Jumat, 13 Januari 2012

Tradisi Menabuh Gamelan pada jaman Paku Buwono X Keraton Surakarta

Pada jaman Sri Sunan Paku Buwono X Surakarta pada saat-saat tertentu diadakan tradisi menabuh gamelan, yaitu:
1. Slametan Mahesa Lewung: yaitu selametan negara pada hari Senin dan Kamis pada akhir bula Rabingulawal.
2. Grebeg Mulud: hari tanggal 12 Rabi'al awal hari lahir Nabi Muhammad SAW.
3. Grebeg siyam, yaitu grebeg puasa hari Idul Fitri 1 Syawal.
4. Grebeg Besar, yaitu hari raya Haji, Idul Adha.
5. Di bangsal Petalon membunyikan Gamelan Setu tiap hari Sabtu.
6. Hari-hari Pasewakan dibunyikan Gendhing Srikaton laras Pelog pathet Barang untuk miyos Sinuhun, dan Gendhing Undur-undur Kajongan Ketawang laras Slendro Pathet Manyura untuk kondur Sinuhun. Undur-undur Kajongan ini dibunyikan tidak hanya hari Senin dan Kamis saja, tetapi setiap Raja kondur kedhaton selalu dibunyikan.
7. Pada hari-hari tertentu ada pertunjukan, meskipun tiada begitu ada keperluan penting, seperti:

* membunyikan musik
* santiswaran
* klenengan
* latihan tari Bedhaya/Srimpi
* wayang kulit purwa, Gedhog, Madya dsb.

8. Tiap hari Selasa Kliwon ada tarian Bedhaya Ketawang Ageng.
9. Pembacaan serat-serat Macapat menjadi tradisi, yaitu dari buku:

1. Serat Babad Matarm
2. Serat Babad Kartasura
3. Serat Babad Giyanti
4. Serat Babad Prayut
5. Serat Rama
6. Serat Wiwaha
7. Serat Menak
8. Serat Asmarasupi
9. Serat Natacangkrama
10. Serat Sri Mataya
11. SeratSri Karongron dll.

Serat-serat tersebut teknik membacanya : sekar lagu peringgita dan alon-alon landhung (iramanya pelan seperti kidungan).

Nama-nama Gamelan si Kraton Sri Sunan Paku Buwono X diantaranya:
1. Gamelan Kodhok Ngorek
2. Gamelan Monggang
3. GamelanCarabalen
4. GamelanSekaten
5. Gamelan Gedhe
6. GamelanWayangan
7. Gamelan Manton (di luar keraton disebut : Tuk-Brul)

Penjelasan:
1. Gamelan Kodhok Ngorek
- Sistem dua nada.
- Digunakan pada saat:- Upacara-upacara (temanten, res supit dll)
-.Penghormatan- penghormatan.
- Tengara (pertanda)
- Urak senopati perang/sebagai pertanda perang
- Yang dibawa bupati-bupati mengikuti barisan atau perang.
KeistimewaanNada pelog, gender sledro.
Kinurmatan unining pradangga,
Kodok ngorek panatane,
neng bangsal angun-angun,
ingkang nabuh niyaga kering,
*agendhing kembang tiba (mungkin nama teknik tabuhan gender)*,
swaranira umyung,
saking racikaning gangsa,
raras pelog amung gendere tan mungil,
salendro rarasira
(Sri Karongron II hal.38)

2. Gamelan Monggang
- Sistem 3 nada, pelog.
- Nama : 1. Kyai Banjir, gamelan Monggang Kepatihan. & 2. Kyai Udan Arum, Gamelan Monggang Kasepuhan.
- Gamelan Setu atau Gamelan Patalon, bentuknya seperti Gamelan Kodhok Ngorek, gendhing menyerupai Monggang (Ket. Bp. Karyo Pradangga).
- Gamelan Setuseperti Gamelan Monggang, untuk iringan beksa watangan pada hari Sabtu di alun-alun (Serat Beksa oleh Singaprana). Gamelan Setu berasal dari Mataram (Jenggala, Demak, Mataram Sultan Agung).
Gunanya : Untuk penghormatan, iringan upacara dan pertanda.
- Gendhing Sebuah bernama Gendhing Monggang.

3. Gamelan Carabalen
- Nama : Kyai Sepetmadu & Kyai Madupinastika.

4. Gamelan Sekati
- Sekati - sekaten - nasehati - khotbah - sahadat tain - sahadat dua - berdasarkan ciptaan gamelan demak.
- Sekati - sesegking ati.
- Sekaten - sakatonan - saka tinggalan.
Pada jaman Sri Sunan Paku Buwono X, kecuali untuk:
a. Grebeg Mulud
b. Tinggalan Pawukon
c. Mengiringi ajad dalem berupa gunungan, ditabuh urut jalan dengan Gendhing Rambu (dari Sitihinggil hingga Masjid Besar)
Gunanya :
a. Penghormatan grebeg Mulud.
b. Pertunjukkan/pagelaran/Konser gamelan.
c. Iringan penghormatan keluarnya gunungan.
d. Tabuhan nguyu-uyu /tidak lengkap/tidak tabuhan klenengan.
Nama gendhing-gendhingnya:
1. Rambu, ladrangan, pelog lima. (gendhing wajib)
2. Rangkung, ladrangan, pelog lima. (gendhing wajib)

