Jumat, 30 Desember 2011

KAKAWIN RAMAYANA

Pupuh 1 (1-62) : Atas perintah raja Dasaratha, raja Ayodhya, dipersembahkanlah sebuah korban agar dia dikaruniai seorang anak. Alhasil ketiga permaisurinya melahirkan empat orang putra. Kausalnya melahirkan Rama, Kaikeyi melahirkan Bharata, Sumitra melahirkan Laksmana dan Satrughna. Sesudah mereka dewasa rsi Wiswamitra mohon bantuan Rama untuk mengalahkan para raksasa yang mengacaukan pertapaanya. Dasaratra mengijinkanya dan akhirnya Rama serta adiknya Laksmana berangkat.
Pupuh 2 (1-76) : Dilukiskan perjalan kepegunungan menjelang musim dingin dan bagaimana mereka diterima di pertapan. Seorang raksasa wanita mampu dikalahkan,lalu menyusul serangan dari para raksasa pimpinan Marica tapi semuanya mampu dipukul mundur. Atas saran Wisma kakak adik tersebut menuju ke Mithila tempat raja Janaka mengadakan swayambara untuk putrinya yang bernama Sita. Tak seorangpun mampu melenturkan sebuah busur yang muncul saat hari Sita dilahirkan. Tapi saat Rama mengangkat busur tersebut dan coba untuk melenturkanya busur tersebut patah menjadi 2. Dari swayambara tersebut Rama akhirnya yang berhak mempersunting Sita, Dasaratrapun diundang untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut.setelah semuanya selesai mereka kembali ke Ayodya diiringi kedua mempelai.saat perjalanan dihadang oleh Rama Barghawa yang suka berperang dan menantang Rama untuk adu kekuatan melenturkan busur panahnya. Dengan mudah sekali dilakukan oleh Rama, dan akhirnya Bhargawa mengundurkan diri dengan penuh rasa malu.
Pupuh 3 (1-89) : Diayodya diadakan persiapan untuk Rama yang akan dinobatkan sebagai raja, tetapi Dasaratha diingatkan oleh Kaikeyi bahwa dalam suatu perjanjian sebelumnya raja pernah berjanji pada Kaikeyi, Bharatalah yang akan mewarisi tahtanya. Kemudian Bharatalah yang menjadi raja Ayodya, Dasaratha akhirnya meninggal dunia. Setelah memakamkan Dasaratha Rama, Sita, Laksmana meninggalkan keraton. Dalam perjalananya disusul oleh Bharata untuk Rama agar kembali ke Ayodya dan memimpin Ayodya. Tetapi Rama tidak mau dan meminta agar Bharatalah yang memimpin Ayodya dengan memberikan kasutnya sebagai simbol kekuasaanya. Setelah menerima suatu wawasan dari Rama mengenai kewajiban-kewajiban selaku seorang raja maka Bharata mohon diri.
Pupuh 4 (1-76) : Menceritakan Rama, Sita dan Laksmana melanjutkan pengembaraanya dihutan dandaka. Mereka menetap di pertapaan sutiksna dan meneruskan kehidupan mereka sebagai pertapa. Surpanakha adik perempuan raja para raksasa mengembara kehutan dan bertemu dengan Laksmana. Suparnakha catuh cinta dan menyamar menjadi wanita yang cantik jelita dan menawarkan diri untuk dipersunting. Laksmana ingin menghindari perempuan tersebut dengan memuji-muji Rama, Raksasi tersebut kemudian mendekati Rama dengan usul yang sama. Tetapi Rama menerangkan bahwa Sita merupakan satu-satunya baginya dan menyarankan untuk mendekati Laksmana yang masih bujang. Usaha yang kedua yang dilakukan Raksasi tersebut lebih kasar sehingga Laksmana mengetahui watak aslinya dan akhirnya memotong ujung hidung raksasi tersebut. Suparnakha berteriak-teriak kesakitan melarikan diri dan meminta bala bantuan kepada tiga raksasa lainya. Namun semuanya mampu ditumpas.
Pupuh 5 (1-89) :Surpanakha mengadu kepada kakaknya Rawana dan membujuknya dengan melukiskan kecantikan Sita agar berangkat dan menculiknya. Rawana minta bantuan Marica dan mengatur siasat agar mampu membujuk Rama dan Laksmana agar menjauhkan dari Sita dan kemudian menjadi mangsa Rawana. Marica menyamar menjadi kidang emas dan lewat didepan mereka. Akhirnya Sita terpesona dan meminta Rama menangkap kidang tersebut untuk Sita. Ramapun akhirnya mengejar kidang tersebut dan memanahnya, saat Rama melepaskan busur panahnya dan mengenai kidang tersebut terdengar suara jeritan kidang tersebut sampai ketelinga Sita bersamaan kidang tersebut lenyap. Dengan penuh khawatir Sita mengira jeritan tersebut adalah jeritan Rama, dengan alasan tersebut Sita memohon pada Laksmana agar mengejar Rama dan meninggalkanya sendiri. Saat itupula Rawana menyamar menjadi pertapa yang akhirnya mendekati Sita dan mehasil membawa Sita kabur lewat udara.
Pupuh 6 (1-203) : Terdengar jeritan Rama oleh burung Jatayu yang pernah menjadi sahabat ayah Rama saat dibawa kabur oleh Rawana. Jatayu menghancuran kereta Rawana dan menopang tubuh Sita saat jatuh, dengan beban seberat itu dia akhirnya dikalahkan oleh Rawana dengan dipotong salah satu sayap Jatayu. Laksmana yang datang kepada Rama menjelaskan kepada Rama bahwa Sita telah hilang. Rama marah besar dan akhirnya mereka mencari Sita dan menemukan Jatayu yang mengatakan apa yang telah terjadi sebelum nafas terakhirnya dihembuskan. Setelah pemakaman Jatayu mereka melanjutkan perjalananya dan dipertengahan jalan mereka bertemu dengan salah satu anak dewi Sri dan juga Rama membebaskan seorang pertapa karena kutukan atas perbuatan sebelumnya. Mereka berdua memberi nasihat kepada Rama agar mencari Sugriwa raja para kera dan minta bantuanya yang sangat sakit hati karena Tara istri Sugriwa direbut dan dibawa kabur oleh adiknya yang bernama Bali. Setelah mereka bersatu maka mereka datang ketempat persinggahan Subali dan mereka berhasil mengalahkan dan membunuh Subali.
Pupuh 7 (1-113) : Rama meminta Laksmana untuk ketempat Sugriwa karena tidak ada kabar lagi dan akhirnya Sugriwa minta maaf dengan mengirim dan menyebar pasukan kera kesegala penjuru. Ketika pasukan kera yang dipimpin oleh Hanuman merasa lelah dan letih mereka menemukan sebuah gua dan berniat untuk istirahat sejenak di gua tersebut. Ternyata gua tersebut istana Swayampraba putri raja para raksasa dan mereka menerima rombongan Hanoman dengan ramah sekali. Hanoman dan rombonganya istirahat sejenak dan akhirnya mereka terlelap terkena ilmu sihir danawa dan bangun satu bulan kemudian. Hanoman dan pasukanya merasa bersalah dan merasa ingin mati saja tetapi mereka dihibur oleh Simpati, adik dari Jatayu dan selanjutnya memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana untuk sampai ke Alengka dan istana Rawana tersebut. Setelah sampai dikaki gunung, Hanoman berangkat sendiri ke alengka untuk menyelidiki situasi keadaan dalam benteng pihak musuh sementara para pasukanya menikmati pemandangan indah itu.
Pupuh 8 (1-214) : Dalam perjalanan di udara Hanoman berhadapan dengan beberapa raksasa dan raksasi namun semuanya sanggup dikalahkan hingga akhirnya Hanoman sampai pada kota Lengka dan menyamar menjadi seekor kelinci. Disebelah timur kota Alengka Hanoman menemukan Sita dan melihatnya yang amat gugup dan bingung. Beberapa waktu kemudian datanglah Rawana yang membujuk dan merayunya agar mau untuk dijadikan istrinya dengan di iming-imingi akan diberikan apapun yang Sita mau. Sita menolak semua rayuan dan janji yang diberikan Rawan hingga akhirnya Rawana geram dan mengancam Sita dengan pisau belatinya. Rawana pergi dari kamar Sita kemudian meminta para Raksasa untuk menggoda dan mengganggu Sita tetapi Sita selalu dilindungi oleh trijata anak dari Wibhisana yang merupakan adik dari Rawana. Setelah semua raksasa tersebut pergi Hanuman datang untuk mendekati Sita dan menceritakan apa yang telah terjadi bahwa dia adalah utusan dari Rama dan memberikan cincin Rama sebagai bukti dalam melenyapkan rasa curiga Sita. Sita menitipkan sebuah surat kepada Hanoman untuk diberikan kepada Rama bersama sebuah manikam. Setelah tugas Hanoman selesai dia menghancunkan pepohonan di Alengka.
Pupuh 9 (1-93) : Setelah tau apa yang telah terjadi Rawana meminta para raksasa untuk menangkap dan membunuh Hanoman, tetapi sumuanya mampu dikalahkan oleh anoman. Setelah mandi dilaut Hanoman meneruskan pengrusakanya dan sekarang dia kini berhadapan dengan Indrajit dan membiarkan dirinya terlilit oleh panahnya yang berbentuk ular. Hanoman dibawa kehadapan Rawana dan dia meminta para raksasa untuk membunuhnya tetapi dibantah dengan tegas oleh Wibhisana bahwa seorang duta adalah kebal.
Pupuh 10 (1-72) : Hanuman memuji-muji keutamaan rama hingga dia meminta permintaan terkhir agar Sita dikembalikan kepada Rama. Rawana akhirnya memberikan perintah kepada para raksasa agar membakar Hanoman dan membungkus ekornya dengan bahan yang mudah terbakar.
Pupuh 11 (1-96) : Dengan ekornya yang menyala-nyala Hanoman kabur dengan berlarian serta meloncat kesana kemari hingga menyebabkan kraton dan seluruh kota terbakar. Hanoman melanjutkan perjalananya ketempat Rama dan menyerahkan surat dari Sita untuk Rama. Rama beserta pasukanya menuju kota Alengka dan mengepungnya, begitu juga Hanoman menyiapkan pasukanya hingga turun kelaut.
Pupuh 12 (1-65) : Deskripsi tentang kota Lengka yang sedang bangun dari tidurnya dan para raksasa yang berkumpul untuk menghadap sang raja yang kemudian tampil.
Pupuh 13 (1-97) : yang terakhir masuk adalah Wibhisana dan sebelumnya berdoa kepada siwa dan menjenguk ibunya yang mendukung usahanya untuk menasehati raja. Rawanapun akhirnya menanyakan kepada semua yang hadir jalan mana seyogyanya yang harus ditempuh. Patihnya menganjurkan untuk tetap melanjutkan perang dan Wibhisana memberikan uraian panjang lebar mengenai kaidah seorang raja dan meminta Rawana agar mengembalikan Sita kepada Rama.
Pupuh 14 (1-70) : Kumbakarna membela Rawana, Wibhisana memperingatkan Rawana akhirnya Rawana marah sekali dan Wibhisanapun mengundurkan diri.
Pupuh 15 (1-69) : Wibhisana menggabungkan diri dengan Rama dan ditrima dengan baik.  Rama mengangakat busurnya dan melepaskanya kelaut dan membuat para ikan dan naga jadi bingung. Baruna raja laut memberi saran pada Rama untuk membuat bendungan. Para kera mulai mengumpulkan bahan.
