancasila telah disakralkan oleh rezim orde baru. Anggapan sakralisasi Pancasila pada masa rezim orde baru sebenarnya tidaklah tepat, karena sebenarnya pada masa orde baru itulah terjadi proses pelecehan Pancasila. Pada masa itu Pancasila dijadikan tameng atau bumper kedzaliman, kemaksiyatan, keserakahan, dan kesewenang-wenangan oleh sebagian besar penguasa. Betapa tidak,… sosok-sosok yang disebut Manggala ( penatar tingkat tertinggi ilmu tafsir Pancasila madzhab orde baru ) pun, ternyata sebagian besar malah pelaku Kedzaliman dan Kemunafikan Nasional ( KKN, yang salah satu bentuk anaknya adalah Korupsi Kolusi dan Nepotisme ). Fenomena itu lah yang menyebabkan bermunculannya kesan bahwa Pancasila identik dengan orde baru dengan berbagai macam ragam bentuk jurus KKN-nya, yang menyebabkan kehancuran negeri tercinta. Padahal sebenarnya, jika kita gali nilai-nila Pancasila dari ajaran budaya Jawa, sejak Prolamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini Pancasila belum pernah dilaksanakan satu sila pun oleh para pemimpin bangsa ini secara benar. Selama 58 tahun terakhir ini Pancasila hanya bagaikan Mahkota emas yang dipakai bergantian oleh para perampok dan pemerkosa, yang akhirnya banyak orang muak melihat mahkota itu karena selalu melekat di kepala makhluk yang tidak berperadaban serta tidak berbudaya. WAHYU SAPTA WARSITA PANCA PANCATANING MULYA Menurut sebagian dari faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya ( Wahyu tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/ akhirat ). Sementara itu ada tokoh spiritual lain menyebutkan Panca Mukti Muni Wacana yang hanya terdiri atas lima kelompok ( bukan tujuh ). Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas : 1. Pancasila Pancasila merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia. 1.1. Hambeg Manembah Hambeg manembah adalah sikap ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Mahaesa. Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepadaNya. Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam kelanggengan ( akhirat ) kelak ( Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng ). Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana ( Hyang Suksma Kawekas ). Hambeg Mangeran ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkang akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. 1.2. Hambeg Manunggal Hambeg manunggal adalah sikap bersatu. Manusia yang hambeg mangeran akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran Hyang Suksma Adi Luwih ( Tuhan Yang Maha Luhur ). Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi di dalam kehidupannya. Di dalam salah satu ajaran spiritual, hambeg manunggal itu dinyatakan sebagai, manunggaling kawula lan gustine (bersatunya antara rakyat dengan pemimpin), manunggale jagad gedhe lan jagad cilik ( bersatunya jagad besar dengan jagad kecil ), manunggale manungsa lan alame ( bersatunya manusia dengan alam sekitarnya ), manunggale dhiri lan bebrayan ( bersatunya individu dengan masyarakat luas ), manunggaling sapadha-padha ( persatuan di antara sesama ), dan sebagainya. 1.3. Hambeg Welas Asih Hambeg welas asih adalah sikap kasih sayang. Manusia yang hambeg mangeran, akan merasa dhirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah hambeg manunggal, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang di antara sesamanya. Sikap kasih sayang itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan. 1.4. Hambeg Wisata. Hambeg wisata adalah sikap tenteram dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tenteram dan merasa mantap di dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta. Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta. Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamatan, di dalam kehidupan. 1.5. Hambeg Makarya Jaya Sasama Hambeg Makarya Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa “tidak rela” jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan. 2. Panca Karya Panca karya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan berkarya di dalam kehidupan. 2.1. Karyaning Cipta Tata Karyaning Cipta Tata adalah kemampuan berfikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut ( tidak worsuh, tidak tumpang tindih ). Manusia wajib mengolah kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal. 2.2. Karyaning Rasa Resik Karyaning rasa resik adalah kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran/budi luhur. 2.3. Karyaning Karsa Lugu Karyaning Karsa Lugu adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah ( sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci/Hyang Suksma Jati Kawekas ). 2.4. Karyaning Jiwa Mardika Karyaning Jiwa Mardika adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian ( Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan ). 2.5. Karyaning Suksma Meneng Karyaning Suksma Meneng adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, “ teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah “. Di dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera. 3. Panca Guna Panca guna merupakan butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan. 3.1. Guna Empan Papaning Daya Pikir Guna empan papaning daya pikir adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berfikir secara benar, efektif, dan efisien ( tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu ). 3.2. Guna Empan Papaning Daya Rasa Guna empan papaning daya rasa adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan ( rasa, rumangsa, lan pangrasa ), secara arif dan bijaksana. 3.3. Guna Empan Papaning Daya Karsa Guna empan papaning daya karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan. 3.4. Guna Empan Papaning Daya Karya Guna empan papaning daya karya adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. 3.5. Guna Empan Papaning Daya Panguwasa Guna empan papaning daya panguwasa adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana (tidak menyalahgunakan kewenangan). Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola (merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi ) kehidupan alam semesta. 4. Panca Dharma Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya. 4.1. Dharma Marang Hingkang Akarya Jagad Dharma marang Hingkang Akarya Jagad adalah melaksanakan perbuatan mulia sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta ( memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad traya ). 4.2. Dharma Marang Dhirine Dharma marang dhirine adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola dhirinya secara baik. Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya. Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri. 4.3. Dharma Marang Kulawarga Dharma marang kulawarga adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak-hak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompoh ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik, benar, dan tepat. 4.4. Dharma Marang Bebrayan Dharma marang bebrayan adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa. 4.5. Dharma Marang Nagara Dharma marang nagara adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesetosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya. 5. Panca Jaya Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia. 5.1. Jayeng Dhiri Jayeng dhiri artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan ( ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa ). 5.2. Jayeng Bhaya Jayeng Bhaya artinya mampu menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya. Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan ( mendatangkan dampak negatif ), sehingga sering disebut ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake‘ ( menyerang tanpa pasukan, menang dengan tidak mengalahkan ). 5.3. Jayeng Donya Jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang nandang kesusahan/ papa cintraka ). 5.4. Jayeng Bawana Langgeng Jayeng bawana langgeng artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat. 5.5. Jayeng Lana ( mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng ). Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi. 6. Panca Daya Panca daya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin. 6.1. Daya Kawruh Luhuring Sujanma Daya kawruh luhuring sujanma artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta. 6.2. Daya Adiling Pangarsa Daya adiling pangarsa/tuwanggana artinya kekuatan keadilan para pemimpin. 6.3. Daya Katemenaning Pangupa Boga Daya katemenaning pangupa boga artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian ( pedagang, pengusaha ). 6.4. Daya Kasetyaning Para Punggawa lan Nayaka Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan. 6.5. Daya Panembahing Para Kawula Daya panembahing para kawula artinya kekuatan kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat ( mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan ). 7. Panca Pamanunggal ( Panca Panunggal ) Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini. 7.1. Pandhita Suci Hing Cipta Nala Pandita suci hing cipta nala adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian fikir dan tingkah laku demi memperoleh ridlo Ilahi. 7.2. Pamong Waskita Pamong waskita adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya. 7.3. Pangayom Pradah Ber Budi Bawa Bawa Leksana Pangayom pradhah ber budi bawa leksana adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil berdasarkan kejujuran. 7.4. Pangarsa Mulya Limpat Wicaksana Pangarsa mulya limpat wicaksana artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana. 7.5. Pangreh Wibawa Lumaku Tama Pangreh wibawa lumaku tama artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia ( laku utama ). KORELASI RUMUSAN PANCASILA DASAR NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Menurut KRMH. T.H. Koesoemoboedoyo, di dalam buku tentang “Wawasan Pandam Pandoming Gesang Wewarah Adiluhung Para Leluhur Nuswantara Ngudi Kasampurnan Nggayuh Kamardikan”, pada tahun 1926, perjalanan spiritual Bung Karno, yang sejak usia mudanya gemar olah kebatinan untuk menggapai cita-citanya yang selalu menginginkan kemerdekaan negeri tercinta, pernah bertemu dengan seorang tokoh spiritual, yaitu Raden Ngabehi Dirdjasoebrata di Kendal Jawa Tengah. Pada saat itu Raden Ngabehi Dirdjasoebrata mengatakan kepada Bung Karno, “ Nak,.. mbenjing menawi nagari sampun mardika, dhasaripun Pancasila. Supados nak Karno mangertos, sakpunika ugi kula aturi sowan dik Wardi mantri guru Sawangan Magelang “. ( “ Nak, nanti jika negeri telah merdeka, dasarnya Pancasila. Supaya nak Karno mengerti, sekarang juga saya sarankan menemui dik Wardi, mantri guru Sawangan Magelang” ). Setelah Bung Karno menemui Raden Suwardi di Sawangan Magelang, maka oleh Raden Suwardi disarankan agar Bung Karno menghadap Raden Mas Sarwadi Praboekoesoema di Yogyakarta. Di dalam pertemuannya dengan Raden Mas Sarwadi Praboekoesoemo itu lah Bung Karno memperoleh wejangan tentang Panca Mukti Muni Wacana dalam bingkai Ajaran Spiritual Budaya Jawa, yang terdiri atas Pancasila, Panca Karya, Panca Guna, Pancadharma, dan Pancajaya. Terlepas dari kecenderungan faham pendapat Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya, atau Panca Mukti Muni Wacana, jika dilihat rumusan Pancasila ( dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia ), beserta proses pengusulan rumusannya, dengan menggunakan kejernihan hati dan kejujuran, sepertinya dapat terbaca bahwa seluruh kandungan ajaran Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya dan atau Panca Mukti Muni Wacana itu termuat secara ringkas di dalam rumusan sila-sila Pancasila, yaitu : 1. Ketuhanan Yang Mahaesa 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. AJARAN MORAL UNIVERSAL Kelompok orang yang sudah mulai alergi terhadap Pancasila, sering mengira bahwa penghambat kemajuan bangsa ini adalah Pancasila. Pendapat itu merupakan pendapat yang sangat keliru, karena tidak disertai pemahaman yang menyeluruh tentang makna serta hakikat Pancasila. Pancasila itu ibarat pisau emas yang bermata berlian. Ditinjau dari bahannya, pisau itu terbuat dari logam mulia serta batu yang sangat mulia. Dan pisau emas bermata berlian itu sangat tajam. Kemuliaan dan ketajamannya dapat digunakan untuk apa saja oleh siapa saja. Pisau itu dapat digunakan untuk memasak, untuk berkarya membuat ukiran patung yang indah, untuk mencari air dan mata pencaharian demi kesejahteraan dan ketenteraman, tetapi dapat pula untuk menodong, bahkan membunuh. Pisau itu pun dapat dibuang, digadaikan, atau dijual bagi orang yang tidak mengerti nilai (value). Permasalahannya sangat bergantung pada manusia pemakainya. Seekor monyet, jika disuruh memilih antara pisang atau pisau emas yang bermata berlian tadi, pasti akan memilih pisang. Lain halnya dengan manusia yang memang menyadari akan harkat dan martabat kemanusiaannya. Manusia seperti ini pasti akan memilih pisau emas yang bermata intan itu, karena sadar akan nilai yang terkandung di dalamnya. Kalau toh pisau emas bermata berlian tadi berada di tangan monyet, paling digunakan untuk mencuri pisang dengan segala keserakahannya, setelah itu dibuang. Pancasila yang luhur itu selama ini berada di bumi pertiwi sering sekali mengalami nasib bagaikan mahkota emas bertatahkan intan, berlian dan permata mulia tetapi dipakai oleh babi-babi yang tidak berbudaya, atau monyet yang tak mengerti nilai. Manusia yang tak tahu nilai, ibarat makhluk yang sudah kehilangan sifat insani kemanusiaannya ( lir jalma kang wus koncatan sipat kamanungsane ). Kandungan Pancasila yang merupakan ikhtisar dari Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya memiliki kesesuaian dengan fitrah Ilahiyah yang termuat di dalam ajaran kitab suci Al-Qur’an. Nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila, walaupun tidak tertulis dalam bentuk rumusan, sangat sesuai dengan nilai-nilai keluhuran budi pekerti yang dimiliki, dijunjung tinggi, serta diamalkan sebagai landasan hidup oleh bangsa-bangsa maju yang berperadaban tinggi di dunia. Dengan demikian Pancasila ini merupakan ideologi yang bersifat universal. Di dalam Pancasila terkandung pula nilai-nilai sosialis religius, bahkan lebih sempurna. Tetapi sayang, nilai-nilai luhur itu nampaknya belum pernah termunculkan dalam kehidupan sehari hari, bahkan sering ditafsirmiring atau diselewengkan oleh oknum-oknum pemimpin, sehingga banyak orang yang meributkan atau mempermasalahkan/ mempertentangkan antara Pancasila dengan Islam, Pancasila dianggap kurang baik jika dibandingkan dengan faham Sosialis Religius, dan sebagainya. Pandangan-pandangan negatif terhadap Pancasila itu muncul barangkali karena prasangka bahwa Pancasila itu adalah identik dengan Sukarnoisme ( sosialisasi Pancasila ), atau Soehartoisme ( liberalisasi Pancasila ) seperti yang tercantum dalam materi Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila. Pancasila adalah Pancasila. Banyak orang berpendapat bahwa tanpa Pancasila bangsa-bangsa seperti di negara Amerika Serikat, di negara-negara Eropa, Jepang, Korea, Inggris, Australia, Malaysia, dan Singapura dapat maju dan jaya secara pesat, sedangkan di Indonesia yang ada Pancasila malah semakin mundur dan melarat. Bahkan orang yang berpendapat demikian itu malah mengutarakan juga bahwa dari segi moral dan akhlaknya pun, bangsa Indonesia ini kalah dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Pancasila. Di negara maju, seorang calon pemimpin harus bersih, suci dari cacat-cacat akhlak. Namun perlu kita cermati, di negeri pertiwi ini malah banyak pemimpin yang turut mendukung perilaku maksiyat. Apakah ini sesuai dengan nilai-nilai luhur sila Ketuhanan Yang Mahaesa, yang menjiwai keempat sila yang lain. Kalau kita menyimak tata upacara pelantikan Presiden Amerika Serikat, perlu lah kita mengakui bahwa Bangsa Amerika lebih menjunjung Tinggi Ketuhanan dibandingkan bangsa Indonesia. Sebelum upacara dimulai, pasti didahului dengan doa. Dengan demikian maka proses pengangkatan Presiden negara adi daya itu pasti diridlo Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga tidaklah aneh kalau bangsa tersebut mampu menguasai dunia. Di sisi lain, di Indonesia, doa selalu dibacakan di setiap akhir upacara, sehingga tidaklah mengherankan kalau bangsa Indonesia yang mengaku berketuhanan itu selalu nubyak-nubyak tanpa tuntunan di dalam setiap sepak terjangnya, dan diakhiri dengan keterlanjuran, penyesalan, dan permohonan maaf. Di dalam mata uang Dolar Amerika tertulis “ IN GOD WE TRUST “ di bagian atas, oleh karena itu kiranya tidaklah perlu heran kalau nilai mata uang dolar Amerika selalu tinggi dan mampu menguasai dunia. Mata uang Indonesia baru saja mencantumkan “Dengan rahmat Tuhan Yang Mahaesa”. Tulisan itu pun kecil dan terletak di bagian bawah. Bahkan sebelumnya kalimat yang tidak pernah tertinggalkan adalah “ Barang siapa meniru atau memalsukan,… dst “. Bukankah itu cerminan kadar ke Pancasilaisan bangsa yang mengaku berbudaya luhur ini ?? Sistem demokrasi di negeri kita masih sangat kental diwarnai oleh ketamakan akan kekuasaan, dan ketamakan akan harta. Cara-cara penyusunan konstitusi yang berbau mencari-cari celah pembenaran atas kehendak kelompok atau pribadi-pribadi tertentu, belum berorientasi pada upaya penyejahteraan rakyat, apakah sesuai dengan asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Benarkah sistem demokrasi/ sistem politik kita sudah merujuk pada Pancasila, sak jatine Pancasila ??. Benarkah sistem demokrasi kita sudah berlandaskan hikmah ( kebenaran hakiki, berlandaskan kejujuran ) demi kesejahteraan kehidupan rakyat ?? Perlu dicermati bersama, bahwa di Indonesia itu ada yang memformulasikan, atau merumuskan Pancasila secara formal, tetapi yang mampu dan mau mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari sangat-sangat langka. Sedangkan di lain fihak, di negara-negara maju yang lebih berperadaban, walaupun tanpa formulasi atau rumusan, Pancasila sudah merupakan budaya di dalam kehidupan kesehariannya, sudah melekat dalam jiwanya sehingga mampu membawa mereka ke dalam kemuliaan hidup diri dan negaranya. Empat orang pemimpin negara Republik Indonesia ini turun dengan cara yang kurang baik dan selalu berakhir dengan kesan negatif. Pengalaman ini perlu dijadikan bahan perenungan, apakah itu budaya Pancasila??? Bahkan sejarah pun mencatat, bukan hanya di jaman Republik saja, tetapi sejak kerajaan-kerajaan terdahulu di bumi Pertiwi ini, setiap pergantian kepemimpinan hampir selalu disertai berbagai kesan atau proses yang kurang baik. Keruntuhan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan negeri-negeri lain di persada Nusantara ini perlu lah kiranya kita jadikan bahan renungan dan tantangan. Benarkah di dalam sanubari manusia Indonesia ini masih mengalir darah Pancasilais ???