3. Barang miring, ladrangan pelog barang.
4. Semua macam gendhing, kecuali : Ketawang, Gangsaran, Lancaran, Ayak-ayakan, Srepegkan,, Sampak.
Bentuk buka dihilangkan, diganti "racikan bonang" sebagai buka.
Nama-nama Gamelan Sekaten:
a. Sekaten Ageng (Guntur Madu) - bangsal kanan.
b. Sekaten Alit (Guntur Sari) - bangsal kiri.
Penjelasan: Sekaten Ageng/Kyai Guntur Madu dari Sunan Paku Buwana IV dengan tanda bulatan pada ekor naga gayor, dengan gambar silang 4 seperti X (ket.Bp.Karyoparadonggo dan Bp. Prodjopangrawit)
Serat Sasanasunu, oloeh R.Ng. Yosodipura II - Sangkalan (Condrosangkala) = Sapta Catur Swareng Janmi - 1747 Jawa pada Jaman Sri Sunan Paku Buwana ke IV dan Sri Sunan Paku Buwana ke VI.
Kebiasaan upacara Raja dengan karawitan
Semua abdi dalam meniru pada kraton.
Meski ada larangan membunyikan gamelan pada upacara mantu di luar kraton, tetapi dilanggar juga. Menurut kebiasaan Raja; asalkan dengan syarat memohon pada Tuhan agar selamat dan dikatakan yang mengadakan tabuhan gamelan itu bukan kehendak orang yang punya kerja, tetapi harus diwakilkan.

*Gamelan Sekaten Alit berasal dari Demak, berhubung dibagi dua untuk Yogyakarta dan Sala pada jaman Giyanti, maka dibuatkan tiruannya (Demak, Pajang,Mataram, Kartasura ;dibagi dua) Yang ke Yogyakarta : Bonang ditambah separoh dari jumlah saron, lalu dilengkapi.

*Jaman Sri Sunan Paku Buwana ke IX, Sekaten memakai kendang dan kenong, sesudahnya tidak dipakai (ket.Bp. Projopangrawit).

*Jaman Sri Sunan Paku Buwana ke X, sekaten menurut aturan kuno, kendang diganti bedug.

*Menurut R.Ng.Djojokartiko di Surakarta dalam buku Serat Wedya Sangkala, menerangkan; bahwa hiasan gayor pada kyai Sekaten alit yang berupa Nagen yang pada ekornya terdapat cakran yang merupakan candra sengkala memet (merupakan nama siyung cinakra ratu, tahun 1538 Jawa, Jaman Mataram).

5. Gamelan Gedhe
- Kurang lebih 54 pangkon gamelan dalam keraton.
- ricikan paling lengkap, tetapi penontong tidak dipakai.
- Digunakan untuk Karawitan bebas :upacara-upacara, pasewakan, peralatan tamu dan lain-lain.
Karawitan sebagai iringan: Bedaya, Srimpi, Wireng dll.
Nama-nama Gamelan Gedhe:
1.Kyai Kaduk manis dan Kyai Manisrengga (pasewakan, untuk keperluan-keperluan).
2.Kyai Kancil Belik dan Kyai Guntur Madu.
3.Kyai Jimat dan Kyai Dewakatong (slendro-pelog)
4.Kyai Sukasih dan Kyai Pamedarsih (kepatihan)
5.Kyai Lokananta (tua)
6.Kyai Windusana dan Kyai Kutowindu (Nguyu-uyu)
7.Kyai Semar Ngigel (PB.X) mula-mula Kyai Semar Mendem (PB.IV)

*Ladrang Sir Vasan untuk untuk menghormat ketika Sri Sunan menerima anugerah bintang Groodkruis der Order Van Oranye Vasan (Gk.O.V.) dari Wihelmina.

*Nama-nama gending Panembrama (Serat Sri Karongron II) :
1.Sriwidada
2.Sri Wibawa
3.Sri Minulya
4.Sri Ketarto
5.Sri Kaloka
6.Sri Karongron
7.Sri Kuncara
Ket: Tak jelas pengarangnya, tetapi dari dawuh dalem.

*Gending-gending Penembrama yang jelas yasan (karya) Sri Sunan Pakubuwana X adalah:
1.Sri Kasusra
2.Ladrang Siyem
3.Sri Dayintawibawa
4.Sri Linuhung
5.Sri Rinengga
6.Sri Biwada
7.Biwadamulya

*Ciri-ciri gendhing Panembrama yasan (karya) Sri Sunan Pakubuwana X adalah:
1. Nama gnedhing sesuai dengan kepentingan.
2. cakepan berisi peristiwa perikehidupan Sri Sunan Pakubuwana X atau putra sentana.
3. Kebanyakan memakai nama Sri.
4. Karawitan dicipta atas lagu/vokal dan instrumental bersama-sama.

*Gending Panembrama dari gending klasik juga ada, misalnya: Gambirsawit untuk Sri Sunan menerima bintang Commandeur der Order van den Nedherlandsche Leeuw (C.N.L.) pada tanggal 31 Juli 1896.
*Pengarang gendhing-gendhing Panembrama:
1. yasan (karya) Sri Sunan Pakubuwana X.
2. R.Ng. Purbadipura.
3. R.T. Widaningrat.
4. K.G.P.A.A. Mangkunegara IV.
5. R.Ng. Bratadipradja
6. R.Ng. Djagakusuma.

"Semoga berguna"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar