Rabu, 26 Januari 2011

SERAT WEDHATAYA SALAH SATU DASAR ESTETIKA TARI JAWA SURAKARTA

Sakderengipun, Matur Sembah Nuwun Kagem : Dwiyasmono Staff pengajar jurusan tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

A. Pendahuluan
Keberadaan pustaka langka atau manuskrip tari jawa sampai
dewasa ini masih dipandang sebelah mata oleh para pelaku budaya
di masyarakat. Para ilmuwan dan penelitipun tidak banyak yang
tertarik pada masalah ini, hanya para peneliti yang mempunyai
dasar budaya Jawa yang mau menggeluti masalah ini. Hal ini
karena ada pemikiran bahwa sumber-sumber tersebut dianggap
telah ketinggalan jaman. Masyarakat pelaku budaya sekarang
cenderung lebih suka mengungkap beberapa masalah yang menjadi
mode/trend di masyarakat. Pustaka langka/manuskrip yang ada
tersebut mengandung nilai-nilai adiluhung. Beberapa pustaka
langka tersebut salah satunya adalah Serat Wedhataya. Pustaka
tersebut banyak mengungkap tentang seni tari Jawa gaya
Surakarta terutama menyoroti tentang konsep-konsep dan makna
filosofinya.

Penyusunan telaah pustaka dan manuskrip langka dalam hal
ini adalah Serat Wedhataya, yang masih berbentuk manuskrip
huruf Jawa kuno. Serat Wedhataya, menurut perkumpulan
Yogyataya, di Surakarta Hadiningrat adalah mencari makna dan
mengira-ira perihal cara membawakan tari Wireng Kuna. Karangan
ini disusun oleh murid-murid yang belum sempurna
pengetahuannya, sekedar untuk membukukan konsep-konsep tari,
jenis-jenis tari atau macam-macam tari yang diajarkan.


B. Analisa Bentuk dan Makna Sebelas Tarian dalam
Serat Wedhataya
Salah satu dari sedikit penjelasan tentang arti tari klasik
menurut orang Jawa, terdapat di dalam manuskrip dari awal abad
kedua puluh, yang berjudul Serat Wedhataya, ‘risalah (suci)
tentang seni tari. Anak judul risalah ini ialah: tegesipun piwulang
joged utawi piwulang mendhet suraosipun beksan wireng kina, ‘ arti
pelajaran tari, atau pelajaran mengambil makna dari tari
keprajuritan kuno’. Risalah ini dimulai dengan kalimat-kalimat
sebagai berikut:

‘Pakempalan Yogyataya, ing Surakarta Hadiningrat,
pangrehipun damel karangan serat dipun namekaken ‘Serat
Wedhataya’, gancaripun anyuraos saha anggrayangi solah
iraganipun beksa wireng kina, kapendhetan sagadukipun larelare
ingkang dereng sampurna pamawasipun, inggih namung
luwung kanggi panyatheting pamanggih, kados ing ngandhap
punika kawontenanipun. (NN.1923)

1.
Wiwit lenggah tumungkul, sila rapet kaliyan papan, punika
pasemon manungsa. Wiwitipun kedah andhap asor,
angengeti asalipun pasiten, lan asor ing alamipun.
2.
Manawi gangsa sampun sami mapan iramamipun, kedah
lajeng dhengek sapemandeng, asta kaleh kapangku, sikut
mengenceng, driji gandamaru; manawi gangsa ngelik lajeng
ngaras sareng gong. Punika pralambang: manawi manungsa
sampun lenggah dumadi, salam taklim, lajeng amawasa
kanthi kapurunan, ingkang ngantos kacepeng guthitanipun.
Dununging kawula gusti yen saged tamat dumugi raos, lajeng
manembaha dhateng ingkang Sipat Esa, mila dipun
namekaken beksa, raosipun ambeg sawiji saha ningga, inggih
punika piwulang yoga’.
‘Pengurus perkumpulan Yogyataya di Surakarta Hadiningrat
menulis sebuah kitab berjudul ‘Serat Wedhataya’, isinya
mencari makna serta mengungkap makna gaya gerak-gerik
tari keprajuritan kuno, diambil sejauh-jauh bagi anak-anak
yang masih belum tajam benar pemandangannya, sekedar
cukup sebagai pendapat, yaitu sebagai berikut:

1. Dimulai dengan
duduk tertunduk, bersila diam di tempat,
sebagai lambang tentang manusia yang harus bermula
dengan sopan santun, ingat tentang tanah asalnya, serta
sifatnya yang hina.
2.
Jika suara gamelan telah siap berirama, lalu angkatlah muka
ke depan, kedua tangan dipangkuan, siku meregang, jarijemari
yang berjalinan; apabila gamelan melengking lalu
bersembah bersamaan dengan bunyi gong. Ini merupakan
tamsil: apabila orang telah tahu tentang kedudukan makhluk,
lalu dengan taklim tataplah dengan berani, sehingga
tertangkap akan seluk-beluknya. Jika kedudukan makhluk
khalik telah tuntas terselami, maka bersembahlah kepada
Yang Bersifat Tunggal; karenanya disebut beksa, yang
maknanya berwatak manuggal serta muksa, demikianlah
ajaran yoga. (Brakel:18)

Seperti tersimpul di dalam judulnya, risalah ini membicarakan
masalah tari sebagai suatu bentuk kesenian yang mengungkapkan
konsep-konsep filsafat (mataya), dan memandang gerak-gerik
tarian sebagai olah yoga. Karena itu risalah ini tidak saja
mengemukakan aturan-aturan dan kaidah-kaidah tentang cara-cara
yang benar dalam memperagakan komposisi tarian (beksan), tetapi
diawali dengan menerangkan tentang simbolisme dan makna
batiniah (rasa) dari gerak-gerik tarian.

Baik sikap guru tari maupun murid-muridnya (siswa) sangat
dipengaruhi oleh pendapat, bahwa penyusun dan pembesutan
gerak-gerik tari Jawa klasik didasarkan kepada ide-ide estetika dan
filsafat, yang diambil dari dan berhubungan dengan peribadatan
keagamaan. Ini merupakan satu penjelasan atas kenyataan, bahwa
tarian merupakan pernyataan artistik dari kebudayaan Jawa yang
sangat diagungkan, yang telah dikembangkan pula menjadi suatu
bentuk kesenian yang paling rumit. Maka leksikon Jawa yang
sangat kaya dan beraneka ragam itupun merupakan petunjuk,
tentang betapa penting kedudukan tari di dalam kebudayaan Jawa.

Menurut Wedhataya (1974.20) gerakan pertama yang harus
dilakukan penari, sesudah berdiri dari sikap duduk di lantai,
dinamakan laras. Adapun peragaan dan maknanya, seperti
diuraikan di dalam bagian awal kitab ini, sebagai berikut:

‘Lajeng jumeneng winastan Laras, mlampah ngiwo nengen
wangsul tengah, pralambang rehning sampun mangertos
dhateng dunungipun Ingkang Sipat Esa, lajeng kalarasa
ingkang waspada ing jawi lebet’.
Lalu berdiri (dan melakukan gerakan) yang disebut ‘laras’,
melangkah ke kiri, kanan, dan kembali ke tengah; sebagai
tamsil, setelah tahu kedudukan Yang Maha Tunggal, lalu
laraslah dengan cermat, lahir dan batin’.

Apabila didalam paragaraf di atas kata laras digunakan untuk
menyebut gerak-gerik, yang dilakukan penari sesudah berdiri,
maka kepentingan konsep laras di dalam toeri dan praktek tari
diterangkan lebih lanjut pada paragraf berikut:

‘Wosipun ngagesang punika, kedah sampurna panglarasipun,
ing badan pribadi, ing jawi lebet, liripun: tumrap larasing
jawi, tiyang badhe njoged Alus, sarira kedah lurus, polatan
tajem, pasemon sumeh; ingkang beksa Branyak sarira repeh
kewes, pasemon wingit; ingkang beksa Bergas sarira antar
pasemon ladak; ingkang beksa Sareng-regu dedeg kepara
ageng inggil, radi balung kawetu, pasemon andik angajrihi.
(Brakel:21)

‘Intisari hidup ialah agar laras sempurna, dalam diri pribadi,
jiwa raga, maksudnya: tentang laras raga, jika orang akan
menarikan tarian alus, harus bertubuh lurus, pandangan
tajam, raut muka manis; jika menarikan branyak, tubuh
bersahaja dan luwes, air muka berwibawa; jika menarikan
tarian bergas, tubuh tenang, raut muka congkak,; jika
menarikan tarian sereng-regu,sosok tubuh agak tinggi besar,
tampak kuat dan raut muka keras menakutkan.


Uraian tentang larasing jawi, keselarasan lahiriah, ini diikuti

dengan uraian tentang kekuatan keselarasan batiniah (larasing

batin), yang memungkinkan orang mempengaruhi nasib, yaitu

dengan jalan mengendalikan pikiran dan perasaan, walaupun

tetang ini dipandang sukar melaksanakan.
Pada paragraf selanjutnya, empat macam ‘keselarasan

lahiriah’ itu sebagaimana terungkap di dalam empat gaya tarian

utama: alus, branyak, bergas, dan sereng-regu – dihubungkan

dengan pembagian masyarakat menurut hindu menjadi empat

golongan yang terkenal itu:
Jalaran manungsa punika, inggih pinerang sekawan pangkat:
satunggal Brahmana, kalih Satria, tiga Waisya, sekawan
Sudra; punika para penggalihan sampun ngantos kalentu
panglarasipun, dhumeh atmajaning pandhita ‘tamtu watak
Brahmana, putraning narendra tamtu ambeg Sinatriya,
sutaning saudagar tamtu watak Waisya, anaking pakathik
tamtu watak Sudra.

Manawi katetepaken makaten, taksih saged lepat, jalaran
sadaya tiyang kadunungan manungsa sejati, sekawan bangsa
punika gadhah kewajiban piyamabak-piyambak, ugi
ginanungan nistha madya utami sowang-sowang, punapa
malih sipating Pangeran Rahman Rohim, murah asih,
kepareng nyenyuwun santuning wateg, sok wategipun
santun-satun bangsanipun inggih ugi santun: Brahmana
saged santun Satria, Satria dados Waisya, Waisya dados
Sudra, Sudra dados Brahmana, makaten umpaminipun.
Ananging manawi sampun minggah, inggih kalayan rekaos,
beda yen maleret, inggih gampil kalaksananipun, awit gesang
punika lahiripun yen mboten upakara, inggih saya suda
ajinipun, sangsinipun Panjenengan Nata, ngawontenaken
putra nata, putra nata lajeng wayah-buyut-canggah, lajeng
limrah tiyang, bebujengan, woh-wohan sesekaran, saya lami
saya suda woh sekaripun, ugi suda ajinipun.

Ananging gesanginpun jiwa ingkang tumimbal dumadi,
panedhanipun sangsaya lami sedyanipun saya minggah, mila
patraping ngagesang punika manawi kalaras sayektos
panedha inggih gawat sanget. (Ibid.22)
Oleh karena umat manusia terbagi menjadi empat bagian:
yang pertama Brahmana, kedua Satria, ketiga Waisya, dan
keempat Sudra; tentang ini para pemerhati jangan sampai
menjadi sumbang: mentang-mentang anak pendeta pasti
berwatak Brahmana, anak raja pasti berpengarai Satria, anak
pedagang pasti berwatak Waisya, dan anak budak sahaya
pasti berwatak Sudra.
Jika dipastikan seperti itu, masih bisa terjadi kesalahan.
Sebab setiap manusia mempunyai jati diri, empat golongan
itu punya kewajiban sendiri-sendiri, juga membawa serta
kehinaan, kegairahan, dan keluhuran masing-masing. Apalagi
sifat Tuhan yang pemurah dan pengasih, dimungkinkanlah
memohon perubahan watak; jika watak berubah golongannya


pun berubah: Brahmana bisa menjadi Satria, Satria menjadi
Waisya, Waisya menjadi Sudra, Sudra menjadi Brahmana,
demikianlah misalnya. Tetapi jika berubah naik tentu dengan
susah payah, beda dengan berubah turun mudah saja
terjadinya. Karena semua makhluk hidup ini kenyataannya,
jika tanpa asuhan akan semakin berkurang nilainya. Contoh
Baginda Raja, yang melahirkan putera raja, putera rajapun
bercucu-cicit-piut, lalu awam biasa, beranak-pinak, berbuah
berkembang-biak, semakin lama semakin berkurang buah
dan bunganya, demikian pula berkurang harkat martabatnya.
Tetapi kehidupan jiwa yang terus menerus bertumbuh,
menuntut semakin lama semakin ke atas; oleh karena itu
tingkah laku hidup ini, jika benar-benar hendak dilaras,
tuntutannya sungguh sangat berat.
Di dalam paragraf ini, dengan agak secara tersirat, empat

gaya tari tersebut digolongkan dengan empat golongan
masyarakat. Arti penting keadaan keselarasan dijelaskan sebagai
suatu prerogatif bagi kesempurnaan jiwa, atau setidak-tidaknya
bagi ‘pendakiannya’ melalui berbagai-bagai eksistensi. Teori ini
sesuai dengan filsafat hidup Hindu-Budha yang meresapi pemikiran
Jawa serta bentuk-bentuk kesenian tradisionalnya. Dengan
demikian seni tari, menurut Wedhataya, memainkan peranan
sebagai olah yoga bagi makhluk hidup di dalam berdaya upaya
menyempurnakan dirinya sendiri.

Menurut pandangan ini raga dianggap tempat kediaman
sementara bagi jiwa, dan di sisi-sisi kanan dan kirinya merupakan
tempat daya kekuatan ‘baik’ dan ‘buruk’ yang berebut kekuasaan
di dalam setiap pribadi seseorang. Sedikit banyak ini merupakan
penjelasan tentang tata-sibuk dalam tari Jawa dengan gerak-gerik
sisi kanan dan kiri berganti-ganti, terutama dengan kedua tangan
dan lengan. Demikian, selagi penari masih duduk di lantai, ia
melakukan beberapa gerak-gerik tangan tertentu ke samping
kanan dan kiri tubuh, yang di dalam Wedhataya diuraikan sebagai
berikut:

‘…lajeng mratingkahaken asta kiwa lan tengen, driji
kagathukaken tengah sami tengah, asta kiwa lan tengen
kapetha silih ungkih, genthos kasor, wekasan ingkang kiwa
kalimputan ingkang tengen, punika pasemonipun, tindak
ngiwo punika ateges awon, nengen sae, dados menawi sae
sampun saged angungkuli awonipun, lajeng kanggea sare
manembah ingkang sawiji, nanging ingkang awon kadu
nungna panggenanipun, ingkang sae dipunkurepana, mila
rampungipun manembah, asta kiwa wangsul mangiwo, asta
tengen mangkureb ing suku tengen, punika sampun leres’.

‘…lalu tangan kiri dan kanan digerakkan, jari-jemari
dipertemukan yang tengah sama tengah, tangan kiri dan
kanan seolah-olah saling dorong, kalah mengalahkan,
akhirnya yang kiri dikuasai yang kanan; ini merupakan tamsil
bahwa jalan kiri berarti buruk, dan kanan baik; hingga, jika
baik telah bisa menguasai buruk, lalu gunakanlah beristirahat
bersembah dengan bulat hati. Tetapi si buruk dudukkanlah
pada tempatnya, dan telungkupkanlah si baik. Maka usai


bersembah, tangan kiri kembali ke kiri, tangan kanan

tertelungkup di kaki kanan, demikianlah cara yang benar’.
‘Perjuangan kekuasaan’ antara kanan dan kiri memasuki seluruh
aspek tari: gerak-gerik cenderung dilakukan oleh anggota badan
kiri dan kanan berganti-ganti, kepala dipalingkan bergantian ke
kanan dan ke kiri, pola-pola spasial para penari cenderung imbang,
atau bergantian antara orientasi-orientasi kiri dan kanan, atau
utara dan selatan/timur dan barat.

Wedhataya, kapanpun menyebut gerak-gerik dan posisi
tarian, tidak sekedar melukiskan tentang bentuk-bentuknya saja,
tetapi sekaligus mengemukakan pasemon atau interpretasi
simbolisnya. Di dalam buku ini simbolisme memberikan alasan, baik
bagi bentuk maupun gerak-gerik tangan dan sikap tubuh. ia
memberikan keterangan tentang cara penggelaran yang telah
diperhalus. Dan setepatnya, yang merupakan ciri khas bagi
koreografi-koreografi klasik yang disebut beksan itu.

Kata ‘klasik’ mungkin memerlukan penjelasan sekedarnya:
saya gunakan kata ‘klasik’, apabila dimaksudkan tari-tarian Jawa
digubah dan dipergelarkan menurut aturan-aturan yang ditetapkan
oleh guru tari dan pemain gamelan. Pathokan atau aturan-aturan
tersebut dengan secermat-cermatnya menentukan, bagaimana
masing-masing bagian tubuh melkukan gerak-gerik, atau dibentuk
menjadi sikap tubuh tertentu; bagaimana pula sesuatu koreografi
harus disusun, serta bagaimana alunan gerak-gerik harus serasi
dengan alunan musik (gemelan). Walaupun didalam situasi praktek
tari yang senyatanya semua ini disampaikan dari guru ke siswa dan
juga dari siswa yang satu ke siswa yang lain terutama sebagai
suatu tradisi lisan, namun tentang penerapannya bisa kita temukan
informasi sekedarnya di dalam beberapa risalah tertulis tentang tari
Jawa.

Di dalam Wedhataya biasanya aturan-aturan koreografi tidak
dinyatakan secara eksplisit, namun sedikit banyak bisa ditemukan
di dalam bagian-bagian deskriptif, seperti di dalam paragraf yang
menjelaskan bagaimana corak watak pokok harus dinyatakan
melalui gerak-gerik tari:

‘ Bakuning jagad sekawan warni: Alus, Branyak, Bergas,
Sereng-regu. Sekaraning jagad ingkang dados pada,
wastanipun tanjak, punika ugi, sekawan: yen beksa Alus
tanjakipun ’gangeng kanyut’, tlapakan semu jengat, dhengkul
katekuk, tandukipun ngantuni gong tengahing sereng; yen
beksa Branyak tanjakipun ‘prenjak tinaji’, dhengkul nekuk
sawetawis, tungkak mancat, tumandukipun nyarengi gong;
yen beksa Bergas tanjakipun ‘banyak silulup’ suku nekuk
semu nggrodha, tlapakan napak leres, lambung jaja
manglung, jangga tumungkul lajeng dhengek, tumandukipun
radi ngrumiyini gong; beksa ingkang Sereng-regu tanjakipun
‘kebo menggah’, patrapipun suku njangkah tlapakan tumapak
leres, lambung, jaja, jangga semu jejeg, tandukipun nyarengi
gong, ananging tandukipun sarira kedah runtut, pramila
lagunipun sesekaran warni-warni wau, inggih katinggal laras
saba turut’.


‘ada empat pokok jenis tari: halus, Branyak, Bergas, dan
Sereng-regu. Maka ada empat macam pula pola-pola tarian
untuk kaki yang dinamakna tanjak itu. Tanjak untuk tarian
halus ialah ’ganggeng kanyut’: telapak kaki agak menjungkat,
lutut berkeluk, gerakannya menyusul gong di saat meninggi;
tanjak tarian Branyak ialah ‘prenjak dipanah’. Lutut agak
berkeluk, tumit menumpu, gerakan bersama gong; tanjak
tarian Bergas, ‘angsa menyelam’: lutut menekuk bagai
garuda, telapak kaki menapak rata, lambung dada
melambung ke depan, leher menunduk kemudian diangkat,
gerakan sedikit mendahului gong; tanjak tarian Sereng-regu,
‘kerbau marah’: kedudukan kaki menjangkah, telapak kaki
menapak datar; lambung, dada, dan leher agak tegak,
gerakan bersamaan dengan gong. Tetapi gerak-gerik tubuh
tentu harus selaras, sehingga berbagai macam pola itupun
menjadi terlihat laras, lagi pula seirama.’
Uraian tersebut di atas mengandung beberapa petunjuk

penting untuk apresiasi tari Jawa, yaitu bahwa: empat jenis tarian
pokok itu (alus, branyak, bergas,dan sereng-regu) ditarikan dengan
empat gaya pokok yang selaras. Keempat-empatnya dinamakan
menurut gejala-gejala alam, yaitu bentuk dan gerak-gerik tumbuhtumbuhan
dan hewan. Dlam hal ini punjuga tampak adanya
hubungan yang dinamis antara alunan gerak-gerik tarian dengan
alunan suara gendhing, dan dalam hal ini pukulan gong memainkan
peranannya yang penting.

Susunan koreografi-koreografi klasik tidak saja berhubungan
dengan ulah yoga, tetapi juga dengan seluruh seluk-beluk
pemikiran Jawa sebagaimana yang terungkap di dalam cerita-cerita
tutur sejarah atau keagamaan, didalam tembang, wayang dan
dalam seni pertunjukan umumnya. Memang seni tari merupakan
suatu aspek penting dalam seni wayang. Bukan saja karena taritarian
tersebut mengambil temanya dari cerita-cerita yang
dimainkan dalam wayang, tetapi didalam pergelaran-pergelaran
wayang itu para pemainpun sering menggunakan gerak-gerik
stilisasi, atau tarian sepenuhnya.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap stilisasi beksan ialah
keadaan lingkungan, tempat beksan itu secara tradisional
dimainkan. Beksan dirancang untuk dimainkan di sebuah
pendhapa, yaitu ruangan bersegi empat dan berpilar, yang terletak
di depan bangunan tempat tinggal utama pada rumah Jawa. Sesuai
dengan ruang tengah segi empat pendhapa itu, maka koreografi
klasik mengarah pada seluruh empat penjuru mata angin. Maka
beksan ini pun mempunyai bagian-bagian pendahuluan dan
penutup, yang memungkinkan bagi penari tampil ke-atau
mengundurkan diri dari ruang tengah, tempat penggelaran utama
tarian tersebut.

Walaupun gerak-gerik tari klasik harus ditarikan dengan gaya
yang sangat luwes, serta mengikat bahwa beksan terikat oleh
banyak patokan, namun hal ini tidak harus berarti koreografi selalu
sama sekali telah ditetapkan (oleh seorang koreograf tertentu)
dalam setiap seluk-beluknya, sebelum koreografi itu ditarikan. Juga
tidak benar jika dikatakan, bahwa praktek dan apresiasi tari-tarian


klasik demikian itu harus merupakan prerogatif suatu golongan
‘elite’, sebagaimana dikemukakan oleh beberapa penulis tentang
tari Jawa.

Dalam menarikan beksan, energi amnusia dicurahkan
sedemikian rupa untuk menciptakan keindahan dan keselarasan
dari segala sudut, baik lahiriah maupun batiniah. Pada akhirnya
pertunjukan tari klasik Jawa ditujukan untuk menumbuhkan
ketajaman budi dan kesiagaan, sehingga memungkinkan mansusia
menghadapi kesulitan hidup dengan tenang, kepala tegak dan
senyum, yang sejak lama dipandang sebagai ciri karakteristik
kebudayaan Jawa.

Dalam bab ini di uraikan analisis beberapa tarian wireng putra
alus diantaranya:

1. Dhadap Kanoman
2. Dhadap Kareta
3. Dhadap Alus
4. Beksan Tameng Badung
5. Beksan Tameng Gleleng
6. Beksan Tameng Towok
7. Beksan Lawung Alit
8. Beksan Jemparing Alit
9. Beksan Gelas
10.
Beksan Panji Enem
11. Beksan Panji Sepuh
(Wedhataya.1923:28.Kridawayangga.1925:48-50.Sastra Miruda.
1930:51-54)
Secara rinci diulas makna dan maksud dari tiap-tiap tarian
tersebut.

1. Dhadap Kanoman
Tarian ini disajikan oleh 4 orang penari dengan gerak yang
sama menggunakan gending karawitan tari Rangsang Tuban pelog
pathet nem. Tari Dhadap Kanoman adalah dalam mencapai cita-cita
dan keinginan yang berlandaskan budi pekerti luhur selalu gigih
biarpun ada rintangan di depannya. Semua itu akan terwujud
apabila dilandasi ketulusan hati dalam pendekatan diri kepada-Nya.
Hal ini tergambar juga dalam iringan tari Karna Tinandhing yang
mempunyai kesan tenang, agung dan berwibawa sangatlah
harmoni utnutk mendukung gambaran perjalanan hidup manusia
yang mempunyai ketenangan jiwa dan berwibawa dalam
menyelesaikan masalah dalam pengambilan keputusan serta
mempunyai privasi harga diri yang agung. Sesuai dengan nama
beksan Dhadap Kanoman dapat diinterpretasikan bahwa
watak/karakter dalam tarian tersebut adalah penggambaran dari
manusia yang menginjak dewasa dengan belajar ketenangan diri,
kewibawaan, kepemimpinan, yang selanjutnya menemukan jati diri
sebagai manusia yang mempunyai derajat keagungan (menjadi
manusia dewasa).

2. Dhadap Kareta
Dhadap Kareta rakit 4 penari gending Segaran pelog pathet
nem. tari Dhadap Kareta mempunyai maksud sebagai lambang
kehidupan manusia yang banyak menampilkan dualisme baik –
buruk, suka cita, benar salah yang kemudian seseorang dapat


memilih sesuai dengan kata hatinya untuk menuju keabadian yang
khaliq. Dari kata kareta yang berarti kreta sebagai titian/ajaran
tentang baik buruk, benar salah, juga lambang ajaran untuk
mencapai kehidupan yang abadi. Gending Segaran pada tari
Dhadap Kareta mempunyai kesan agung, berwibawa, tenang. Hal
ini melambangkan juga dualisme kehidupan manusia yang harus
memilih sesuai dengan kehendak hati pada pilihan yang baik.

3. Dhadap Alus
Dhadap Alus rakit 4 penari, gendhing ladrang Kuwung pelog
pathet barang. Tari beksan Dhadap Alus ada 4 orang penari sebagai
batak, gulu, dada dan buncit. Batak sebagai lambang pikiran
manusia yang bisa memilihkan antara benar, salah, baik, buruk
dan segala tindakan yang sesuai dengan alam pikiran manusia.
Gulu sebagai lambang nafsu yang ada pada manusia sebagai
keinginan untuk dapat dipenuhi. Dada merupakan pengendalian
rasa dari tindakan pikiran manusia untuk memenuhi nafsu. Buncit
merupakan emosi jiwa dari manusia sebagai penebalan nafsu. Tari
Dhadap Alus sebagai lambang pertentangan antara pikiran, nafsu,
perasaan dan emosi jiwa dalam diri manusia. Dalam tari Dhadap
Alus pikiran dan emosi maupun sebaliknya. Akan tetapi
keempatnya merupakan satu kesatuan yang harus ada dalam hidup
seseorang. Namun bagaimana seseorang dalam mensikapinya
dapat mengendalikan pikiran, nafsu, perasaan dan emosi sehingga
tercipta suatu keseimbangan yang harmonis dari keempat unsur
tersebut. Hal ini tergambar dari akhir perang dalam tarian tersebut
yang sama geraknya maupun arah hadapnya. Dari uraian ini dapat
disimpulakan antara pikir, nafsu, rasa dan emosi dalam diri
seseorang hendaknya merupakan unsur yang saling menunjang
untuk menuju ke arah perilaku yang baik. Hal ini juga didukung
oleh gending ladrang Kuwung sebagai iringan tari Dhadap Alus
yang punya kesan rasa tenang dan agung. Kesan ini juga sebagai
interpretasi nama beksan Dhadap Alus yang menekankan pada
perilaku manusia yang tenang serta mempunyai kewibawaan untuk
mengambil keputusan dengan pertimbangan keagungan jiwa
sebagai wujud rasa manembah.

4. Beksan Tameng Badhung
Beksan Tameng Badhung rakit 4 penari, gendhing Kedhaton
Bentar slendro pathet nem. Beksan Tameng Badhung tersirat rasa
congkak. Sikap manusia yang mengandalkan kekuatan serta
kadigdayan fisik dalam meraih keinginan yang dilakukan dengan
sepenuh hati dalam menghadapi masalah yang menghadang.
Kebulatan tekad ditonjolkan tampak mempertimbangkan akibat
yang timbul maupun rasa hatinya/mengabaikan perasaan, yang
pokok mementingkan keinginan dan cita-citanya supaya terwujud.
Dengan kata lain gambaran perilaku dan sikap manusia yang
diperbudak oleh nafsu. Kesombongan dan kecongkakan terasa
tampak tebal. Dilihat dalam gendhingnya dalam tarian ini
mempunyai kesan gagah yang sedikit sombong. Hal ini harmonis
dengan analisis beksannya yang punya kesan gagah sombong
dalam perilaku manusia serta menganggap remeh sesuatu
masalah. Sehingga yang terlihat watak yang sombong namun tidak
mempertimbangkan akibat yang timbul dari perbuatannya. Dalam


hidup manusia kesombongan merupakan bagian dari sifat
kehidupannya. Meski tebal tipisnya seseorang berlainan. Dari nama
beksan Tameng Badhung terlintas interpretasi bahwa tarian ini
mempunyai kesan sombong, congkak dan menyiratkan sebuah
sikap tingkah laku dalam kehidupan seseorang yangpenuh dengan
kedombongan diri dalam menesikan masalah maupun dalam
mengambil keputusan.

5. Beksan Tameng Gleleng
Beksan Tameng Gleleng 4 rakit penari gendhing Jong Meru
Kudus pelog pathet barang. Pada prisipnya makna yang ada pada
beksan Tameng Gleleng hampir sama dengan makna beksan
Tameng Badung hanya perbedaannya pada beksan Tameng Gleleng
dalam memperlihatkan kesombongannya lebih tebal. Hal ini dalam
memperlihatkan bahwa penggambaran yang ada pada beksan
Tameng Gleleng adalah merupakan penggambaran manusia yang
berperilaku semaunya sendiri dan cenderung humoris (mempunyai
sifat melucu/ gecul agak mengejek serta meremehkan. Namun
dibalik itu mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan
permasalahan yang dihadapinya. Dari gendinya dapat
diinterpretasikan berkesan gagah sedikit rasa/berkesan gecul. Hal
ini menebalkan kesan gagah yang bercampur geculan yang
menimbulkan kesan kesombongan. Dari nama beksannya tersirat
juga kesan bahwa beksan ini menggambarkan kesan gagah yang
sedikit ada rasa geculnya.

6. Beksan Tameng Towak
Beksan Tameng Towak rakit 2 penari, menceritakan perang
tanding Patih Pragota dan Patih Dora Sembada, gendhing Gala
Ganjur slendro pathet sanga. Kesan pada tari ini merupakan
penggambaran dari seseorang berperilaku gagah tetapi dalam
menampilkan kegagahan itu didominasi oleh rasa gecul yang tebal.
Dalam penggambaran hidup seseorang pengambilan keputusan
tidak harus disikapi dengan keseriusan/formal, tetapi kadang kala
seseorang dalam menyelesaikan masalah disikapi dengan rasa
humoris yang tidak mengurangi tujuan dalam menyelesaikan
masalh tersebut. Hal ini tergambar dalam koreografi dari Tameng
Towak yang menampilkan Patih Pragota dan Patih Dora Sembada
sebagai perwakilan dari sikap-sikap gecul namun tidak terlena
dengan tujuan yang dicapai. Dari gendhing Kala Ganjur tersirat
kesan gagah gecul sehingga secara komposisi serasi dengan
tarinya.

7. Beksan Lawung Alit
Beksan Lawung Alit, rakit 4 penari, gendhing Embat-embat
Penjalin, slendra pathet sanga. Kesan beksan Lawung Alit ini
hampir sama seperti yang ada pada beksan Tameng Towok, tapi
kesan glenyengan tidak terasa melainkan yang terasa terkesan
tegas dan cakrak cenderung dengan kejelian dalam pengambilan
keputusan. Dari gendhing yang mengiringi terkesan gagah cakrak
penuh dengan kepastian dalam melangkah menentukan suatu
tindakan. Sikap ketegasan yang selalu diutamakan dalam
melangkah mengambil keputusan. Hal ini terkait erat dengan
komposisi tarinya.

8. Beksan Jemparingan Alit

Beksan Jemparingan Alit, rakit 2 peanri, gendhing Lengku
pelog pathet enem. Kesan yang tersirat pada beksan ini adalah
mengenai masalah baik buruknya. Penyelesaian masalah disikapi
dengan kehalusan budi dengan cara mempertimbangkan rasa dan
pikiran. Hal ini tidak merugikan satu dengan lainnya. Dari
gendhingnya dapat diinterpretasikan berkesan manis dan tenang.
Hal ini sesuai dengan komposisi koreografi tarinya.

9. Beksan Gelas
Beksan Gelas rakit 4 penari, gendhing Kagok Manduro slendro
pathet sanga. Beksan Gelas merupakan gambaran seseorang yang
tidak menguasai nafsunya, sehingga dalam dirinya timbul rasa
ketenangan karena semua nafsu yang terdapat dalam dirinya saling
mengisi, sehingga manusia itu dapat mengontrol dirinya dalam
menghadapi permasalahan yang secara eksplisit terlihat saling
mengisi itulah timbul/akan menimbulkan suatu keseimbangan,
sehingga tidak terjadi kontra dalam dirinya. Dilihat dari gendhing
tarinya yang berkesan gagal, sigrak, dan penuh dengan kedamaian
terasa harmonis dengan komposisi koreografi tarinya. Dari properti
gelas gergelek pada tari gelas mencerminkan suatu kseimbangan
antara wadah dan isi yang mana keduanya saling ada dan
melengkapi dalam kesatuan fungsi. Hal ini secara implisit tersirat
pada keseimbangan nafsu yang ada pada diri manusia, dimana
antara kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirinya ada saling
melengkapi.

10. Beksan Panji Enem
Beksan Panji Enem,rakit 2 penari, gendhing Sobrang pelog pathet
barang. Beksan Panji Enem menggambarkan masalah-masalah
yang terkait dengan baik-buruk. Hal ini tersirat penggambaran
tentang dualisme baik, buruk, benar, salah yang ada pada setiap
manusia yang merupakan suatu pilihan yang disikapi dengan
kebesaran hati. Dengan gendhing Sobrang terkesan gagah wibawa,
tenang. Secara implisit tersirat pada keterangan jiwa seseorang
dalam mensikapi dualisme yang harus memilih. Dengan arti kata
lain proses pendewasaan diri pada seseorang dalam menemukan
jati dirinya. Dari kata Panji yang berarti mapan/jidan enem yang
berarti muda, merupakan proses pendewasaan diri dalam pikiran,
tindakan dan perasaan.

11. Beksan Panji Sepuh
Beksan Panji Sepuh, rakit tunggal, gendhing Eling-eling
Kasmaran juga sering playon gangsal kalau mau dipakai wireng
nayuban gendhing-gendhingnya ladrang manis pelog pathet
barang, kalau mau kalajoran dijatuhkan ladrang Manis Betawen.
Beksan ini tersirat gambaran seseorang yang sudah mencapai
tingkatan dewasa, dalam arti pikiran, rasa maupun tindakan yang
dilakukan dengan penuh kebesaran jiwa, wibawa, andap asor,
bijaksana dalam mengambil suatu keputusan serta sifat legawa,
sareh dan pasrah serta cenderung bersifat ngayomi. Dari
gendingnya tersirat kesan manis dan penuh romantis yang sesuai
dengan komposisi tari yang menampilkan kesan kedewasaan
seseorang baik dalam pikiran, hati, maupun tindakan serta
kebesaran jiwa dalam mensikapi suatu masalah. Sifat pasrah,
andap asor dan legawa selalu diutamakan. Dari kata sepuh berarti


anepuhi/menyepuh adalah tingkatan kedewasaan seseorang baik
pikir, rasa, maupun tindakan yang tergambar dalam kebesaran jiwa
dan tindakan yang penuh dengan kepasrahan, legawa dan
sumarah.

KESIMPULAN

Manuskrip tentang tari Jawa gaya Surakarta sulit didapat dan
dipahami, oleh karena itu diperlukan kejelian untuk membaca
maupun menterjemahkan sekaligus mencari manuskrip-manuskrip
yang ada di kraton maupun perpustakaan-perpustakaan yang ada
di Surakarta. Salah satu manuskrip untuk telaah ini adalah
manuskrip Serat Wedhataya. Wujud asli manuskrip itu berupa
tulisan Jawa carik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Jawa yang kemudian dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia
untuk memudahkan telaah atau pengkajian dalam mencari makna
yang tersurat pada tulisan tersebut.

Hasil telaah yang telah didapat diantaranya adalah bahwa tari
merupakan pralambang manusia yang menyadari dalam kehidupan
akan hubungan dengan Tuhan sebisa mungkin sampai memahami
rasanya. Setelah memahami rasa yang ada pada dirinya kemudian
menyembah dengan jalan memohon pada Tuhan, yang kemudian
diartikan/dimaknai sebagai pelajaran yoga. Selain itu juga dapat
dimaknai bahwa dalam Serat Wedhataya di dalamnya menunjukkan
nama-nama tentang dualisme kehidupan manusia diantaranya baik
buruk, benar salah, suka cita dan lain-lain yang dalam
penggambaran nyata divisulisasikan pada sebelas tarian yang ada
dalam manuskrip Serat Wedhataya tersebut.

Pada Serat Wedhataya juga digambarkan perilaku manusia
yang divisulisasikan dalam bentuk-bentuk sekaran yang ada pada
sebelas tarian tersebut sehingga dalam kehidupan manusia,
perilaku-perilaku tersebut menjadi dasar untuk menggolongkan
manusia ke dalam empat tatanan/tingkatan yaitu Brahmana,
Satria, Waisya dan Sudra.

Pada Serat Wedhataya juga dijelaskan bahwa pertumbuhan
hidup manusia dari tingkat remaja (muda) sampai tingkat dewasa
mengalami perubahan jiwa, batin, dan emosi yang disertai nafsu



nafsunya dalam proses pendewasaan perilaku maupun jiwanya. Hal
ini digambarkan secara jelas pada bentuk-bentuk tarian
diantaranya Dhadap Kanoman, berbagai wireng yang kemudian
sampai pada bentuk tarian Panji Sepuh.

DAFTAR PUSTAKA

Brakel Clara Papenhuyzen. Kerja sama dengan Ngaliman S. Seni
Tari Jawa Tradisi Surakarta dan Peristilahannya. Belanda
University Leiden. Proyek Pengembangan Bahasa Indonesia.
Alih Bahasa Musabyo.

Kamajaya. 1986. Serat Centhini. Jojakarta. Yayasan Centhini.

Pakempalan Yogyataya. 1979. Serat Wedhataya. Surakarta. Seksi
Perpustakaan Diskotik dan Museum Konservatory Karawitan
Indonesia Surakarta (turunan)

Poerwadarminta W. J. S. Kabantu Soedarmo C. S. Poedja Soedira

J. Chr. 1939. Baoe Sastra Djawa. Ingkang Kangge Antjerantjer
Serat Baoe Sastra Djawi Wlandi Karanganipun T. H.
Pigeaud ing Ngajogjakarta. Wolter Suit Gevers – Maatscha
PPIJ Groningan. Batavia.
Prawiro
Atmojo. 1993. Busastra Jawa Indonesia. Jakarta. Haji
Masagung. Cetakan ke V.
Sastrakartika. 1925. Serat Kridha Wayangga (Pakem Beksa). Solo.
Trimurti.


Sastra Lesana. 1620. Kagoenan Djawi. Bab Beksa. Jilid I. solo.
Sadoe Boedi.

Soewojo Wojowasito. 1970. Kamus Kawi (Djawa Kuno) –Indonesia.
Malang. AM Publiksai Ilmiah Fakultas Keguruan Sastra dan
Seni I.K.I.P. Malang.

Sudarsono. Ben Suharto. Sumandiyo Hadi Y. Djoko Waluyo W.P.
Sudarsono R. B. 1977/1978. Kamus Istilah Tari dan
Karawitan Jawa. Jakarta. Proyek Penelitihan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan Daerah.

Sudaryanto. 1991. Kamus indonesia – Jawa. Yogyakarta. Duta
Wacana University Press.

Warsadiningrat. 1980. Wedhapradonggo. Ed. R. Wiranta. Surakarta
(SMK).

Winter Sr. C. F. 1991. Pnj: R. Ng. Rangga Warsita. Kamus Kawi –
Jawa. Yogyakarta. Gajah Mada University Pres.

Zoetmulder. P. J. Bekerjasama dengan S. D. Robson. 1995. Kamus
Jawa Kuno – Indonesia 1 – 2. Penerjemahan Daru Suprapto.
Sumarti Suprayitno. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama


2 komentar:

  1. Bagi teman-teman yang ingin belajar nari Semi Ballet,Worship Dance,Tambourine dan Modern Dance, bisa menghubungi saya di nomor 0818119158 atau alamat email: rosie.beatricia@gmail.com
    untuk kursus bisa datang ke tempat kami di "Hamaziah Dancer Project" Jl. SIliwangi nomor 1 GBI PRAY lantai 2, Pamulang-Tangerang
    atau bisa juga private dengan saya yang datang ke tempa kalian..
    Berlaku untuk semua umur..
    Untuk info lebih jelas bisa langsung menghubungi saya..
    GBu..

    BalasHapus
  2. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

    BalasHapus