SERAT KAWRUH SANGGAMA


SERAT KAWRUH SANGGAMA Amarsitakaken patrap sarta mantranipun saresmi. Ingkang saged karaos marem tumrap wanita. Tuwin prayogi kadadosaning putra. Kaimpun dening : Raden Bratakesawa Ing ngajeng redhaktur Budi Utama ing Ngayogyakarta. Lare ingkang dereng dewasa kaawisan maos serat punika. TJETAKAN YANG KEDOEA Kawedalaken sarta kasade dening : TAN KHOEN SWIE ING KADIRI, 1927 ************************************************************* Bubuka Sampun dangu anggen kula gadhah sedya ngarang serat kawruh sanggama punika, amargi kala kula wiwit ngikat birahi ngantos wanci tumambirang : maos serat-serat gugubahanipun para sarjana ing jaman kina ingkang isi kawruh bab sanggama, kadosta : wedha asmara, nitimani, asmara gama, susila sanggama, lan sapanunggalanipun. Pangraos kula mboten gampil sagedipun inggal dipun mangretosi suraosipun dening saderek kula para mudha ingkang dereng kathah anggenipun dhahar jalaran serat-serat wau satunggal kaliyan satunggalanipun wonten ingkang geseh, tur panganggitipun sami kathah sesekaranipun sarta mawi seselang tembung kawi tuwin tembung monca sanesipun ingkang angel sagedipun enggal cumantheling manah. Nanging kala samanten niat kula wau dereng saged kalaksanan dening kaalangan ing pakaryan. Samangke kula sampun ngancik satengah sepuh, awon ngigur maosi maleh serat-serat kasebut nginggil cap-capan ingkang kantun kanthhil teka kathah temen ingkang pinanggih lepat ing pangecapipun ngantos andadosaken kalintuning suraos tarkadang malah tanpa teges, punika anjalari manah kula lajeng kagugah maleh, asreng ngarang serat punika. Menggah pangarang kula serat punika sayektosipun inggih namung ngimpun sarta ngethak-ethukaken karang-karangipun para sarjana wau, kula gubah kula runtutaken suraosipun kula pewah, pamanggih kula piyambak ingkang sasaged-saged kedah pinanggih ing nalar, kados karsanipun saderek kula para mudha ing jaman samangke. Panggubah kula serat punika ingkang kathah ngangge tembung jarwa wantah kemawon. Mila inggih radi ketingal lekohipun. Ing pangangkah namung sagedo cetha, ingkang maos gampil mangertos suraosipun, mboten langkung namung aksamanipun para nupiksa kemawon ingkang tansah kula suwun. Rampunging pangarangipun wonten ing kitha Kadiri, ing dinten ngakat legi, tanggal kaping 28 Pebruari 1926 tinengeran (prasa karonsih trusing ati) utawi 14 ruwah, warsa : be 1856 tinengeran (rahsa tinata ngesthi putra). Kathandan : ingkang ngarang N.B : Cap-capan ingkang kaping kalih punika, mboten namung kula lepasaken ingkang lepat ing pangecapipun kemawon : prasasat kula bangun malih, supados langkung cetha suraosipun. #### I. MULA BUKANING KAWRUH SANGGAMA Sampun kodrat priya punika manawi ningali wanita lajeng tuwuh manahipun remen, sengsem, mekaten ugi kosok wangsulipun, remenipun wau beda kaliyan remen ingkang tumrap dhateng barang. Sayektosipun lajeng kepengin sajiwa utawi salulut dening kodrat ingkang mekaten wau kita lajeng gadhah panganggep manawi ingkang Maha Kawasa pancen anglilani sarta paring dhawuh supados kula sadaya bangsa manungsa sami ambabaraken tuwuh mong kaisenipun marcapada. Sinten ingkang ngestoaken dhawuh wau sami pinaringan ganjaran kenceng : raos nikmat ing salebetipun tutik. Ananging sarehning manungsa punika beda kaliyan sato sanajan, bab sarasmi punika sampun sami saged nindakaken inggih kedah nganggeya tata karmaning sanggama utawi susilaning sanggama punika purwanipun wonten kawruh sanggama ingkang ugi winastanan, aji Asmara Gama. Asmara tegesipun sengseming cumbana. Menggah bakunipun ingkang kinajengaken dhateng ingkang ngagem aji Asmara Gama wau wonten kalih prakawis inggih punika : Tumrap dhateng rasaning wanita sageda wanita ingkang sininggama punika raos lega, rena, marem carem satemah mantep temen ambangun turut dhateng priya. Tumrap dhateng putra sageda apuputra ingkang kenging sinebut utawi jalaran saking punika. Mila aji Asmara Gama wau ugi kawastanan, Asmara Dwi Paedah, tegesipun kalih pigunanipun, rahsaning wanita tuwin putra. Saiba begjanipun manawi priya saged amengku garwa ingkang ambangun turut bekti ing laki, tuwin kagungan putra ingkang utami, sangsaraning sangsara manawi kataman kosok wangsulipun mila kainan sanget manawi priya mboten karsa marsudi sarta ngagem aji Asmara Gama punika. Kacarios menggah aji Asmara Gama punika ing kinanipun ingkang ngagem namung panjenenganipun para dewa tuwin para nabi, lajeng tumurun dhateng para sinatria ingkang linangkung, angsalipun aji wau sarana perkaos, kedah tinumbas ing tapa brata. Sang Hyang Giri Nata (Bathara Guru) duk jaman kina, Bathari yo sagedipun katarima pinaringan aji wau dening Sang Hyang Tunggal inggih mawi mesu puja brata jalaran taksih sereng marem ing galih kagungan putra sakawan mboten wonten ingkang pinunjul. Sasampunipun Sang Hyang Giri Nata ngagem aji Asmara Gama lajeng saged apaputra Sang Hyang Wisnu gugunganipun para dewa. Dados aji Asmara Gama punika pancen dede ngilmi sembarangan, mila mboten prayogi damel kangge mainan sayekti malati. Inggih punika : manawi panggilutipun mboten adadasar panggalih suci, resik, sisip sembiripun kesasar kerem dhateng patrap pratingkah lalangening cumbana tuwin raos kanikmatan kemawon satemah dados priya brancah boten pilih-pilih inggih bilahi yektos ngrisakaken jiwa raga mula saderek kula para mudha : den awawas den emut. II. PIRANTOSING CUMBANA TUMRAP PRIYA Pirantosing saresmi tumrap priya punika wonten ingkang katingal saking jawi sarta wonten ingkang dumunung ing lebet katarengaken kados ing ngandhap punika : 1. Kalam utawi dakar Kalam utawi dakar inggih pasta purusa, peranganipun wonten tiga inggih punika : 1). Otot ageng sakembaran jejer saes dhawuluh ing sanjata panganten, otot punika ing lebet ngrokos pindha jamur karang dados pirantos wadhah erah. Manawi nuju kothong : dakar empuk yen kilen erah dados atos saya kathah rahipun ingkang mili mriku saya mindhak atosipun kiyat kenceng. 2). Bolongan margi turas lan nutpah, dumunung ing sirahing dakar kapering ngandhap. 3). Urung-urung margi turas lan nutpah, kaprenah wonten saantawisipun otot ageng sakembaran wau kaperang ngandhap saestalantakipun sanjata panganten wau. Urung-urung punika pungkasanipun ingkang satunggal dumunung wonten ing sirah. Satunggalipun wonten ing poking dakar ugi ngrokos pindha jamur karang, manawi sampun kilen erah saged melar sarta atos. Titian kina anggenipun nyukani paparap dhateng dakar utawi kalam wau kapendhetaken asmanipun para dewa ingkang sinekti, kadosta : Sang Hyang Surasmara, Sang Hyang Purusa, sapanunggilanipun. Ingkang mekaten wau saking sangeting anggenipun ngaosi. 2. Palandhungan Palandhungan utawi konthol, punika wujud kulit awangun kantong saged melar sarta mangkeret limrahipun langkung cemeng tinimbang kulit ing saranduning badan. Ing lebetipun palandhungan punika wonten paringsilinipun kalih, jejer gumandhul wonten pokipun dakar mawi kalet-letan ing kendhangan. Ingkang kiwa limrahipun langkung alit katimbang ingkang tengen, nanging langkung landhang. Paringsilan punika gembuk-gembuk saged landhung sarta mangkeret, manawi tiyang saweg ngraosaken nikmating cumban, paringsilan punika dados atos sabab kalenanipun ing lebet kebak isi erah. Paringsilan punika peranganipun ing jawi kepara nginggil wonten amplokipun awangun lintah sarta wonten usus-ususipun ingkang mengkal-mengkol saes nglangi, ciyuting bolonganipun usus-usus punika namung sarambut pungkasanipun kempal dados satunggal kaliyan peh. Usus-usus punika dados urung-urung wedalipun nutpah saking pringsilan. Wonten ingkang nginten manawi tiyang kebincih punika boten saged jimak malih, nanging panginten punika lepat sayektosipun taksih saged namung kemawon boten ngedalaken nutpah, dados boten saged nganarki. Wunguning dakar punika boten sabab saking nutpah, inggih punika saking kilening erah kados ingkang sampun kapratelakaken ing ngajeng. 3. Badhening nutpah Nutpah utawi kama punika awujud yiyit warninipun pethak monda-monda. Gandanipun saemper kerikan balung utawi cingat. Wedalipun saking palandhungan wigunanipun kangge netesaken badhening manungsa. Menggah kadadosanipun nutpah utawi kama wau saking yiyit tigang prakawis. Inggih punika ingkang medal saking peh, saking purus, tuwin yiyit ingkang medal saking impes. Yiyit ingkang medal saking peh punika boten kenthel sarta tanpa gonad, wedalipun kantun. Dene yiyit ingkang medal saking purus sarta impes punika wedalipun dakar dados kenceng tuwin nalika ngraosaken nikmat. Yiyit punika pliket ugi tanpa gonda. Kempalipun yiyit tigang prakawis punika ingkang anjalari anggonda kados dene kerikan balung. Nanging manawi sampun kenging hawa, gonda wau sirna. Sarat manawi sampun garing warninipun jibles pethaking tigan. 4. Satwa mani maya Satwa mani maya : jarwanipun kewan kama, inggih punika kewan ingkang alit sanget ingkang dumunung wonten ing salebeting kama. Dumadosipun wonten ing pringsilan. Wiwit lare ngangkat birahi kinten-kinten umur 15 tahun, curesipun ing badan manawi tiyang sampun umur watawis 65 tahun. Satwa mani maya wau saking paringsilan lumember dhateng peh. Kamaning priya ingkang taksih kadunungan satwa mani maya, manawi saged gathuk kaliyan tigan badhening manungsa ingkang dumunung wonten ing wanita lajeng rumesep ing tiga wau apratistha ing jeneripun ing ngriku wanudya lajeng saged ing garbini. 5. Peh Peh punika wujud kekempalaning kanthongan alit-alit dados wadhahing nutpah ingkang badhe kawedalaken cacahipun wonten kalih, sisih kiwa kaliyan tengen dunungipun wonten ing saantawisipun impes lan usus jubur. Wangunipun kados poporing pistol, lumahipun kebak isi jentolan. Nutpah ingkang saking pringsilan sasampunipun lumampah anglangkungi usus-usus ingkang kados sawer nglangi wau lajeng kendel wonten ing epeh. Ing ngriku peh lajeng ngedalaken yiyit inggih punika lajeng dados kama ingkang medal nalika priya mungkasi cumbana. 6. Purus Purus punika wujud koyor angeng, warninipun pethak monda-monda, dumunung ing saantawisipun jangganing impes wadhah turas kaliyan poking dakar. Wangunipun memper jambu nanging gepeng, indhenipun katrajang ing urung-urung margi turas pramila manawi purus wau dados ageng, amargi saking sanget karem olah asmara, urung-urung wau dados kaslempit andamel pakewed manawi turas. III. PIRANTOSIPUN CUMBANA TUMRAP WANITA Pirantosing cumbana tumrap wanita punika ugi wonten ingkang katingal saking jawi, wonten ingkang dumunung ing lebet katerangaken kados ing ngandhap punika. 1. Parji utawi Pawestren Parji punika tembung Arab, tembungipun jawi pawestren, kawinipun baga, peranganipun : 1). Babathuk, wujud daging alus ing gajih, kabasakaken redinipun Sang Devi Venus inggih Sang Hyang Ratih. Milanipun anggajih sayektosipun minongka tatanggul supados pameteking priya duk kala cumbana boten angremekaken balung enem ingkang dumunung ing lebet, babathukipun lare estri ingkang sampun ngangkat birahi punika adatipun kathukulan rambuting prentel, trus mangandhap urut korining parji. 2). Korining parji inggih punika blewehanipun parji ingkang katingal saking jawi. Limrahipun mingkem adhames nanging wanita ingkang metdaging utawi ingkang sampun kerep ambabaraken putra boten makaten kawontenanipun. 3). Lambe ageng wonten ing lebeting kori ingkang jawi piyambak saestha wengku. Piranganipun lambe ageng ingkang jawi awujud daging kandel pojokipun ing nginggil gandheng kaliyan kuliting bathuk sangandaping pojok punika wonten dagingipun menthol kawastanan indreng. Lare estri jawi ingkang sampun umur 6 utawi 7 taun, pojokipun lambe ageng ing ngandhap dumunung ing kawet sacelakipun jubur. Manawi wanudya nglairaken jabang bayi ingkang ageng, perangan ing ngandhap wau asring suwek, nanging lami-lami saged pulih malih. 4). Kawuping parji kawastanan lambe alit inggih punika lambe ageng ing perangan lebet dados inggih gandheng kemawon kaliyan lambe ageng wau. Awarni daging alus malerah abrit dados pirantos nuwuhaken raos nikmat tumrap wanodya. Kuwup punika pojokipun ingkang satunggal dumunung ing ngandhap satunggalipun nyonthong manginggil awujud daging menthol berut-berut kawastanan purana utawi waga prana. 5). Purana utawi Waga Prana dados pirantos tuking kanikmatan tumraping wanita. Kadadosipun sarta lageyanipun boten beda kaliyan dakar, inggih punika saking otot-otot ingkang alus. Waga prana punika manawi kagepok wanita ngraosaken keri sarta nikmat kathah tiyang ingkang cawuh ambedakaken indreng kaliyan purana utawi waga prana punika. Ing serat bau sastra jiwa kawi : purana, waga purana, kaliyan indreng (itil) punika pancen kadamel sami. Ing tembung walandi inggih makaten, anggenipun mastani indreng punika kittelaar, tembungipun latin clitoris. Ing Kramers Woordentolk anggenipun nerangaken makaten : clitoris (latijn) kittelaar, vrowelijk orgaan der geslachtelijke prikkolbaarheid. Nanging mirit katranganan ing nginggil sayektosipun indreng kaliyan purana punika piyambak-piyambak, indreng : punika turutanipun lambe ageng, dumunung ing pojokipun lambe ageng ing sisih inggil dados ragi ing jawi. Sareng purana utawi waga prana : punika turutanipun kuwup (lambe alit) ugi ing sisih inggil dados dunungipun ragi nglebet. Ingkang saged nuwuhaken raos nikmat tumrap wanita sarta anggadhah ing watak keri manawi kasenggol (prikkelbaarheid) punika purana, indreng : boten. 6). Daging song. Ing ngandhapipun babathuk baga ingkang nglebet punika wonten dagingipun ingkang kawastanan daging song, dipun parabi Sang Hyang Lambira. Agengipun sami kaliyan mentholing bathuk baga. Song wau manawi kasenggol wanita karaos keri, song lajeng mekrok saestha kewan kintel manawi kasenggol, mekrokipun wau andadosaken karaos nikmat ing sakali-kalihipun (wanita lan priya) daging song kaliyan purana punika inggih sok jumbuh anggenipun mastani, mungkasa yektosipun kathah sanget bedanipun, purana punika daging menthol alit, song punika ageng : sami mentholipun baga, dunungipun langkung lebet malih tinimbang purana. Ing serat nitimani nyebataken manawi Sang Hyang Lambira (song) punika dunungipun wonten ing wurining purana, nanging punapa tembung purana ing serat nitimani wau ingkang dipunkajengaken indreng, punapa purana ingkang sebut ing wangka 5 ing nginggil punika : boten terang, amargi ing serat nitimani boten mratelakaken bab perang-perangan wau. 7). Margi turus, dumunung sangandhaping purana. Letipun dados pungkasaning margi turasing impes, ingkang nama impes punika kanthongan wadhah turas dumunung wonten sanginggilipun baga. 8). Pastiawa. Punika lenging parji. Manawi taksih prawan katutupan ing kendhangan alus kawastanan kulit prawan utawi beteng. Beteng punika wonten bolonganipun ciyut manawi katemben rinurah ing kakung : beteng wau bedhah sarta ngedalaken erah mila kenya ingkang saweg sapisan rinabasing priya punika karaos sakit (perih). Beteng wau ugi saged bedhah jalaran dhawah utawi kaplengkang kala alitipun. 9). Kuwung-kuwung. Inggih punika urung-urung saking pastiawa dhateng borining pranakan dumunung saantawisipun impes lan usus ageng ing jubur. Wangunipun saestha bumbungan nanging gepeng saya nglebet saya jembar. Adekipun boten jejeg lan boten sumeleh, inggih punika mayak, kuwung-kuwung punika awujud kulit kados babad saged melar mingkup sarta tansah teles semu kiner-kiner. 2. Pranakan Pranakan ugi kawastana wadhah bayi, dumunung saantawisipun impes kaliyan usus ageng ing jubur, sumeleh ing pungkasaning kuwung-kuwung, ing kiwa tengenipun dipun uwat-uwati kendhangan saestha lurub sarta otot gilik, adebipun pranakan wau ugi mayak nunggil sipat kaliyan pastiawa tuwin kuwung-kuwung. Pranakan punika wangunipun kados kalenthing, sarta bolonganipun ing nglebet kadugi namung isi wiji jiram pesel satunggal nanging manawi sampun wonten isinipun jabang bayi saged melar ngebat-ebati. Peranganipun wonten tiga inggih punika ingkang amba lendhuk kawastanan badan ingkang menggik kawastanan jongga, ing pungkasaning jongga kawastanan kesan utawi lenging pranakan gandheng kaliyan kuwung-kuwung, warninipun lesna punika kados silet ayam, wanita ingkang sampun nate ambabaraken putra, leng wau wonten tilasipun suwek wanita ingkang dununging pranakanipun lebet mongka pasta purusanipun kakung kirang panjang, boten saged puputra, amargi panyemproting satwa mani mayanipun kakung boten saged dumugi lenging pranakan. Makaten ugi manawi lenging pranakan wau kepepetan erah sasakit sasaminipun inggih boten saged puputra. 3. Sopanaan Tiga Sopanaan tiga punika talang tiganing manungsa, wujud bumbungan otot alus kados usus cacahipun kalih, kiwa kaliyan tengen gathuk kaliyan pranakan wonten ing lompongan ingkang wiyaripun namung cekap bobat satunggal talang tigan punika dados marginipun tigan ingkang dumunung wonten ing urita rentah lumebet dhateng pranakan tuwin dados marginipun kamaning kakung ingkang sampun lumebet ing pranakan badhe methukaken lampahing tigan wau. Tigan kaliyan kama wau manawi gathuk wanita saged anggarbini. 4. Uritan Uritan punika penggenanipun tigan badhening manungsa. Wangunipun bunder bligon warninipun pethak ing nglebet abrit sarta ngrokos pindha jamur karang, isi bayu pinten-pinten sami pluntiran, uritan punika dados timbunganipun pringsilan kaotipun : pringsilan anggenipun nuwuhaken kewan kama (satwa mani maya) wonten ing nglebet uritan anggenipun nuwuhaken tigan wonten ing jawi. Dunungipun uritan punika wonten ing pungkasanipun talang tigan. Tigan saking uritan badhe lumampah dhateng pranakan punika, boten saben-saben nurut ing talang tigan terus saged dumugi ing pranakan nanging mawi katampen ing trompet rumiyin, trompet punika peranganipun ing ngandhap bolong sarta ing pungkasanipun mawi gombyok kawastanan pranye. Gombyok wau terkadhang nutupi lenging talang tigan mila lampahing tigan wau sok sasar kecemplung ing bolonganing trompet ing ngandhap wau, terkadhang kaalang-alangan ing pranye, satemah boten saged dumugi ing pranakan. IV . PATRAPING CUMBAN KANTHI ASMARA GAMA Patrap utawi pratingkah ing saresmi punika warni-warni, kadosta : miring, anjebing, lenggah, mangku, ngadeg sukuning wanita dipun panggul, wanita wonten ing nginggil, sapanunggilanipun, ingkang murih sukaning galih, ananging patrap ingkang makaten wau sayektosipun kirang mikantuki tumprap salih-kalihipun. Sarta kenging kabasakaken kekathahen polah boten pasaja. Ing ngatasipun aji asmara gama, punika boten namung murih leganing prana kemawon inggih ugi amrih leganing rahsa sajati, mila kedah ngangge patrap pratingkah utawi tata kramaning sanggama ingkang prayogi (susila sanggama) sampun kadamel mainan kasukan. Menggah pratingkah ing cumbana ingkang mikantuki punika kacariosaken kados ing ngandhap punika : Manawi badhe matrapaken sacumban, punika utaminipun priyantun kawing kaliyan putri lenggah rumiyin ajeng-ajengan, ardaning driyanipun asrep-asrepa, ponca driya kaleremna, sawarni kados badhe muja semedi. Nunten astaning priya ingkang tengen anyepenga dariji manisipun wanita ingkang kiwa, lajeng kapijeta sawatawis supados wanita kraos manahipun gadhah greget saut pyur tratab, ngantos karaos ing jisimipun estri, titikanipun keketekipun estri mungel deg-deg, asring kepireng ajeng-ajengan, nunten kakung angasta agigirpun estri dumugi walikatipun tuwin angarasa poking karna ingkang wradi ngantos dumugi grananipun wanita. Tumunten angalapan pasipun estri, katariking napasipun kakung, ing batos nyipta angalap manahipun wanita wau. Lajeng angaras alarapanipun estri, sarta anyiptaa malih : ngalap warni, kala kuwan tuwin nyawanipun wanita wau sarana dipun aras embun-embunanipun, sadaya wau kedah katindakaken kalayan sabar sareh. Menggah anggenipun mawi patrap kados ing nginggil punika wau, saking pamanggih kula ingkang dipun kajeng ngaken makaten : sapisan, supados hardaning priyanipun priya boten ngombra-ombra, panggalih boten daya-daya, pikantukipun adamel dangu medaling rahsa, satemah adamel leganing prana tiwun prayogi tumraping putra. Kaping kalih, mawi angeningken cipta angalap manah tuwin nyawanipun wanita (aji asmara cipta), punika manawi katrimah nggih prayogi sanget. Awit saged adamel lega rahsa ning wanodya ingkang sajatining rahsa, pikantukipun wanita saged karaos marem carem lair batos. Kaping tiga, mawi mijet dariji, ngaras sapanunggilanipun punika minongka panggungah supados manahipun wanita saged karaos rahsanipun saged kabuh, pikantukipun garegeting wanita saya mempeng, dununging rahsa enggal cumawis. Satemah gampil ing pangrurahipun, sayektosipun bab patrap ingkang mongka pambukaning rahsa punika inggih kenging nganggep trap sanesipun makaten punika. Namung anggeripun boten sanget saru kados satataning sato, dene utaminipun anindakna aji asmara wanita kasebut ing wingking, mongka pambukaning rahsanipun wanita wau. Sasampunipun makaten, wanita lajeng karangkula, kasarekaken ing kajang sirah ingkang alon ririh, jengkuning estri kalih pisan katekuka : kasedhekusna manginggil, ragi kabenggang sawatawis, kempol karapetna ing pupu, tungkak karapetna ing pocong saestha kadamel nyagatki. Priya lajeng amatrapna sariranipun pribadi, patrapipun mangkurep suku kalih pisan kaslonyjorna ingkang rapet, padharan kaabena sami padharan. Jaja katumpangna payudara den ririh (anggah-anggah) astaning priya ingkang tengen kasedekusna, asta ingkang kiwa kabantalna ing cengelipun wanodya. Manawi sampun makaten priya lajeng amaos mantranipun aji asmara gama ing salebeting batos kadosing ngandhap punika : “Hong hyang-hyang kama jaya ratih, surap sara-surap sarining asmara, ulun mawisik wanita, satemah yumana kang rahsa, sing dayeng aji asmara gam, myang wiseseng paduka”. Bakda punika lajeng amaosa mantra malih, mongka panariking wiji ingkang utami, makaten : “Hong hyang-hyang dhada pratingkah, ulun manuhun lumeraheng wijining manusa wakang minulya, mokasuting ulun sing wiseseng paduka”. Sarampunging pamaosipun montra wau kenging lajeng miwiti nindakaken sanggama. Lebeting pas purus ingkang alon saking sakedhik, manawi pasta purus sampun dumugi ing kuwup lajeng kaangkah-angkaha sagedipun tansah anggo soka esong, pandedelipun ingkang ajeg lan alon-alon manut panjing wedalipun napas, ing salebetipun makaten bilih karsa angaras : angaras saantawising pipilan grana. Panggalintiring penthil kaangkah amurih kerinipun, thukuling raos daya-daya kedah tansah dipun perangi wontenipun namung sareh, ngarah-arah. Empaning sanggama kacipta amanggen wonten ing pucuking pasta purusa. Manawi song wau tansah kagosok estri karaos nikmat sarta keri, adat ingkang sampun kalampahan lajeng ngedalaken toya ingkang kados yiyiting mina. Ing ngriku kerinipun saya wewah, nyarambahi ing badanipun sakojur, gregeting karsanipun estri katawis saya mempeng, sautipun pastiawa karaos saya kiyeng, watakipun lajeng buteng, inggih punika lajeng palintiran ngulat-ngulet utawi damel solah bawa sansesipun, ingkang sayektosipun ambiyantoni solah ing pasta purus : supados nyenggol ing dununging prasanipun. Tumrap estri ingkang sampun kawical lenyeh ing kakung, wiwit sinanggama : sampun damel solah bawa, anggenipun damel solah bawa punika mawarni-warni, tanpa mawi taha-taha utawi rikah-rikuh, malah pangraosipun : solah bawanipun wau satunggaling wignyan ingkang saged damel sukaning kakung. Nanging satemenipun : pancen inggih, kathah priyantun kakung ingkang lamlamen dhateng solah bawaning wanita ingkang makaten wau. Dene tumrap wanita ingkang sae saha, solah bawanipun wau namung samadya kemawon : manawi sampun karaos keri sanget jalaran inggih rikuh manawi kadakwa lenjeh ing kakung punika wau. Ing wekdal wanita greget sautipun katawis saya mempeng wau, priya kedah nimbangana, inggih punika dedel sendhalipun pasta purusa ragi kakerepana sarta karosanipun kaajegna. Sasampunipun makaten sukuning estri lajeng kawudhara : salonjor, pupu karapetna sami pupu, dene pupuning priya kalih pisan inggih lajeng katumpangna ing pupuning wanita. Salajengipun bab pangaras sarta panggalintir penthil ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil utawinipun mawiya anyecep lathiningt estri ingkang ririh, sarta sarira kagosokna sami sarira ingkang waradin, manawi solah bawaning wanita sampun katawis saya buteng, kados bathara kala krodha badhe anguntal jagad mratandhani manawi sampun badhe amudhar prasa, inggih lajeng kapungkasana, sarana ngerepaken sendhal dedeling pasta purusa, adat ingkang sampun kalampahan boten dangu wanita lajeng mudhar prasa, mila sirahing purusa karaos kados dipun ameti ing lambening kenya gondhang, (gineget ngepuh kama). Inggih punika korining kayanganipun Sang Hyang Kamajaya binuka medal minongka rahsa pita. Tarkadhang asring kepireng swara mak cethut dening rosaning panggeget amargi saking leganipun, pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Dene tumrap wanita ingkang sae-sae, adatipun namung sasambat kapurih nyampuni, dening pancen sampun rumaos kalegan prananing rahsa. Dene utaminipun duk kala badhe mungkasi wau, manawi priya sampun karaos gumreget badhe ngelaken rahsa (kama), punika lajeng wiwit amegenga prasa, tancebing cipta ing gayuha utama. Manawi kama sampun medal pasta purusa katetepna den ngantos netep kakendelna panggosokipun ing ngriku lajeng amepeta ponca driya, eninging panggalih anggayuh utama kalajengna. Pikantukipun : manawi kasusupan wiji mongka lantaraning dumadi, badhe prayogi kadadosanipun. Wonten matih patraping cumbana ingkang saged damel leganing wanita, ananging priya sok boten betah, jalaran kedah ragi sawatawis dangu ing panggosokipun, patrap wau estri salonjorna bokong kaganjela ing kasuran alit supados baganing estri saged mangal, sukuning priya kapethangkongna, (kasedhekusna mregagah), padharan ugi kaabenna sami padharan jaja katumpangna ing payudara. Panggosoking pasta purusa dedel sandhalipun kabandulna manginggil supados sageda anggosok song, kridhaning bokonging priya sawatawis kaegol-egolna manangen mangiwa. Bab pangarsa paneceping lathi, salajengipun ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil. Patraping sanggama ingkang kasebut ing serat nitimani kados ing ngandhap punika wosipun : Kalamun pasta purusa, wus kiyeng kiyet santos, kwehning saya wus samekta, iku nulya katindakna, umangsah ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing bandayuda, nanging ta dipun prayitna, ing tendak aywa sembrana, gone bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya lega ning driya, wruh antawisipun waspada, jroning pasti kono ana, musthikaning rasa mulya, rineksa para jawata, karan Sang Hyang watapatra, utawa Sang Hyang gambira (song), dumunung wuri purana, yen tinempuh dening gada, watak keri prasanira, nuli babantune prapta, pipingitan ing jrobaga, ingaran sang hyang asmara, asisilih Sang Hyang Cakra, kang abi praya sarosa, wimbuh keri ngriming ngira, anarik daya ajunya, mring Sang Hyang purnama sangko utama Sang Kamajaya, pameting rahsa mangkana, srana ngagem mawi saya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solah hira, duk marwani lumaksana, karya pupusuking yuda, kwehning daya sanis kara, aywasi nerusa rosa, ing tindak kedah saronta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita, kalawamun wus sawatara, campuh ing pring lama-lama, papalu tumempuhira, pinindha upama gada, tinangkis ing bonda baya (tameng), saking rosaning panggada, kuwating panangkis sira, wekasan metu dahana, mubal sumundhul ngakasa, susumuke ngemu pega, kukus katut samurana, prapta tumanduking prasa, kekerining mengsahira, gumriming saya andadra. Gantya wau sang wanita, genya tadhah bonda baya, mubal wetuning dahana, sumarambah ing sarira, tan kuwawa anaenna keri gumriminging prasa, saya harda ngombra-ombra, wantu wataking wanodya, yen wus liwung kroda nira, ing budi datan saronta, sigra amusthi sanjata, warastra mongka pusaka, tuturunan sang jawata, ganjaran Hyang Girinata, piningit sajroning baga, yeka kanghru barunastra, sumembur angemu tirta, toya lir yiyiting mina, angalem pasta purusa, wauta sira sang pasta. Silem kineleming tirta, tan montra-montra riringa, ing solah saya gambira, pangeburing barunastra. Lir ombak samodra bena, gangge lumut satepinya, samodra karoban toya, ngempel ngumpu ? Lir tinata, babarisa warata bala, kadi gelar cobra banyua, bobondhot bundheting pasta, nging tan surut saya rosa, liwung pamukireng yuda, mangkya gantya cinarita, ramening prang bratayuda, nulya kono ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa asung samita, wiyosa kadya mangkana, eh kulup sira sang pasta, po mangger dipun prayitna, panarik sendhaling gada, maju miwah undur rira, papane lunyu sadaya, wus tan kena tinulaka, wit iluning barunastra, saya adres panemburnya, dene gon malumaksana, lamun lena yekti ina, yen kaplesed angsahira, rebah nindhihi gada, katikel dadya rubeda, ing jro aran roga brata, pileg ing kadadeyannya, lan kulup weruha, adat wataking wanodya, yen wus ngedalaken tirta, kang kadi yiyiting mina, gumriminge saya harda, mempeng sereng ngireng prasa, kawistara sarapira, kiyat kiyeng sariranya, sawonda kejeng sedaya, dene lamun wus mangkana, sira adar beya sedya. Tutulung mring mengsah ira, tumraping asmara gama, tan liya amung wisaya, silahing pusta purusa, sinengkakna pamukira, tempuh pamukuling gada, kang ajeg lan den kerepna, kalawan dipun waspada, amawasa ing sasmita, adat wantuning wanita, yen wus liwung pamukira, nulya kagawe lelewa, pratingkah solah ingkang ga, wit saking kurang prasaja, sajatine karsanira, biyantu solahing pasta, kinen nuju amrenahna, mring dununging prasa sira, kang supaya tinrajangnga, sinondhal pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lama, wanita amudhar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyodol pucuking pasta, iku saka kira-kira, laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara. Jineking Hyang Kamajaya, aliya tondha mangkana, ing sayekti kawistara, kawawas sawarna nira, ingkang ga sakojur wanda, anglir kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anandhing enaking rahsa, sasambate melas sarpa, karya trenyuh ing wardaya. Patraping cumbana ingkang kawarsitakaken ing nginggil punika wau kenging dipun wastani sampun nyekapi, liripun dene sampun seged damel leganing wanita, pratondha angganipun ngalumpruk marlupa yayah kaoncatan yitma. Ingkang prelu, ing salebetipun saremi, wau priya kedah amawasa ulat liringing wanita, tuwin inggih amawas sariranipun pribadi. Manawi panggalih sampun karaos lega, maren sarem ing salih-kalihpun upami dahahar makaten sampun karaos tuwuk prayogi kapungkasana saperlunipun, inggih punika nalika wanita mudhar prasa wau priya nyarengana wedalipun kama. Nanging manawi liringing wanita sanajan sampun wudhar prasa : nanging sajakipun dereng patosa lega, upami dhahar makaten taksih kedah tanduk utawi manawi priya pribadi ingkang rumaos dereng lega, inggih sampun anyarengi ngedalaken kama, dados wanita mudhar prasa piyambakan, dene manawi priya karaos kelayu badhe tumut mudhar prasa (ngedalaken kama) kedah dipun ampet kalayan tahan, sarananipun ngampet makaten : Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun ngantos kadamel lega, tegesipun : manahing priya sampun kadamel lega, angenget-angeta gelanipun, pasta purusa kakendelna rumiyin wonten ing jawi utawi wonten salebeting kuwup gumantung seneng parengipun panggalih. Manawi sampun ragi aring, raos kelayub dhemudhar prasa wau sampun ical, kenging tumunten kalajengaken malih, nanging sampun grusa-grusu, sampun daya-daya, awit sang wanita wau sariranipun marlup, mila kedah dipun arih-arih, bok manawi kapareng dhangan ing panggalih. Priya kedah angempakna tembung manuhara, manis sedhep ing wicara, den bisa nuju prana, angatingalna katresnanira. Manawi sampun wonten antawisipun kepareng, patrap pratingkahipun inggih tan prabeda kados ing nginggil, sang wanita kagugaha kerining prasanipun, adat ingkang sampun kalampahan boten antawis dangu wanita lajeng pulih malih kakiyatanipun, tandanmgipun kados raseksa badhe amangsa daging. Ing ngriku priya ingkang prayitna, kenging lajeng dipun kerepi sendhal dedeling pasta purusa, sarta lajeng angedalna kama; nyarengi pamudharing prasanipun wanita, dados wanita mudhar prasa kaping kalih, priya sapisan. Ing serat paniti sastra, gugubahanipun bagawan palasara ingkang sampun dipun jarwakaken dening Sang prabu Jayabaya (*) ing bab 85 nyebutaken makaten : menggahing sanggama, tiyang jaler lan punika saminipun pawestri, mila pangandikanipun dewi drupadi : boten wonten pawestri tuwuk ing kakung. Nanging ungel-ungelan punika sayektosipun tumrap priya ingkang boten ngagem aji samara gama. Manawi priya saged nguja karsaning wanita kados ingkang kapratelakaken ing nginggil nika, wanita inggih saged karaos tuwuk sayaktos malah kacariyos tuwukipun wau sagen kangge ing salebetipun saminggu. Kacariyos katrimahipun aji asmara gama ingkang makaten punika, wanita karaos angsal sarining kanikmatan ingkang linangkung, sarta tansah enget salaminipun gesang dhateng tanduk solah bawa tuwin warninipun kakung, sanajan tebih inggih tansah katingal gawang-gawangan tuwin boten kasupen raosing kanikmatan wau. Mila priya ingkang sampun widagda dhateng aji asmara gama wau, sanajan mengku pawestri ingkang lejeh pisan insya Allah saged malik dados narimah, manut miturut sapangreh ing kakung, rumaos boten saged pisah. Manawi wonten alangan pisan, mongka estri wau sinanggama ing liyan kakung, ing salebeting cumbana wau tansah karaos cuwa, gela, sarta kengetan wawentahan dhateng raosing kanikmatan nalika sinanggama ing kakung ingkang undhagi aji asmara gama wau, dening priya beda sanget raosipun awit sang widagda asmara gama wau, boten namung saking sagedipun dateng bab patraping sanggama : anuju prasaning wanita kemawon inggih saking katarimah anggenipun nyipta ngalan manah tuwin nyawanipun estri wau dados wanita karaos kalengan sanget rahsanipun sajati. Pancen inggih boten gampil nindakaken aji asmara gama punika, nanging wonten babasanipun : sapa temen-temen: tinemu. Dados manawi wonten priya karsa cumbana sarana roda paksa utawi namung kangge mainan sasaminipun punika boten kalebet ing wawarahipun kawruh sanggama punika. Manawi priya sampun widegda sayektos nindakaken aji asmara gama makaten punika, sanajan pasta purusanipun alit utawi ageng, celaka, panjanga, sampun sami kemawon : saged damel suka renaning wanita. Nanging priya ingkang dereng saged nindakaken aji asmara gama : boten makaten, manawi pasta purusanipun alit : wanita karaos cuwa, manawi ageng : karaos sebab, yen celaka karaos kemba, yen panjangka raos sakit, dene manawi cekapanan ageng sarta panjangipun sanajan wanita sanged karaos sekeca, nanging inggih boten saged karaos lega. Dene cumbana ingkang ngantos dangu wekdalipun manawi priya dereng widagda aji asmara gama punika malah adamel anyel manahing wanita. Wonten sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi citra tuwin saniranipun wanita punika perang pinten-pinten warni, wonten namanipun piyambak-piyambak punika manawi sinanggama inggih wonten kawruhipun piyambak-piyambak anggenipun ambukani (miwiti) nglebetaken pasta purusa, amrih enggal kabuka rahsanipun, nanging bab punika kajawi angel anggenipun mastani utawi andunungaken selehipun satunggal-tunggaling citra wau, tuwin sagedipun apal patrapipun miwiti, sayektosipun patrapipun wau inggih namung sakedhik sanget bedanipun kaliyan ingkang sampun kajarwa ing nginggil, bakunipun patraping sanggama punika namung kedah amuriha keri prasaning wanita, makaten salajengipun ngantos wanita mudhar prasa, ing ngriku priya kedah waspada ing semu, duk kala wanita badhe mudhar prasa wau, pasta purusa bedah ragi sineru sendha dedelipun, manawi wanita sampun mundhar prasa, priya anyrengana ngedalaken kama, pasta purusa katetepna ngantos pokipun dumugi ing kuwuping parji tuwin sirahipun dumugi ing lesaning pranakan lajeng kinendelan ing ngangosokipun, ing ngriku pucuking pasta purusa karaos kados dipun ameti ing lambe keyong, inggih punika wiwaraning wanita angepuh kamaning priya, manawi kaleresan wahyaning mongso kalasang wanudya lajeng saged anggarbini. Adatipun sakaliyan senggoring napas saderengana sarta mawi gonda ambeting hawa arum angambar pindha ganda sekar melathi ingkang dhedheng ambabar sari, mretandhani tumruning cahya adi mulya dhateng guwa garbaning wanita alantaran priya. Para jajaka purun ingkang kirang seserepan sami mastani lesaning pranakan ingkang warninipun kados silit ayam punika ; kenthos sarta sami nginten manawi punika dununging prasanipun papesti. Mila manawi cumbana ngarah sagedipun sirah ing pasta purusa tansah nyenggol ing lenging pranakan wau sarana dipun tetep-tetepaken, panginten punika boten leres, awit lenging pranakan punika manawi kapetel pawestri karaos pegel kirang sakeca, nanging manawi wanita pinuju mudar prasa monga lenging pranakan wau kapetel ing sirah ing pasta purusa (dipun tetepaken) punika wanita karaos marem sanget, lega, tuwuk, anggeripun boten keseron ing pametelipun. Wonten malih sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi wanci wiwitipun wudharing asmaragama tumrap wanita punika boten sami, miturut beda-bedaning kukulitanipun wanita. Nanging bedaning wanci wau boten kathah kaotipun, namung jam-jaman sedaya wanci dalu. Pancen prayoginipun cumbana punika inggih wanci dalu, kiwa tengenipun tengah dalu ngantos dumugi bangun enjing, awit ing wanci mau kajawi sirep tiyang, kawontenanipun wiji: pinuju pupul manawi dados putra wahanipun badhe kandel wawatekanipun, manawi wayah siyang kawontenanipun, manawi wanci siyang dening soroting suryo, manawi dados putra wahannaipun tipis wawatekanipun. Ing sederengipun cumbana utaminipun sampung ngantos sare rumiyin ing sakalih-kalihipun. V. NGAGEM AJI ASMARA GAMA KEDAH MAWI LAMPAH: CATUR BRATA Sadaya ngelmu punika katarimahipun kedah dipun rangkepi laku (lampah), makaten ugi ngelmi asmaragama punika inggih kedah mawi lampah. Dene lampahipun wonten kawan prakawis (catur brata) kados ing ngandap punika : Lila, inggih punika lila dhateng kalong-longan, tegesipun nuruti sapa nedhanipun estri. Narima, inggih punika narimah dhateng laladosan tuwin cawisanipun estri. Temen, tegesipun boten remen cidra, anuo lena ing patembayan. Sabar, tegesipun boten sugih duka, para apura ing kalepataning wanita. Lampah kawan prakawis ing nginggil punika manawi katarimah, saged amewahi dayanipun aji asmara gama, inggih punika wanita saged kadunungan tresna, mantep, sregep, tumemen nguja sakarsaning priya. VI. RUBEDANING CUMBANA SARTA PAMBENGKASIPUN Ingkang prelu kedah sami dipun engeti, manawi badhe nindakaken sacumbana punika : panggalih kedah sabar, saronta, sampun daya-daya lumaksana, angentosana manawi sang pasta purusa sampun kiyat kiyeng, santosa. Manawi dereng kiyat santosa saestu, mongka lajeng sineru lumaksana, punika asring ambalenjani neng wiwara, panggalihing priya dereng lega, sang wanite dereng mudhar prasa, kesaru wiyosipun Sang Hyang Kamejaya. Ingkang makaten punika, kajawi priya piyambak manggih cuwa, inggih cinedaka batosan dening wanita, amargi tiwas karaya-raya wawadi binuka, tibakipun boya montra kadamel lega, malah manggih gela, cuwa. Kacariyos wanita ingkang sampun karaos keri murinding mongka dereng ngantos mudhar prasa lajeng dipun sampuni, punika kajawi cuwa sanget manahipun inggih karaos pegel boyokipun ngantos pinten-pinten jam dangunipun, arata, rak mesakaken. Kathah para mudha sami remen ngangge jampi awarni galepungan utawi lisah wonteng ing pasta purasanipun, supados kuwawi sacumbana dangu, punika saking pamanggih kulo kirang prayogi, awit danguning cumbana wau lajeng boten timbang kaliyan kikiyataning sarira, liripun manawi sarira ringkih mongka lajeng sinengka kangge cumbana dangu : jalanan ngangge jampi wau, punika ngrisakaken sarira, tur terkadhang jampinipun wau inggih dereng katenan manawi boteh mawi dat ingkang kirang prayogi tumrap kasaraning sarira. Punapa malih danguning wanci wau inggih dereng mesthi damel renanning manahipun wanita. Pawestri manawi sinanggama ing kakung ingkang dereng lebda dhateng aji asmara gama, danguning wanci wau malah adamel sakit, sanajan sinanggama apinten-pinten jam dangunipun. Wanita angel sagedipun mudhar prasa, (ngedalaken rah sapita), malah wewah anyelipun, sukani renaning wanita punika boten saking danguning wanci, inggih punika sidagda ngulah ing sanggama tuwin waskitha mawas kedhep liringing netra, inggih punika ingkang kawastanan kakung undhagi aji asmara gama. Mila para mudha boten prayogi ngagem jampi-jampi kasebut nginggil. Dene sarana ingkang prayogi punika inggih sabar, sareh, boten daya-daya punika wau. Sarta panggalih kedah ening, bening, awas, eling, pikantukipun : Eneng, adamel dangu wedaling rahsa, angandelaken wiji, manawi dados putra badhe panjang yuswanipun. Ening, saged karaos nikmat manpangat, ambeningaken wiji, manawi dados putra badhe kadunungan watek guna, kawasa. Awas, saged priksa ulat liring wanita tuwin awon saening wiji. Eling, enget dhateng wawadosipun wanita tuwin enget amrenah wiji ingkang awon. Samangke nerangaken rubedaning cumbana. Menggah rubedaning cumabana punika wonten pinten-pinten bab kados ing ngandhap punika : Manawi sariraning priya saged kataman ing arip, sakit, luwe, tuwin susah. Milanipun manawi priya saweg kapan dukkan ing rubeda kawan prakawis wau inggih prayogi sampun nindakaken sacumbana. Manawi priya cumbana kaliyan wanita ingkang prasaning rahsa boten tunggil bongsa. Kadosta manawi lalawalen kayiyan wanita wredadha, satemah panggalih kapandukan ing raos engah, gela, cuwa, kemba. Manawi tawanan kaliyan wanita ingkang kuciwa ing warni, penggalih lajeng kataman ing raos ewa, merang. Menawi lawanan kaliyan estri ingkang awon snget gandanipun satemah panggalih kadunungan raos neg, geg, geg mila prayoginipun priya milih wanita kagem garwa punika ingkang ngatos-atos, kedah ingkang nunggil bongsa prasaning rahsa wau. Manawi priya boten kapadhaning karsa ing salebeting cumbana. Mila prayoginipun priya sampung grusa-grusu : cumbana sarana roda paksa, pangarih-arihipun den aririh, pamilutipun den mamalat prana, rinungruma ing sabda rum sampun ngantos purunipun saresmi wanita wau namung jalaran ajrih ing pameksa sasaminipun kedah sarana seneng parenging panggalih. Manawi pasta purusa dereng kiyat santosa lajeng sineru lumaksana, kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil, mila prayoginipun manawi pasta purusa wau dereng kiyat saestu, sampun ngantos katindakna sacumbana rumiyin poma den sabar. Menggah rubeda wangka : punika pancen kerep sanget dipun alami dening para mudha ingkang kirang sabarana, menawi priya kataman ing rubeda wau, panulakipun makaten : kados ingkang kasebut ing bab patraping cumbana manawi priya badhe kelayu mudhar prasa. Ing salebetipun kendel wau priya kedah amumulya kridha, tegesipun amumulih gagas, osik, anggelengna prasa tuwin rahsa. Manawi katarimah, sapandurat kemawon, prasa tuwin rahsa wau saged gumeleng satemah lajeng saged tumindak malih ingkang tan sangsaya, nanging tinimbang makaten inggih prayogi ingkang sabar punika wau. VII. PANGRUKTINING SARIRA Wonten sarjana ingkang kagunggan pamanggih, para priya ingkang matekaken aji asmaragama punika perlu sanget dhahar : dhadhaharan utawi jampi ingkang gadhahi daya benter tumraping sarira, kadosta : ulam menda mawi bumbu marica pala, tigan ayam mawi madu tuwin marica, sasaminipun, utawi malih kathah para mudha ingkang sami remen ngunjuk jampi bangsanipun arak supados kiyat, punika wau sadaya menggahing kula ingging kirang condhong awit dhadhaharan utawi jampi ingkang kapratelakaken wau, dayanipun ingkang ageng namung prakawis kiyating sanggama serta ngindhakaken raos kepengin cumbana, tundonipun lajeng dados kakung ingkang barancah karem dhateng cumbana; satemah adamel risaking sarira, prasasat anggege pejah, jalaran kama punika kadadosan saking sari-sari saking otot ingkang alus-alus miwah sungsum, milanipun priya ingkang sanget karem ilah langenning asmara punika adatipun sok kataman ing sasakit ngethok, ngeres, linu, pegel suda paningal, sasaminipun sarta inggih kenging kawastanan ngecer-ecer satwa mani maya, wiji badhening manungsa, ingkang tamtu badhe angsal bebendu saking ingkang maha kuwasa. Kacariyos cumbana punika prayoginipun kerep-kerepipun ing salebetipun saminggu namung sapisan langkung saking saminggu saya prayogi. Dene ingkang prelu kedah dipun jagi punika bab kasarasaning sarira, sarananipun resikan sampun tumandang ingkang sarwa nyengka, (langkung saking ukuran) tuwin adhahar dhadhaharan ingkang prayogi tumrap sarira, kadosta : peresan lembu, tigan ayam, sekul saking uwos ingkang taksih wuluh, kacang ijem, sayur-sayuran, sapanunggilanipun, bab punika para nupiksa tamtu boten kakilapan, manawi karsa ajajampi jawi, para sepuh paring piwulang, kacariyos lempuyang punika saged nuntumaken urat-urat ingkang lumempit uwi katilap, dene unjuk-unjukan ingkang prayogi punika : bonggoling nampu. Kaabennan oyoding lempuyang, oyoding kunir, oyodhing sedhah, oyoding rumput teki tuwin oyoding nampu punika carub dados satunggal kagodhog ing toya ingkang ngantos tanah, toyanipun kakantunaken sapalihipun. Sadaya ingkang saged ngindhakaken raos kapengin saresmi punika saking pamanggih kula malah prayogi sanget dipun singkirna ing sawatawis, kadusta kakathahen wungu, kakathahen eses, (udud), ngunjuk kopi kakathahen dhahar lombok, sasaminipun ingkang adamel benter raosing sarira. Pasta purusa ingkang waras wiris punika saking pamanah kula boten prayogi dipun rekadaya : dipun unjuki jampi-jampi ingkang murugaken kirang kiyet, kuwawi saresmi dangu. Awit dedehiyenging pasta purusa tuwin danguning wanyahe cumbana punika ingkang saged damel lega rahsaning wanita, manawi priya dereng saged susilaning sanggama. Ingkang murba wisesa anggenipun maringi gawuhan saranduning angga kita tamtu sampun mawi ukuran kikiyatan ingkang timbang kaliyan pigunanipun, amurih kiyating pasta purusa tuwin danguning cumbana, boten wonten sarana malih ingkang prayogi, mikantuki, kajawi namung saking sabaring panggalih punika wau. Dene ingkang prelu tumrap para mudha punika namung sampun ngantos tumindak utawi dhahar dhaharan ingkang saged ngendhokaken pasta purusa, kadosta : kelan terong, eses mawi, uwur kalembak pucuk, sapanunggilanipun, sampun lenggah ing papan asrep andhodhok kedangon, malumpat wiyar, sadaya punika saged ngendhokkaken purus. Nanging manawi priya pancen kataman ing sakit kirang kiyat pasta purusanipun inggih punika peluh utawi melur, punika inggih prayogi dipun jampeni ing saperlunipun, adatipun priya ingkang kataman sasakit makaten punika, manawi boten kenging alangan sanesipun, jalaranipun saking karem asmara ingkang ngantos langkung saking taker. Jampinipun : kedah cegah sanggama rumiyin ngantos samantunipun pungu sarta siram saben enjing, ebah ing sarira ingkang ajeg, dhahar dhadhahran ingkang sarwa empuk sarta andamel kiyat tumraping sarira, wosipun sarira kaliyan panggalih kedah tansah dipun seseger. Ingkang langkung prayogi inggih punika nyuwun pitulunganipun dhokter tuwin mituhu ing sapitedahipun. VIII. TUMURUNING WIJI INGKANG WINADI Kacariyos malebetipun wiji punika anyarengi lebeting napasipun bapa, Nunten umineb wonten ing utek lajeng rembes dhateng panon, inggih punika sarining utek ingkang manggen wonten salebeting menika, wiji ing sasampunipun wonten ing ngriku kawawa manuksama ing pramana, sarta kawawa amor sarasa, rasaning pramana andayani saeka karsa, nunten anarik daya serening sacumbana. Punika saged mewah muncaring pangeksi, dene manawi linantur dados batur, lahiripun saged mahanani putra. Menggah badhe kadadosanipun putra wau ing tembenipun punika manut empaning cipta sarta urubing pramana wau. Awit duk kala wau wiji sumusup ing pramana lajeng nunggil urubing pramana, punika upami tetedan : sagreneking ciptanipun wau minangka bumbu, urubing pramananipun minangka bau. Bumbu manawi sampun kaulet ing bau, raosipun lajeng kempal, dene matengipun kadah wonten ing pabrik ingkang sakalangkung premati, dumuning guwa garbaning rena. Kawastanan yitna maya. Tanda yektinipun manawi kadadosaning putra wau miturut empan tancebing cipta nalika sami sacumbana pupu kiran utawi wawatekaning putra punika ingkang kathah memper kaliyan yayah renanipun, jalaran ing nalika papasihan wau tancebing cipta ing sakalih-kalihipun sami kadunungan welad tuwin tresna. Nanging terkadhang pupu kiran utawi wawatekaning putra wau memper kaliyan kaki nini, sanak sadherek, tiyang ingkang sanget dipun tresnani utawi sanget dipun gethingi ing yayah renanipun. Punika sababipun inggih saking tancebing ciptanipun yayah rena duk kala saresmi wau saweg tumuju dhateng kaki nini, sanak sadherek tiyang ingkang dipun tresnani utawi dipun gethingi wau. Milanipun manawi sami cumbana kaliyan garwa dipun ngatos-atos, sampun ngantos kaselanan cipta ingkang badhe mahanani kirang prayogi kadadosanipun, leres sanget para sepuh sami paring wasita wanti-wanti dhateng putra wayah : manawi mentas saking kekesahan, ngabotohan, kaget, gumun, sasaminipun sampun ngantos cumbana kaliyan garwa, ingkang dipun kawekani : bok menawi ing salebetipun sacumbana lajeng kagagas punapa ingkang mentos dipun sipati kala wau. Bab wahananing wiji miturut daya tancebing cipta punika, mila boten aneh manawi putranipu sujanma ingkang hambek panandhita wonten ingkang boten dados abahan, anakipun tiyang ingkang karem lampah maksiyat dados tiyang ingkang utami. Awit sang hambek pinandhita wau duk kala saresmi kaliyan garwanipun, bok manawi saweg kaselanan cipta ingkang adi. Inggih punika lenggahipun babasan : bangsa punika madosi bangsanipun (soort zoekt soort). Nanging menggah lalampahanipun sang hambek pinandhita kaliyan tiyang ingkang krempah maksiyat mau punika kenging kawastanan saweg kawinujan utawi dumadakan (nyebal). Manawi adatipun: tiyang ingkang kulina ulah puja brata punika yekti kathah kaengetanipun, tancebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang utami. Tiyang ingkang remen lampah maksiyatan punika tancebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang kirang prayogi wusana dadosipun putra inggih sami mirib kaliyan tiyang sepuhipun, babasanipun : kacang boten nilar lanjaranipun. Wonten malih katrangan bab dayaning cipta ing salebetipun sacumban, kacariyosaken makaten : manawi nalika sacumban punika serenging priya dumunung wonten ing priya, punika manawi ngleresi wahyaning mangsa kala saged dados putra, badhe mahanani putra estri amargi serenging driya wau prasasat anyipta putri ingkang endah ing warni. Kosok wangsulipun manawi dados putra mahanani putra kakung ingkang kathah-kathah, bapa punika tresna dhateng anak estri, biyung kathah tresnanipun dhateng anak jaler, biyung ingkang nyipta anak jaler punika wau. Ing serat widya kirana (*) amratelakaken miturut suraosipun serat jitab sara, karanganipun balawan palasara ing wukir martawu, bab wijanganing wiji punika kados ing ngandhap punika : Manawi wiji wujudipun kandel, ing tembe badhe mahanani putra kandel manahipun, manawi tipis inggih tipis manahipun, yen wiji wau ageng, mahanani budi jembar, yen alit yekti rupah budinipun, inggih wiji wau mancorong, badhe mahanani budi ayeman, bilih besem inggih badhe mahanani watak sungkawan. Manawi cumbana ing wanci siyang, ingkang tamtu wiji wau tipis amargi pramana nedhengipun amer, yen wanci dalu kandel amargi pramana nedhengipun pupul, mila utaminipun cumbana punika ing wanci akiring dalu dumugi bangun enjing. Bab wahananing wiji miturut dhateng ingkang andarbeni daya panggendeng, kapratelakaken kados ing ngandhap punika : Manusa ingkang saweg tuwuh tancebing cipta welas asih, ingkang tamtu urubing pramana warni pethak sumirat biru amaya-maya, mong kalajeng kataman eneng, punika lajeng kawawa narik wiji, ingkang sumusup inggih sami kaliyan urubing pramana wau, ing tembe manawi mahanani putra : sarwa jatmika, alus kabudayanipun asih welasan ananging kirang panggraitanipun. Manawi manungsa saweg katuwuhan tancebing cipta : rila, legawa, murubing pramana tuwin wiji warni jene sumirat ijem ing tembe badhe mahanani putra berbudi, lantip pangraitanipun kajen sasamining tumitah. Manawi tancebing cipta pinuju mardika budayan kurubing pramananipun tuwin wiji : abrit ambaranang, ing tembe manawi mahanani putra : limpad pasanging panggraita, wasis ing pamicara sarta emutan ananging cugetan manah. Manawi manungsa saweg tuwuh tancebing cipta runtik sapanunggilanipun ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni cemeng meles ing tembe manawi mahanani putra, santosa dhateng kaawonan panas baranan tur bodho dhateng kabudayan. Manawi saweg tuwuh tancebing cipta methuthuk gumunggung, rumaos kaleresan sasolah bawanipun urubing pramana tuwin wiji : biru muyeg sumirat amarakata, badhe mahanani putra sae manahipun sarta andarbeni karilan ananging sanget bodho. Manawi saweg tuwuhan tancebing cipta drengki, urubing pramana tuwin wiji warni wungu sumirat ing tembe badhe mahanani putra andaluya, dora ing pamacara, remen pandamel ngiwa, asring benging sasakit gendheng tuwin wuta. Manawi saweg tuwuh tancebing cipta tarima, urubing pramana tuwin wiji : ijem ungu-nguwung, ing tembe manawi mahanani putra hambek apura paramarta, rila, terima, legawa. Manawi sujana makulina nungku puja brata aish sasamining dumadi, hambek paramarta, temen narima, ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni ijem nem munycar maya-maya, ing tembe menawi mahanani putra : wicaksana, lepasing pambudi langkung saking sasaminipun manungsa, saged mengku darajat ageng. Sarehning wiji punika bangsanipun alus dados saged dipun priksa inggih kedah sarana alusing pandulu, inggih punika saking eninging panggalih, sirnaning karsa, sarehing panggonda, lereming ponca driya, jatmikaning solah bawa. Ing ngajeng ugi sampun kapratelakaken ing salebeting sacumbana punika panggalih kedah eneng, ening, awas, eling. Pikantukipun. Eneng : adamel dangu wedaling rahsa tuwin ngandelaken wiji. Ening : saged karaos nikmat manpangat tuwin ambeningaken wiji. Awas : saged pariksa awon saenipun wiji ingkang wekdal punika. Eling : inggih punika enget amrenahaken wiji ingkang sae utawi nglebur wiji ingkang awon, manawi wiji ingkang sumusup wau sae, kaprenahna punapa samesthinipun, sagedipun katampen ing lenging pranakan, manawi wiji ingkang sumusup wau awon, kedah kalebur sarana santosa, sampun ngantos korup nuruti sengseming karsa, inggih punika kedah kasilipaken mangandhap utawi manginggil utawi kawutahaken wonten ing jawi kemawon, wosipun sampun ngantos kamaning priya wau katampen lenging pranakan .(*) IX. PANUNGGILANIPUN AJI ASMARA GAMA Aji asmaragama punika wonten panunggilanipun pinten-pinten samara, pararawung kridha sami yasa nama piyambak-piyambak, ing ngandhap punika katerangaken namung ingkang kamanah prelu-prelu kemawon : Asmara Sabda Asmara tegesipun : sangsem, sabda : pangandika. Pikajengipun sangsem masa pocapana utawi sengsem dening dayaning pangandika. Ing ngajeng sampun kacariosaken priya dhateng wanita ingkang pinurih tresnanipun punika kedah angempakna tembung manis manuhara. Pamilutanipun ingkang saged anuju prana, pangalembananipun ingkang saged anuju prana. Ing saderengipun wiwit nandukaken sabda arum manis wau, priya mawi amaos samantranipun aji asmara sabda ing salebeting batos makaten : “Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasihan surap sareng asmara, acaneng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara sabda, myang wiseseng paduka”. Aji asmara sabda wau manawi katarimah saged ambuka sengseming wanudya satemah kadunungan manah asih tresna, pikantukipun anggampilaken tumindakipun asmara gama. Ing serat piwulang paniti sastra, gugubahanipun begawan palasara, ingkang sampun kajarwakaken dening Sang Rrasu Jayasaya, ing bab 3, nyebutaken makaten : yen wonten ngarsanipun mengsah umuka ing sabarang damel yen wonten ngarsanipun pandhita angraosa sarahsaning ngelmi tuwin kawruh, yen dhateng pawestri angungruma pangandika ingkang akarya asmaraning galih. Asmara Cipta Asamara tegesipun : sengsem, cipta inggih cipta utawi osiking manah. Pikajengipun : sengsema cipta nira utawi sengsema dening dayaning cipta. Ing bab patraping cumbana sampun kapratelakaken sakedhik bab aji asmara cipta, inggih punika nalikanipun sacumbana, priya anggelengna cipta ! Angalapa pamanah tuwin nyawanipun estri. Aji asmara cipta ingkang makaten wau, manawi katarimah, wanita saged karaos marem terusing manah, awit boten namung kalegan dening patrap pangulah ing sanggama kemawon sayektosipun kalegan rahsanipun sajati. Asmara cipta ingkang kasebut ing nginggil punika boten ngangge waosan montra, awit sampun kawengwu ing montra asmara gama. Aji asmara cipta punika ugi saged kangge sarana ngangkah pawestri (pangasihan) lampahipun makaten : Priya kedah anyirik kasanggama tuwin asisirih ing sakeparengipun (ngingirangi dhahar nendra) minongka lampah. Dangunipun pitung dinten pitung dalu, saya dangu malih saya utami, upaminipun 40 dinten 40 dalu. Manawi ing dalunipun badhe matrapaken asmara cipta wau, priya susuciya rumiyin wiwit sonten sampun ngantos sare. Ing wanyci tengah dulu lajeng lenggaha, sarira kasendhekna, patrapipun kados lenggah semedi. Ing ngriku tumunten angeningaken paningal amepeta pancadriya, pamirsa, panggonda, pamiyarsa, pangraos tuwin pamiraos, lajeng anyiptaa ; mujudaken warnining wanodya ingkang kaangkah wau, yen sampun wujud saluguning warni, lajeng sinanggamaa saking empaning cipta kemawon sinartan maos montra makaten : “Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, soteng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara cipta, myang wiseseng paduka”. Manawi sampun widagda sayektos anggenipun matrapaken adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kaangkah wau lajeng supen kados sinanggama ing kakung ingkang nyipta wau, satemah lajeng nandhang wiyoga (gandrung), saking sangeting wiyoga ngantos mentala manakaken raosing priya (marahi), tarkadhang tan saronta lajeng dateng nginggah-inggahi. Nanging, para mudha kedah enget ; manawi wanita wau manahipun resik suci, ahli puja brata, punika asmara ciptaning priya wau boten saged tumama, awit kawon prabawa kaliyan kasuciyanipun wau, satemah uwuk tanpa dadya, malah wangsulipun cipta ingkang lumepas wau saged andadosaken kirang prayogi tumrap ingkang anggadahi cipta, milanipun sampun nindakaken asmara cipta. Asmara Wanita Asmara tegesipun : sengsem, wanita : pawestri, pikajengipun : sengsemipun dening wawadining pawestri sampun kasumerepan. Menggah asmara wanita punika pigunanipun inggih kalih warni, inggih punika kangge ambuko rahsaning wanita kaliyan kangge pangasihan. Kacariyos rahsaning wanita punika boten ngemungaken dumunung ing boga kemawon sayektosipun wonten ing saranduning badan sadaya, saben sadinten sadahu aliyan, patrapipun priya nindakaken asmara wanita punika kados nindakaken asmara cipta, nanging pawestri kedah katingal kasat mata. Sanajan pawestri pinuju sareyan lenggah, lumampah, ugi kenging katindakaken patrapipun makaten : priya angeningna cipta, amepeta pancadriya, amegenga rahsaning sanggama, nunten rahsaning sanggama wau katarika lajeng katancebna wonten ing cipta, manawi sampun boten ewah, lajeng katarika malih katancebna wonten ing panon manawi sampun boten ewah malih lajeng kalepasna dhateng pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kadunungan rahsa, sinarengana maos montra makaten : “Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, kang wanita rumarasa, kataman kanang rahsa mulya, sing dayeng aji asmara wanita, myang wisesang paduka”. Manawi sampun widagda anggenipun nindakaken wanita ingkang kalepasan wau lajeng kaget anjingkat sanajan pinuju tilem kepati inggih meksa saged ngalilir, sarta gadhah raos kados sinanggama. Estri ingkang katamanan makaten wau sengsemipun kados dene kataman asmara cipta. Dene asmara wanita ingkang kangge pambukaning rahsa, paedahing gampilaken tumibone kikin asmaragama, patrapipun nindakaken makaten : duk kaya rahsaning sanggama wau sampun tumanceb ing cipta, manawi sampun boten ewah, lajeng katarika malih, nanging boten katanjebaken ing panon inggih punika kadekeka wonten ing pucuking dariji, dariji wau lajeng kagrayangna ing pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kaserenan rahsa, sinartan matek montra kados ingkang kajarwa ing nginggil, adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kagrayang wau raosipun kados sampun sinanggama, sarira gumriming marinding andhandhang minta tandhing, korining Sang Hyang Kamajaya sampun kabuka, satemah anggampilaken tumindaking asmaragama. Menggah dununging rahsaning wanita ingkang saben sadinten sadalu aliyan punika pratelanipun makaten : tanggal 1 manggen wonten ing pucuking jempol suku ingkang tengen, minggah-minggah dumugi tanggal 15 manggen wonten ing tengahing alis ugi ingkang tengen nunten tanggal 16 pindhah wonten tengahing alis ingkang kiwa, mendhak-mendhak dumugi tanggal 30 wonten ing pucuking jempol suku ingkang kiwa. Tanggal punika tanggal jawi. Terangipun amriksanana gambar ing sisih punika. Supados gampil anggenipun ngapalaken. Kula sekaraken dhandhang gendhis dados tigang pada, nanging dhong dhingipun inggih namung sadhawah-dhawahipun kemawon kados ing ngandhap punika : Rahsaning dyah dununging mamanis. Tanggal pisan lawan tingang dasa. Pucuk jempol suku manggen. Kalih lan sangalikur, Neng tengahing tlapakan nenggih, Tiga wolu likurnya, Tengah tungkak suku, Catur pitulikur tengah : ing kemiri : gangsal nemlikur manggyana ing : tengah kempol punika. Tanggal nenem lan salawe munggih, pucuk jengku : pitu patlikurnya, tengahing pupu sumeren, wolu lan tigalikur, tengah pocong dunungi reki, sanga kalihlikurnya, tengah baganipun, sadasa salikur manggyan, tengah puser : sawelas lan kalih desi, ing tengah payudara. Kalihwelas lan sangalas manggih, tengah janggut : tingawlas wolulas, manggen ing tengahing lambe, pat blas pitulasipun, pucuk grana gyaning rahsadi, gangsalwelas nembelas, tengah imba iku, tanggal kang dihin sinebat, apan kanan dekang wuri sisih kering, ye kunut tanggal jawa. Asmara Tantra Asmara tegesipun : sengsem, tantra : bala, utawi tiyang kathah, pikajengipun : sengsema tiyang kathah punika. Asmara tantra punika pigunanipun : nyanggama wanita satunggal nanging wanita pinten-pinten ingkang sampun nate sinanggama : saged karaosa sadaya, patrapipun makaten : Ing salebetipun nyanggama, sasampunipun maos mantranipun aji asmara gama, utawi boten amargi mangke badhe kawengku ing asmara tantra, priya wiwita angening ngaken cipta anglerem poncadriya, nunten ana rika rahsaning sanggama, (rahsanipun piyambak) rahsa wau katancebna wonten ing cipta, nunten anyiptaa : mujudaken warnining wanita sapinten kathahipun ingkang badhe sinung rahsaning sanggama wau. Manawi sampun wujud lagu sajatining warni, kados dene lampahing asmara cipta, lajeng sinanggamaa salung empaning cipta kemawon, dene mantranipun makaten : “Hong Hyang-hyang Kamajaya Ratih, surap sara surap sari ing asmara, ulun mawisik wanita, matemah yumana kang rahsa, prahasa naring wanita samoa, kanang ulun cipta, sing dayeng aji asmara tantra, myang wiseseng paduka”. Lajeng angedalna rahsa : inggih rahsanipun pribadi. Katarimanipun aji asmara tantra wau, wanita-wanita ciptan wau saged karao sinanggama ing alam supena sarta marem caremipun ugi tan prabeda kados sinanggama ing sawantahipun, kacariyos raden dananjaya ingkang dados lananging jagad Prabu Arjunasasra ingkang garwanipun domas (800), sarta prabu surya misesa ing Jengala Manik (Panji Inu Kartapati), punika anggenipun nyarambahi asung rahsa sarta nguja arsaning wanita ugi ngagem aji asmara tantra wau. Walallahu alam. Pungkasaning Atur Dumugi samanten, pangraos kula sampun cekap pangimpun kula kawruh sanggama punika manawi kula talusur malih, maksudipun aji asmara gama punika, kajawi minongka sarana adamel lega tumraping wanita ing salebetipun cumbana, tuwin pambudidaya sageda kasinungan putra ingkang utama, inggih ugi minongka panggarenda dhateng para mudha, supados sami ngulinakaken angeningaken cipta, amepet pancadriya, analiti sajatining wiji, ingkang dahat sinandi, tuwin wawadining dumadi. Manawi dipun lampihi kanthi temen-temen ingkang tamtu inggih tinemu temenan, nanging manawi panggilutipun sembarangan panindakipun namung kangge mainan, namung kerem dhateng ulah kridhaning saresmi, sayekti inggih malati, angrisakaken jiwa ragi. Mila sadherek kula para mudha ingkang kasdu maos serat punika, dipun waspada uwosing wasita. Pemut kula : Rasak ele yayah madu brangti, den tamamet uwosing wasita, brata lena mrih pratameng, tata susileng lulut, ketong ngesthi kotameng siwi, salamet mengku garwa, wajibing priyanung, kalamun sisip ciptanta, dhineseking tyas kerem langening resmi, risak jiwangga nira. TAMAT

SULUK DEWARUCI


SULUK DEWARUCI Anggitanipun abdi-dalem Kyahi Ngabhi Yasadipura. Suluk Dewaruci, sekar Dhangdhanggula : 15 pada ; nyandhak sekar Pangkur : 42 pada; nyandhak sekar Sinom : 17 pada; nyandhak sekar Durma : 31 pada; nyandhak sekar Dhangdhang-gendhis : 62 pada. Awignam astu namas siddhi Pupuh I DHANDHANGGULA Nihan doning ulun manulat sri, ring sarkara mamrih mamardawa, tyas wigena panjutane, juwet silarjeng tuwuh, wahananing kahanan jati, sujana paramarta witaning tumuwuh, winangun ingkang sasmita, ginupita ing kawi reh Bima Suci, winangun lawan jarwa. Werkodara duk puruhita ring, Dhangnyang Druna kinen ngupayaa, toya ingkang nucekake, marang sariranipun, Werkodara mantuk wawarti, maring nagri Ngamarta, pamit kadang sepuh, sira Prabu Yudhisthira, / kang para ri sadaya nuju marengi, aneng ngarsaning raka. Harya Sena matur ring rakaji, lamun arsa kesah mamrih toya, dening guru pituduhe, sri Darmaputra ngungun, amiharsa aturing ari, cinipta prapteng baya, narendra mangun kung, dyang satriya Dananjaya, matur nembah ing raka Sri Narapati, punika tan sakeca. Inggih sampun paduka lilani, rayi-dalem kesahe punika, boten sakeca raose, Harya kalih wot santun, inggih sampun tuwan lilani, watak raka paduka, Ngastina pukulun, karya pangendra sangsara, pasthi Druna ginubel pinrih ngapusi, kasirnaning Pandhawa. Werkodara miarsa nauri, ingsun mongsa kenaa den-ampah, matiya umurku dhewe, wong nedya mrih pinutus, panunggale Hyang Maha Suci, Harya Sena saksana, kalepat sumemprung, Sri Narendra Yudhisthira, miwah ari katiga ngungun tan sipi, lir tinebak mong tuna. Tan winarna kang kari priha/tin, kawuwusa lampahireng Sena, tanpa wadya amung dhewe, mung bajra sindhung riwud, ambebener murang ing margi, prahara munggeng ngarsa, gora reh gumuruh, kagyat miris padedesan, kang kaambah kapranggul dharodhog ajrih, andhepes nembah-nembah. Kathah pasegah datan tinolih, langkung adreng prapteng Kuru-setra, marga geng kambah lampahe, glising lampahira sru, gapura geng munggul kaeksi, pucak mutyara muncar, saking doh ngunguwung, lwir kumembaring baskara, kuneng wau kang maksih wonten ing margi, wuwusen ing Ngastina. Prabu Suyudana animbali, Dhangnyang Druna praptaning jro pura, nateng Mandraka sarenge, Prabu Ngawongga tumut, pra santana andeling westhi, pra sami ingandikan, marang jro kadhatun, wong agung ing Sindusena, Jayadrata miwah Ki Harya Sangkuni, Bisma myang Drusasana. Raden Kuwirya Kurawa-sekti, miwah Rahaden jayasusena, Raden Rekadurjayane, prapteng ngarsa Sang Prabu, /kang ginusthi mrih jayeng jurit, sor si[r]naning Pandhawa, ingkang dadya wuwus, aywa kongsi Bratayuda, yen kenaa ingapus sangkaning aris, sirnaning kang Pandhawa. Golong mangkona turira sami, Raden Sudarma Surongakara, anut rempeg samya ture, sira ta sang ngaprabu, Suyudana menggah ing galih, datan pati ngarsakna, ing cidranireku, ragi kagagasing kadang, lagya eca gunem Warkodara prapti, dumrojog manjing pura. Obah kagyat kang samya alinggih, Sri Narendra Ngastina ngandika, yayi den kapareng kene, Werkodara anjujug, Dhangnyang Druna sigra ngabekti, rinangkul jangganira, babo suteng ngulun, sira sida ngulatana, ingkang tirta pacitra sucining ngurip, yen iku kapanggiya. Nirmala panggah wiseseng ngurip, wus kawengku aji kang sampurna, pinunjuling jagat kabeh, kauban bapa biyung, mulya saking sira nak mami, linuwuh ing tri loka, langgeng ananipun, Harya Sena matur nembah, nenggih pundi / prenahe kang tirta suci, nunten paduka tedah. Prenahipun kang her kadi geni, sang resi Druna mojar mring Sena, adhuh sutaningsun angger, enggone kang toya nu[ng], pan ing Tibrasareki, turuten tuduh ing wang, sanget parikudu, nucekaken badanira, ulatana loring Gadamedaneki, ing wukir Condramuka. Dhungkarana ingkang wukir-wukir, jroning guwa jro panggonanira, tuhu her ning pacitrane, ing nguni-uni durung, ana kang wruh goning toya-di, trustha sang Werkodara, pamit awotsantun, mring Druna mring Suyudana, angandika sira Prabu Kurupati, yayi mas den-prayidna. Bok kasasar denira ngulati, iya panggonane tan tetela, Werkodara lon saure, nora pepeka ingsun, anglakoni tuduh sang yogi, umesat saking pura, sigra reh sumengkut, kang maksih aneng jro pura, samya mesem nateng Mandraka lingnya-ris, paran polahe ika. Gunung Condramuka / guwaneki, dene kanggonan reksasa krura, kagiri-giri gedhene, sayekti lebur tumpur, ditya kalih pangawak wukir, tan ana wani ngambah, sadaya gumuyu, ngrasantuk upayanira, sukan-sukan bogandrawida menuhi, kuneng ingkang kawuntat. Pupuh II PANGKUR Lampahe Sang Werkodara, lajeng ngambah praptanireng wanadri, ririh ing reh gandrung-gandrung, sukanireng wardaya, tirta hening pamungkas wekasing guru, tan nyipta bayaning marga, kacaryan kang den-ulati. Ngambah wukir sengkan-sengkan, anut tembing kapering lemah miring, geger menggeng agra gugur, jurang rejeng kaparang, angragancang keri sarta lata lumung, myang enggar katiban warsa, sela ngapit marga supit. 3. Keksi kang pala kasimpar, pan kawarsan ing mongsa catur asri, panjrah nikang ngarum-arum, abra kang patra wijah, ambelasah bogem banas cepakandul, angsana myang kanigara, wilasa lan gondasuli. Aglar ingkang ang/grek wulan, jongga mure araras wora-wari, argulo mekar lan menur, anjrah gambir gambira, naga puspa angsoka melathi tanjung, prabu setmata sridenta, kanang kenonga kemuning. Tumiling-tiling nut awan, kadya manembrama ingkang lumaris, bramara reh nguswa lumung, anglir karunanira, ing kaswasih sangsaya margeng malat kung, risang Gonda-wastratmaja, leng-leng ngulati toya ning. Surya mangrangsang lampahnya, kumyus ingkang riwe saengga warih, gumergut sangsaya sengkut, enggar ing kabaskaran, nerang nunjang kasandhung sukuning gunung, wreksa ruk rebah belasah, sora dhedhet herawati. Geger saisining wana, tekang poncawora prahara tarik, sato kabarasat mawur, gumyur sumyur wurahan, saking geng ning ngampuhan sato kabentus, kidang kidang matyeng jurang, tibeng parang angemasi. Andaka keh tibeng jurang, bujongga geng amrih wuleding kulit, rungkating wreksa / karangkut, lumajeng marang jurang, wau ingkang tapa-tapa aneng gunung, ajar-ajar kapalajar, prabawa prahara gumrit. Kethu kathok kapalesat, kuthetheran pathake pothar-pathir, rarangkangan keh markungkung, sanget katisen samya, tutup tangan cantrik manguyu kaplayu, delancang wawasi singsal, ngungsi pradesan gumriwis. Munya genthane kang puja, gugup dennya nawurken wangi-wangi, sari sugonda sumawur, wau ta lampahira, prapteng wukir Condramuka guwanipun, binubak wukir dhunungkar, sela siningsal atebih. Wreksa geng-ageng kageman, kaideran belasah bosah-basih, prenahing toya tinuruh, dengu datan kapanggya, kawuwusa ditya kang wonten ing ngriku, Sang Rukmuka Rukmakala, kagyat denira miarsi. Gebruging wukir kang dhungkar, lan prahara gora reh girisi, lawan kongasira mambu, gandaning kang sujanma, gadgada sang Rukmuka arsa ametu, ngerik angrik lir / bathara, Berawa anggempur bumi. Gora sabda lir bubula, mahikala lir Kala Rodramurti, girindra kontrag gumuntur, katon Sang Werkodara, binandhem ing wukir panggah asru muwus, eh kodhik ditya babaya, dursila grama mrih pati. Rukmuka lan Rukmakala, asru muwus manusa mengko mati, dursila budi mumuput, dhustha ngursak goning wang, sigra nempuh sang Werkodara tinubruk, kinerek tan obah panggah, sinebrak-sebrak tan osik. Sela tan tumameng ngangga, curna siyung punggel ing-ukel aglis, kadya anaut sumebut, ing-aben lawan wreksa, sang Rukmuka angganira anggalepung, utek wutah sumamburat, Rukmuka sampun ngemasi. Rukmakala ngrik manrajang, wus cinandhak winayangken binanting, ing sela ditya maleduk, sumyur rahnya sumebar, sareng pejah Rukmuka Rukmakaleku, sirna bangkene tan ana, jer samya jawata lewih. Kena ing papa cintraka, Endra Bayu dinukan Hyang Pramesthi, dadya ditya kalihipun, neng / guwa Condramuka, yata wau Sang Bayu-tenaya wuru, kabeh wukir binalengkrah, toya tan ana pinanggih. Sadangunira ngupaya, gunung-gunung kawur den obrak-abrik, sayah kasaputing dalu, ngadek soring madira, giyuhing tyas denira ngupaya banyu, pacitra dangu tan ana, miyarsa swara dumeling. Tan katon kang duwe swara, adhuh putuningsun liwat kaswasih, ngupaya nora kapangguh, tan antuk tuduh nyata, ring prenahe kang sira ulati iku, sangsayeku polahira, Werkodara duk miarsi. Nauri sinten kang swara, dening boten kaeksi dening kami, punapa yun ngambil tuwuh, kawula sih sumongga, leheng pejah angulati tan katemu, kang swara gumuyu suka, yen sira tanbuh ing mami. Sira duk mateni ditya, iya tengsun karo jawata sami, kena ing papa sireku, kang nampurnaken ing wang, Endra Bayu aran ingsun kang satuhu, duk ditya si Rukmakala, lawan Rukmuka ra/n mami. Sira angulati toya, pituduhe Dhanyang Druna ing nguni, nyatakna banyurip iku, tuture resi Druna, nanging ngora ing kene panggonanipun, sira baliya atasna, enggone ingkang sayekti. Duk miyarsa Werkodara, kendel sarwi wagugen tyasireki, saksana wau sumebrung, mantuk marang Ngastina, tan winarna ing marga Ngastina rawuh, pendhak ing dina semana, kang wonten ngarsa jro puri. Kadya duk angkate Sena, Resi Druna Bisma miwah para ji, lan pra santana gung-agung, nateng Wongga Mandraka, Sengkuni lan Sindu kalang nganeng ngayun, Sudarma Surongakara, Suwirya Kurwana-sekti. Rahaden Reka-durjaya, Raden Jayasusena munggwing ngarsi, kagyat wau praptanipun, ki Harya Werkodara, samya kaget bageken kabeh wong agung, babo ariningsun prapta, antuk karya sun watawis. Yayi Mas ngempek kewala, praptanira sayekti antuk kar/di, Sang Resi Druna sumambung, paran mas lakunira, Werkudara pukulun datan kapangguh, gene wukir Condramuka, mung ditya kalih kapanggih. Rukmuka lan Rukmakala, sampun sirna kalih kawula banting, dene ditya amrih lampus, sikara ing kawula, wukir kabeh kabalengkrah tan katemu, paduka tuduh kang nyata, sampun amindho karyani. Sang Druna angrangkul sigra, babo babo lagi ingsun ayoni, katemenane ing guru, mengko wus kalampahan, nora mengeng mantep pituduh ing guru, mengko iki sun wawarah, enggone ingkang sayekti. Iya telenging samudra, yen sirestu guguru pun bapa kaki, ngesuk tereng samudra gung, werkodara turira, sampun menggah telenging kang samudra gung, wonten nginggiling swarga, dasaring kangsapta bumi. Mongsa ajriha palastra, anglakoni tuduh sang maha yekti, iya babo suteng ngulun, yen i/ku pinanggiya, bapa kakinira kang wus padha lampus, besuk urine neng sira, lan sira punjuling bumi. Tan ana aji utoma, sirna kasor kawengku ing sireki, Prabu Ngastina sumambung, dhuh adhuh arining wang, kaya paran pratikelireng delanggung, dene kaliwat agawat, prenah ingkang tirta hening. Aja sira kaya bocah, den-prayitna Werkodara, eh Kurupati wakingsun, srahena ing jawata, aywa malang tumolih lilakna tuhu, aja garatesing manah, pira bara yen basuki. Ya yayi muga antuka, lakunira pitulung ing dewadi, pamit Harya Sena sampun, mring Druna mring sang nata, ing Ngastina sigra mesat lampahipun, saking pura pan wus medal, nedya umantuk rumiyin. Matur ring raka Ngamarta, kuneng Werkudara lampanireki, wau ta ingkang winus/wus, ing nagari Ngamarta, saangkate Werkodara kesahipun, dene tan kena ing-ampah, kalangkung samya prihatin. Sang ngaprabu Darmaputra, miah Dananjaya lan ari kalih, saputra sagarwanipun, prihatin watiring tyas, dadya rembag utusan ngaturi weruh, saking sru ningkang sungkawa, marang Prabu Dwarawati. Mesat caraka Ngamarta, mawi surat ing marga tan winarni, ing Dwarawati wus rawuh, katuring Sri Narendra, serat saking Ngamarta sinuksmeng kalbu, kagyat garjiteng wardaya, sang ngaprabu Harimurti. Datan sakeca tyasira, angundhangi wadya bala sang aji, sawadya kuswa kasusu, ing marga tan winarna, ing Ngamarta lampahnya sang nata rawuh, geger amethuk busekan, Yudhisthira lan parari. Samya ngabekti sadaya, wusnya tata lenggah aneng jro puri, Prabu Darmaputra matur, myang [H]arya Dananjaya, saha waspa / ing madya wasananipun, katur ring raka sadaya, risang Prabu Harimurti. Ngandika Narendra Kresna, yayi prabu aywa sungkaweng galih, polahe arinireku, ki Harya Werkodara, nadyan silih wruha yektining pangapus, ing tingkah Kurawa cidra, den-pasrah ing batharadi. Wong nganedya puruhita, ujar becik upama den-alani, santosa ing bathara gung, ingkang nedya bencana, mongsa wurung nemu wawalesing pungkur, punagi ing aturira, marang Prabu Harimurti. Yen prapta ari paduka, mila angling datan wande ngulati, kawula bujana nayup, kaistokna jeng nata, yen sampuna kakang prabu nunten rawuh, yekti barubah barusah, rayi-dalem sadayeki. Lagyeca imbal wacana, praptanira wong agung Jodhipati, gumuruh samya angrubung, atur trusthaning driya, Dananjaya lawan Nangkula rinipun, myang Po/ncawala Sumbadra, Drupadi miwah Srikandhi. Sami rerep sungkawanya, angandika sang prabu Harimurti, mara payo yayi prabu, nutugna abujana, sigra Werkodara sru pamuwusipun, aywa susah abujana, pan ingsun nora nganteni. Marang ing pambojanira, karyaningsun amung atur upeksi, pan iya nuli awangsul, miwah mring sira Kresna, pan kapareng ingsun iki aweh weruh, arsa mring teleng samudra, ngupaya sinom ing warih. Pupuh III S I N O M Ing tuduhe Dhangnyang Druna, ngulati toya urip, gone telenging samudra, iku arsa sun lakoni, matur kan para ari, adhuh kakang sampun-sampun, punika datan lomba, tan pantes dipun-lampahi, duk miarsa jetung Prabu Yudhisthira. Umatur dhateng kang raka, ing narendra Harimurti, paran ing karsa paduka, rayi sampe/yan puniki, tan kenging den-palangi, Kresna kendel tanpa muwus, langkung pangungunira, bingung tan nauri nenggih, ing ature sang Sri Batanakawarsa. Sigra Prabu Yudhisthira, amengku datheng kang rayi, Harja Nangkula Sadewa, ing suku samya nangisi, Poncawala Drupadi, Sumbadra Srikandhi ngayun, gubel samya karuna, miwah nata Harimurti, anderwili mituturi Bayuputra. Samya nangis ngampah-ampah, tan keguh ginubel tangis, Dananjaya nyekel asta, Raden kalih suku kalih, sarwi lara anangis, kresna munggeng ngarsanipun, Srikandhi lan Sumbadra, samya mangrubung nangisi, kinipatken sadaya sami kaplesat. Amberot sang Werkodara, tan kena den-gugujengi, nginthar lampahe wus tebah, kadya tinilar ngemasi, sagunge ingkang kari, apan ta arsa sinusul, ajrih pangampahira, sira prabu Harimurti, dadya kendel sadaya wayang-wuyungan. 6. Sa/enggen-enggen karuna, sagung ingkang sentanestri, kakunge ngadhep sadaya, ing narendra Harimurti, tan pegat amituturi, kang rayi samya andheku, dadya wau kang raka, makuwon sajroning puri, kawuwusa wau kang adreng ing lampah. Sahira saking jro kitha, tulya sru manjing wanadri, tan kesthi durgameng ngawan, tan ana baya kaeksi, sagung wong tepis iring, gawok ing pandulunipun, lampahe Harya Sena, lir naga krura ngajrihi, anrang baya amrih tuhuning ngagesang. Kayon katub ing maruta, sumyak ing swaranira tri, kadya ngatag sekar mekar, samirana mawor riris, panjrah ning sarwa sari, karirisan marbuk arum, jongga kumuning sumyar, angsana pudhak kasilir, tinon kadya kang wentis kesisan sinjang. Soreti bakaning driya (?), sahira saking nagari, cung gereret mawuraha/n, kadya napa ring sang brangti, mrak munya aneng wuri, barungan lan peksi cucur, lir aken awangsula, kidang wangsul saking ngarsi, kadya napa sruning sangsayeng wardaya. Res-res munya asauran, yayah kadya mituturi, bebeluk deres lan dukan, anamber nambir wiyati, anglir ngudhang nging margi, wangsula sang amalat kung, kongkang neng rong lir rentang, mawarah upaya sandi, endrajala tanduking karti-sampeka. Diwasaning diwangkara, titi sonya tengah wengi, kadhasih munya timbangan, musthikeng ganeya muni, mangun oneng salwir ning, kadya mawarah mrih lampus, upaya Dhangnyang Druna, tan tuhu amrih basuki, mawa kamandaka durgamaning ngawan. Suweda sarkareng ngasta, ring ana Sang Hyang Bayeki, anut ujunging ngaldaka, denira lumaris aris, purwa ngimarateki, sirat-sirat wus kadulu, wismane Hyang / Baruna, manitihi jalaniddhi, keksi praba sang maharsi dipaningrat. Anari kang paksi mijah, anyengak cangak munya sri, sasmita ken awangsula, ri sang kasangsayeng ragi, sata wana munya njrit, marah risang moneng ngun kung, mangambah wana pringga, kongas tepining ngudadi, alun dres agumulung manempuh parang. Sumyak lir suraking ngaprang, mrepek sangsaya kaeksi, karang munggul kawistara, danu wun-awun nawengi, ana kang kadya esthi, karang mengo liman anjrum, prapta sang Werkodara, umadeg tepining tasik. Ombak angemba gelagah, panduking karang mangsuli, kadya nambrama kang prapta, wangsula sang ngamong ragi, gora reh anekani, gora rug guntur gumuntur, manulak mawalikan, sang moneng munadikaning, sangsayeng tyas emut warah ingkang raka. Tuhu darma kamandaka, tuduhira sang maharsi, yen waangsula arda merang, kangen ujarireng nguni, suka matiyeng tasik, mangkana wau kadulu, palwa wawarna-warna, kumerab ing jalaniddhi, ting karethap kadya wancak sumamburat. Leng-leng mulat ing ngudaya, rencakaning tyas kalingling, nglangut datanpa watesan, sang moneng lir tugu manik, lun ageng gigilani, lun geng agolong gumulung, toya muncar analang, kikising gisik kaeksi, wedhi lir isining kang sekar mekar. Sangsanging kalembak-lembak, lir semara uwal saking, ukeling dyah sinjang lukar, tan wun ucapen ing gendhing, isining kang jeladri, pira-pira langenipun, raras ruming jro pura, panjang winarna ing tulis, Werkodara tan kondur eraming driya. Pupuh IV D U R M A Musthi ing tyasira Harya Werkodara, ing baya tan kaeksi, yen tan amanggiya, toya reh tata marta, /tan wrin parastra ing tasik, mangsah bek pejah, cangcut gumergut manjing. Ing samudra wiraganira legawa, banyu sumaput wentis, melek angganira, alun pan sumamburat, sumembur muka nampeki, megeg ring ngongga, wates jongga kang warih. Emuting tyas ana ji jayasengara, lun ageng anangkebi, gadgada manengah, sira sang Werkodara, sayan genjot ingkang wentis, datan kaetang, kuneng wonten kawarni. Kang naga geng kyating rat anmbur nawa, wisanira duk prapti, krura mangikikan, katon kambang kumambang, gengnya saprabata siwi, galak kumelab, sumembur angajrihi. Lir kinebur samodra kolah prakempa, kagyad duk aningali, Harya Werkodara, iki babaya prapta, eram umuyat geng neki, datan antara, prot buta anekani. Kadya guntur kumebur ingkang samudra, prabawanira atri, mangab kadya guha, siyung mingis kumilap, / sumawur wisa lir riris, manaut krura, mulet kadya ambanting. Nengah pan kasangsang kapulet ing naga, angres sang Bayusiwi, wisane sang naga, tumampek mukanira, kewraning tyas cipta mati, saya pinolah, ing naga mobat-mabit. Sariranya kemput ginubed sadaya, pujongga ingkang maksih, sangsaya manengah, sagung kang palwa giwar, nyana ponca-ruba prapti, prahara salah, gusis palwa wus tebih. Lir sinapon palwa tan ana katingal, wau kang ngamrih jurit, sayah Harya Bima, emut sang amikara, cinubles kenaka aglis, kang munggeng ngongga, pasah rahnya dres mijil. Poncanaka manjing ngawake sang naga, tatas pating saluwir, rah mijil lir udan, abang toyeng samudra, sapandeleng kanan kering, toya dadya rah, naga geng wus ngemasi. Sirna dening Sena sadaya pan suka, saisining jeladri, wau kawuwusa, risang murweng parasdya, wruh lakuning sang kaswasih, sang amurweng rat, praptane sang ngamamrih. Dinuta tan uniga jatining lampah, tirta marta mahening, mapan tanpa a/rah, tirta kang wruh ing tirta, suksma sinuksma mawingit, tangeh manggiya, yen tan nugraha yekti. Kuneng sanalika wuwusen Pandhawa, dahad dennya mrihatin, sangsaya kagagas, marang ing kadangira, arsa nusula pra sami, aja salaya, yen nemahana pati. Samya gubel nunuhun kang pangandika, sang prabu Harimurti, samya tinangisan, sira narendra Kresna, wus aywana kang prihantin, pan kadangira, nora tumekeng pati. Malah antuk kanugrahaning jawata, besuk praptane suci, iya pan siniyan, de sang Suksma-kawekas, winenang aliru dhiri, raga bathara, putus ing tingal hening. Uwis padha mariya aja sungkawa, enggar tyasira sami, sirna susahira, dene wau miarsa, pangandika kang sayekti, saking kang raka, nata ing Darawati. Yata malih wuwusen sang Werkodara, neng telenging ing jeladri, sampun pinaggiyan, awarni dewa jabang, paparabe Dewaruci, lir lare dolan, ngandika tatanya-ris. Eh ta Werkodara apa karyanira, teka ing kene iki, apa sedyanira, iya sepi kewala, tan ana kang sarwa bukti, myang sarwa boga, miwah busana sepi. Amung godhong ngaking yen ana kumleyang, tiba ing ngarsa mami, iku kang sun pangan, yen nora nora nana, garjita tyasnya miarsi, sang Werkodara, ngungun dennya ningali. Dene bajang neng samodra tanpa rowang, cilik amenik-menik, iki ta wong ngapa, gedhe jajenthik ing wang, pangucape pan kumaki, ladag kumethak, dene ta apribadi. Lan maninge Werkodara ingkang prapta, iya ing kene iki, akeh poncabaya, yen nora etoh pejah, sayekti tan prapta ugi, ing kene mapan, sakalir sarwa mamring. Nora urup lan cipta-mu paripeksa, nora angeman pati, sabda kaluhuran, kene mongsa anaa, kewran sang Werkodareki, sasaurira, dene tan wruh ing gati. Dadya alon Werkodara saurira, / mongsa borong sang yogi, sang wiku lingira, iya pan sira uga, bebete Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, turasa pan sayekti. Saking Brama uwite kang para nata, iya bapanireki, turun saking Brama, mencarken para raja, dening ibunira Kunti, kang duwe tedhak, iya sang Wisnumurti. Mung patutan telu lawan bapakira, Yudhisthira pangarsi, panenggake sira, panengah Dananjaya, kang roro patutan Madrin, jangkep Pandhawa, praptane kene iki. Iya Dhangnyang Druna akon ngulatana, banyurip tirta hening, iku gurunira, pituduh marang sira, yeku kang sira lakoni, mulane tapa, angel pratingkah ngurip. Aja lunga yen tan wruh ingkang pinaran, lan aja mangan ugi, lamun tan weruha, rasane kang pinangan, aywa nganggo-anggo ugi, yen durung wruha, arane busaneki. Weruhe lan tatakon bisane iya, lawan titiron nenggih, dadi lan tumandang, /mengkono ing agesang, ana jugul saking wukir, arsa tuku mas, mring kemasan den-wehi. Lancung kuning den-anggep kencana mulya, mengkon[o] ing ngabekti, yen dereng waskitha, prenahe kang sinedya, Werkodara duk miyarsi, dheku nor raga, dene sang wiku sidik. Sarwi sila sentika andikanira, sang Werkodara met sih, anuwun jinatyan, sinten ta aran tuwan, dene neng ngriki pribadi, sang mabudeng rat, ya ingsun Dewaruci. Matur alon pukulun yen makatena, pun patik anuwun sih, ulun inggih datan, wruh puruhiteng badan, saksat sato wana inggih, tan montra-montra, waspadeng badan suci. Langkung mudha punggung cinacat ing jagat, kesi-esi ing bumi, angganing curiga, ulun tanpa warangkan, wacana kang tanpa siring, yata ngandika, manis sang Dewaruci. Pupuh V DHANDHANGGULA Lah ta mara Werkodara aglis, lumebuwa gu/wa garbaning wang, kagyat miyarsa wuwuse, Werkodara gumuyu, sarwi guguk turira aris, dene paduka bajang, kawula geng luhur, inggih pangawak parbata, saking pundi margine kawula manjing, jenthik mongsa sedhenga. Angandika malih Dewaruci, gedhe endi sira lawan jagad, kabeh iki saisine, kalawan gunungipun, samodrane alase sami, tan sesak lumebuwa, guwa garbaning sun, Werkodara duk miyarsa, esmu ajrih kumel sandika tur neki, mengleng sang Rucidewa. Iki dalan talingan ngong keri, Werkodara manjing sigra-sigra, wus prapta sajro garbane, andulu samodra gung, tanpa tepi nglangut lumaris, Dewaruci nguwuh, eh apa katon ing sira, dyan sumaur sang Sena inggih atebih, tan wonten katingalan. Awang-awang kang kula lampahi, uwung-u[wung] tebih tan kantenan, ulun saparan-parane, tan mulat ing lor kidul, wetan kilen datan udani, ngandhap ing nginggil ngarsa, kalawan ing punkur, kawula boten uninga, langkung bingung ngandika sang Dewaruci, aja maras tyasira. Byar katingal ngadhep Dewaruci, Werkodara sang wiku kawangwang, umancur katon cahyane, nolih wruh ing lor kidul, wetan kulon sampun kaeksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase miwah sang wiku kaeksi, aneng jagat walikan. Dewaruci suksma angling malih, aywa lumaku anduduluwa, apa katon ing dhweke, Werkodara umatur, wonten warni kawan prakawis, katingal ing kawula, sadaya kang wau, sampun datan katingalan, amung kawan prakawis ingkang kaeksi, ireng bang kuning pethak. Dewaruci suksma ngandika-ris, ingkang dhi/ngin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, poncamaya puniku, sajatine ing tyas sayekti, para reping sarira, tegese tyas iku, ing-aranan muka sipat, kang anuntun marang sipat kang linewih, kang sajatining sipat. Mongka tinula aywa lumaris, awasena rupa aja samar, kawasaning tyas empane, tingaling tyas puniku, anengeri maring sajati, enak sang Werkodara, amiyarsa wuwus, lagya mesem tyas sumringah, dene ingkang ngabang ngireng kuning putih, iku durgamaning tyas. Pan isining jagad amepeki, iya ati kang telung prakara, pamurung ing laku dene, kang bisa pisah iku, pesthi bisa amor ing gaib, iku mungsuh ing tapa, ati kang tetelu, ireng abang kuning samya, ingkang nyegah cipta karsa kang lestari, pamoring suksma mulya. Lamun nora kawilet ingkang tri, yekti sida pamoring kawula, lestari ing panunggale, poma den awas emut, durgama / kang munggeng nging ngati, pangwasane weruha, wiji-wijinipun, kang ireng luwih prakoswa, panggawene asrengen sabarang runtik, andadra ngombra-ombra. Iya iku ati kang ngadhangi, ambuntoni marang kabecikan, kang ireng ngiku gawene, dene kang abang ngiku, iya tuduh nepsu tan becik, sakeh ing pepenginan, metu saking ngiku, panastenan panasbaran, ambuntoni marang ati ingkang ngeling, marang ing kawaspadan. Dene iya ingkang rupa kuning, kuwasane nanggulang sabarang, cipta kang becik dadine, panggawe amrih tulus, ati kuning ingkang ngandhegi, mung panggawe pangrusak, binanjur jinurung, mung kang putih iku nyata, ati anteng mung suci tan ika iki, prawira ing kaharjan. Amung ngiku kang bisa nampani, ing sasmita sajatining rupa, nampani nugraha tumanduk, kalestaren pamoring kapti, iku mung/suh titiga, tur samya gung-agung, balane ingkang titiga, kang aputih tanpa rowang amung siji, mila anggung kasoran. Lamun bisa iya nembadani, marang susuker telung prakara, sida ing kono pamore, tanpa tuduhan iku, ing pamoring kawula gusti, Werkodara miyarsa, sengkut pamrihipun, sangsaya birahinira, saya marang kauwusaning ngaurip, sampurnaning panunggal. Sirna patang prakara na malih, urub siji wowolu warnanya, sang Werkodara ature, punapa wastanipun, urib siji wolu kang warni, pundi ingkang sanyata, rupa kang satuhu, wonten kadi retna muncar, wonten kadi maya-maya angebati, wonten abra markata. Mabudeng rad Dewaruci angling, iya iku sajatining tunggal, saliring warta tegese, ya ana ing sireku, tuwin ana isining bumi, gi/nambar angganira, lawan jagad agung, jagat cilik nora beda, purwa ana lor kulon kidul puniki, wetan luhur myang ngandhap. Miwah abang putih ireng kuning, iya pangurip ingkang buwana, jagat cilik jagat gedhe, pan padha isinipun, tinimbangken ing sira iki, yen ilang warna ningkang, jagad sadayeku, saliring reka tan ana, kinumpulken ana rupa kang sajati, tan kakung tan wanudya. Kadya tawon gumana puniki, kang ngasawang putran-putran denta, lah payo dulunen kuwe, Werkodara andulu, ingkang dadya puputra gadhing, cahya mancur kumilat, tumeja ngunguwung, punapa inggih punika, wernining dat kang pinrih dipun-ulati, kang sayektining rupa. Anauri aris Dewaruci, iku dudu ingkang sira sedya, kang mumpuni ambeg kabeh, tan kena sira dulu, tanpa rupa datanpa warni, tan gatra tan satmata, iya tanpa du/nung, mung dumunung ingkang ngawas, mung sasmita aneng jagat angebeki, dinumuk datan ana. Dene iku kang sira tingali, kang ngasawang puputran mutyara, ingkang kumilap cahyane, kang kara-kara murub, pan premana arane nenggih, uripe kang sarira, pramana puniku, tunggal aneng ing sarira, nanging datan milu sungkawa prihatin, enggone aneng raga. Datan milu mangan turu nenggih, iya nora milu lara lapa, yen iku pisah enggone, raga kari ngalumpruk, yekti lungkrah badan puniki, ya iku kang kuwasa, nyandhang rahsanipun, ing-uripan dening Suksma, iya iku sinung sih sinandhang ngurip, ing-aken rahsaning dat. Iku sinandhangken ing sireki, nanging kadya simbar neng kakaywan, ananira raga gone, uriping pramaneku, ing-uripan ing Suksma nenggih, misesa ing sarira, pramana puniku, yen mati milu kaleswan, lamun ilang suksmaning sarira nuli, uriping Suksma ana. Sirna iku iya kang pinanggih, urip ing Suksma ingkang sanyata, kaliwat tan upamane, lir rasaning kemumu, kang pramana amra tandhani, tuhu tunggal pinongka, jinis tyas puniku, umatur sang Werkodara, inggih pundi warneninpun kang sayekti, Dewaruci ngandika. Nora kena iku kang sira prih, lawan kaanan samata-mata, gampang angel pirantine, Werkodara umatur, kula nuhun pamejang malih, inggih kedah uninga, babar pisanipun, pun patik ngaturken pejah, ambencana anggen-anggen ingkang pasthi, sampun tuwas kangilan. Yen mangkaten kula boten mijil, sampun eca neng ngriki kewala, boten wonten sangsayane, tan niyat mangan turu, boten arip boten angelih, boten ngraos kangilan, boten ngeres linu, amung nikmat lan manpangat, Dewaruci lingira iku tan keni, yen nora lan antara. Sangsaya sihira/Dewaruci, marang sang kaswasih ing panedha, lah iya den-awas bae, mring pamurung ing laku, aywa ana karemireki, den-bener den waspada, ing anggepireku, yen wus kasikeping sira, aywa umung den ngonggo parah yen angling, yeku reh pipingitan. Nora kena yen sira rasani, lan sasama samaning manusa, yen nora lan nugrahane, yen ana sedya padu, angrasani rarasan iki, ya teka kalahana, aywa kongsi banjur, aywa ngadeken sarira, aywa kraket mring wisayaning ngaurip, balik sikepen uga. Kawisayan kang maring ing pati, den ka-asta pamantheng ing cipta, rupa ingkang sabenere, sinengker buwaneku, urip nora nana nguripi, datan antara mongsa, iya ananipun, pan wus ana ing sarira, tuhu tunggal sasana lawan sireki, tan kena pisahena. Datan wande praptanira uni, tunggal sang ngaker/tining bawana, pandulu pamiyarsane, wus aneng ing sireku, pamirsaning Suksma kang yekti, iya tan lawan karna, ing pandulunipun, iya tan kalawan netra, netranira karnanira kang kinardi, anane aneng sira. Lahir ing Suksma aneng sireki, batining Suksma kang ana sira, iya mengkono tatrape, kadya wraksa tinunu, ananing kang kukus ing geni, sarta kalawan wraksa, lir toya lan alun, kadya menyak aneng puwan, raganira ing reh obah lawan mosik, iya sarta nugraha. Yen wruh pamoring kawula gusti, sarta suksma kang sinedya ana, de warnaneng sira gone, lir wayang sarireku, saking dhalang solah ing ringgit, kang mongka panggung jagat, kelir badan iku, apolah lamun pinolah, sasolahe kumedhep myarsa ningali, tumindak lawan ngucap. Kawi/sesa amisesa sami, datan antara pamoring karsa, jer tanpa rupa warnane, wus aneng ing sireku, upamane paesan jati, ingkang ngilo Hyang Suksma, wayangan puniku,kang ana sajroning kaca, iya sira jenenging kawula iki, rupa sajroning kaca. Lewih gengnya kalepasan iki, lawan jagad gedhe kalepasan, kalawan luwih lembute, salembutan ing banyu, apan lembut kamuksan ugi, lewih alit kamuksan, saha liting tengu, pan maksih alit kamuksan, lire luwih amisesa ing sakalir, lire ageng alitnya. Bisa nuksma ing lembut lan alit, kalimputan kabeh kang rumangkang, gumermet iya tan pae, kaluwiyan satuhu, luwih dennya ingkang nampani, tan kena ngandelena, ing warah lan wuruk, den sanget panguswanira, badanira wasuhen pragnyana ngukih, wruha rungsiting tingkah. Wuruk iku pan minongka wiji, kang winuruk pan minongka papan, pama kacang lan kadhele, sinebarna / ing watu, yen watune datanpa siti, kodanan kapanasan, pesthine tan cukul, lamun sira wicaksana, tingalira sirnakna ananireki, dadi tingaling Suksma. Rupanira swaranira nuli, ulihena mring kang duwe swara, jer iku ing aken bae, sisilih kang satuhu, nanging aja duwe sireki, pakareman kang liya, maring Sang Hyang Luhur, dadi sarira Pangeran, obah mosikira iku dadi siji, ja roro anggepira. Yen dadiya anggepira yekti, yen ana ngrasa roro misih was-was, kena ing rengu yektine,yen wus siji sawujud, sakarenteg ing tyas sayekti, apa cinipta ana, kang sinedya rawuh, wus kawengku aneng sira, jagad kabeh jer sira ing-aken yekti, gagenti den-asagah. Yen wus mudheng pratingkah kang iki, den-awingit sarta den-asasat, sasat pamor panganggone, nanging ing batinipun, ing sakedhep tan kena lali, lahire sasabana, kawruh patang dhapur, padha anggepen sadaya, / kalimane kang siji iki pramati, kanggo ing kene kana. Liring mati sajroning ngaurip, iya urip ing sajroning pejah, urip bae salawase, kang mati iku nepsu, badah lahir ingkang nglakoni, kataman badan nyata, pamoring sawujud, pagene ngrasa matiya, Werkodara tyasira padhang nampani, wahyu prapta nugraha. Lir sasongka tawengi mariris, praptaning wahyu ngima nirmala, sumilak ilang regede, angling malih tulya rum, Dewaruci manis aririh, tan ana aji paran, kabeh wus kawengku, tan ana ing-ulatana, kadigdayan kaprawiran wus kawingking, kabeh reh ing ayuda. Telas wulangira Dewaruci, Werkodara ing tyas wus tan kewran, wruh namane ing dheweke, ardaning swara muluk, tanpa elar anjajah bangkit, sawengkon jagattraya, uga wus kawengku, pantes pamatining basa, saenggane sekar maksih kudhup lami, mangkya mekar ambabar. Wuwuh warnane lan gondaneki, wus kena kang / ponca retna medal, saking ing guwa garbane, wus salin alamipun, angulihi alame lami, Dewaruci wus sirna, mangkana winuwus, tyasira sang Werkodara, lulus saking gandaning kasturi jati, papaning tyas wus sirna. Wus leksana salekering bumi, ujar bae wruh patakanira, niring wardaya mungguh, kadyanggane ngangge sutra di, maya-maya kang srira, rehnya kang sarwa lus, sinukma mas ing-emasan, arja sotya-sinotya manik-minanik, wruh paekaning tingkah. Mila sumping bra puspa kirnadi, winarnendah kintaki sumekar, kasturi jati namane, pratondha datan korop, ing pangwikan kenaka lungit, angungkabi kabisan, kawruh tan kaliru, poleng bang bintulu lima, pan winarna guraga wilet tulya sri, lancingan kampuhira. Mongka pangemut katoning nguni, tiga katon sajroning kang garba, Dewaruci pamengete, bang kuning ireng iku, pamurung ing laku ngadhangi, kang aputih ing tengah, sidaning pangangkuh, kalimeku kang ginambar, wus kaasta / sanalika aywa lali, ulun tuhu ambegnya. Saking sanget ing karya ling-aling, pambungkasing sumungah jubriya, kaesthi siyang dalune, pan kathah dennya ngrungu, pratingkahe kang para resi, kang sami kaluputan, ing panganggepipun, pangancaping kawruhira, wus abener wekasan mati tan adi, kawileting tatrapan. Ana ingkang mati dadya peksi, amung milih pencokan kewala, kayu kang becik warnane, angsana naga-santun, tanjung ana ingkang waringin, kang nganeng pinggir pasar, ekuk mangkruk-mangkruk, angungkuli ing sapasar, pindha-pindha kamukten angsale pinrih, kasasar kabelasar. Ana ingkang anitis pra ji, sugih raja brana miwah garwa, ana kang milih putrane, putra kang ngarsa mengku, karemane kaluwiyan, ing panitisipun, yen mungguh sang Werkodara, dereng ngarsa amung ngamrihi pribadi, sadayeku ing-aran. Tibaning kang pana kang tan pasthi, durung jumeneng janma utama, ingkang mengkono anggepe, pangrasane a/nemu, suka sugih tan wruh ing yekti, yen nuli nemu duka, kabanjur kalantur, sanggone nitis kewala, tanpa wekas kangilan tan nemu kasil, tan bisa babar pisan. Yen luputa anyakra-bawani, iya pakareman duk ing kuna, ing pati maring tibane, ing kono tibanipun, nora kuwat sarenging pati, keron pan kasamaran, mangsah wowor sambu, abote olah kamuksan, nora kena tolih bapa anak rabi, sajroning mrih wekasan. Yen luputa patakaning bumi, leneng biyen aywa dadi janma, sato gampang pratingkahe, sirnane tanpa tutur, yen wus aris bener ing kapti, langgeng tanpa karana, nongga buwaneku, umeneng tan kadya sela, anengira yen ta nora kadya warih, wrata tanpa tuduhan. Len ing pandhita ana nganggepi, ing kamuksan nenggih peksanira, anjungkung kasutapane, nyana kena den-angkuh, tanpa tuduh mung tapa neki, tanpa wit puruhita, suwung angaruwung, mung temen kaciptanira, durung ngantuk pratikel wuruk kang yekti, pratingkah lalawara. Tapa/nira kongsi raga runting, wus mangkana dennya mrih kamuksan, datanya tutur sirnane, kamatengen tanpa wuk, de pratikel ingkang lestari, tapa iku minongka, raragi pan amung, ngilmu kang minongka ulam, tapa tanpa iya ngilmu nora dadi, yen ngilmu tanpa tapa. Cemplang-cemplang nora wurung dadi, angsal nora kawilet tatrapan, kacagak sagung bekane, sayekti dadosipun, apan akeh pandhita sandi, wuruke sinatengah, marang sabatipun, sabate landhep priyongga, kang linempit winedhar raose nuli, ngaturken gurunira. Pamedhare mung grahitaneki, nguni-uni durung mambu warah, saking tan eca manahe, aturing gurunipun, langkung ngungun manut ngugemi, sinemantaken marang, pandhita gung-agung, wus pasthi anggep kang nyata, iku wahyu nugraha tiba pribadi, sabat ing-aku anak. Sinungga-sungga anggung tinari, marang guru yen arsa mamejang, tan tebih sinandhing gone, sabat kang temah guru, guru dadya sabat ing ba/tin, lepasing pangrahita, tanduk sarta wahyu, yeku utama kalihnya, kang satengah pandhita durung sayekti, kaselak pangakunya. Kudu tinut saujare sami, dene akeh lumaku sinembah, neng pucaking gunung gone, swaranira anguwuh, angebeki patapaneki, yen ana wong kang marak, wekase abikut, lir gubar beri tinatap, kumerampyang binuka datanpa isi, tuna kang puruhita. Aja kaya mengkono ngaurip, badan iki dipun-dadya wayang, kinudang neng panggung gone, harja tatali bayu, padhang ingkang panggungireki, damar raditya wulan, kelir ngalam suwung, kang anongga-nongga cipta, debog bumi tetepe adeging ringgit, sinongga mring kang nanggap. Kang ananggap aneng dalem puri, datan mosik pangulah sakarsa, myang pramana dhadhalange, wayang pangadegipun, ana ngidul angalor tuwin, mangkana kang sarira, ing sasolahipun, sinolahaken ing dhalang, lumaku yan linakoken lembeh neki, linembehken ing dhalang. Pangucape / ing-ucapken nenggih, yen kumilat kinilatken iya, tinutur anuturake, sakarsa-karsanipun, kang anon lon pinolah sami, tinonaken ing dhalang, kang anganggap iku, sajagad mongsa na wruha, tanpa rupa kang ananggap neng jro puri, tanpa warna Hyang Suksma. Sang Bramana denira angringgit, ngucapaken ing sariranira, tanpa wekas ing sanane, wibuh pan nora tumut, ing sarira upama neki, kang menyak munggweng puwan, geni munggeng kayu, anderpati tan katedah, kang pramana lir geseng ing kayu panggrit, landhesansama wreksa. Panggritane molah dening angin, gesenge kayu kukuse medal, datan antara agnine, geni kalawan kukus, saking kayu wijile sami, wruha eling duk kala, mula-mulanipun, kabeh iki kang gumelar, pan saking eb manusa tinitah lewih, apan ing-aken rahsa. Mulya dhewe sagung kang dumadi, aja mengeng ciptanira tunggal, tunggal sa/paribawane, isining buwaneku, anggep siji manuswa jati, mengku sagung kahanan, ing manusa iku, den wruh wisesaning tunggal, anuksmani salwiring jagad dumadi, tekat kang wus sampurna. Wus mangkana Werkodara mulih, wus tan mengeng ing batin gumawang, nora pangling sarirane, panukmaning sawujud, nanging lahir sasat piningit, reh sareh kasatriyan, linakon winengku, pamurwaning jagat traya, kalahiran batine nora kasilih, satu munggeng rimbagan.