Pupuh 16 (1-47) : nala membuat bendungan dan para kera melintasinya dan mencapai gunung sumela.
Pupuh 17 (1-138) : Rawana menipu daya sita dengan membuat tiruan kepala Rama dan menunjukkan pada Sita. Rawana merayu Sita dengan menunjukkan kepalanya rama tetapi Sita memilih untuk mati seperti Rama. Trijata menemui ayahnya Wibhisana disana dia melihat Rama masih segar bugar bersama bala pasukanya. Dia kembali dan menghibur Sita dengan memberi tahu Sita bahwa Rama masih hidup.
Pupuh 18 (1-52) : Sukasarana diminta Rawana ke gunung untuk mengintai gerak gerik musuh. Dia dipergoki dan dikembalikan ke Lengka dan melaporkan pada Rawana agar menempuh jalan damai tetapi hal tersebut membuat Rawana semakin marah.
Pupuh 19 (1-131) : deskripsi tentang persiapan perang para pasukan kera dan persiapan perang pasukan raksasa.
Pupuh 20 (1-80) : Para kera dan raksasa perang satu lawan satu akhirnya apsukan kera menang, Indrajit dipukul mundur tetapi dengan yoga dia mendapatkan kekuatan istimewa dan mendapatkan panah sakti. Panah yang bisa melilit seperti ular tersebut melilit tubuh Rama dan Laksmana. Ia dilempar kembali oleh Wibhisana ke alengka dan melaporkan bahwa Rama telah mati. Dialengka pesta pora.
Pupuh 21 (1-248) : Sita jatuh pingsan melihat tubuh Rama terkapar. Trijatapun putus asa, dipagi hari datanglah rsi dari surga dan melantunkan puji pujian untuk Rama, dan putuslah semua lilitan tersebut. Kesehatan merekapun kembali dipulihkan oleh garuda.
Pupuh 22 (1-89) : Kumbakarna dibangunkan dari tidurnya, setelah makan dengan lahab Rawana mendapatkan jawaban yang menusuk hati karena kesalahanya sendiri tetapi Kumbakarna tetap berangkat ke medan pertempuran dan melawan Sugriwa yang dibantu oleh Hanuman. Sugriwa tertimpa bebatuan gunung dan diangkat oleh Kumbakarna tetapi dikejar oleh Hanuman, saat Sugriwa terbangun langsung menggigit hidung Kumbakarna hingga putus.
Pupuh 23 (1-85) : Rama dan Laksmana terjun dalam pertempuran, baju besi Kumbakarna di hancurkan dengan panah Laksmana dan kemudian di tewaskan dengan panah Rama. Rawanapun menyesal dan meminta Indrajit untuk terjun kembali dan memanah dengan panah biusanya sehingga para pasukan kera, Rama dan Laksmana tertidur pulas dalam pertempuran. Hanya Wibhisana yang kebal terhadap racun tersebut dan meminta panglima kera untuk ke gunung Himalaya mencari daun ramuan. Setelah mendapatkanya semua dapat dibangunkan dan peperangan besarpun terjadi. Rawana berdoa kepada dewa Siwa dan berangkat dengan kereta emasnya.
Pupuh 24 (1-260) : Rama menggunakan panah pemberian dewa Indra dan langsung memanah kesepuluh leher dan kepala Rawana. Terjadi pertempuran yang hebat hingga alam semesta goncang. Rawana mati dan wibhisana bersedih tetapi Rama mencoba untuk menghibur Wibhisana.
Pupuh 25 (1-117) : isi pupuh ini menceritakan tentang perjalanan yang dilalui selama perang.
Pupuh 26 (1-52) : Kembali ke Ayodya dan diadakan pesta meriah.

Selasa, 22 Februari 2011

SEMEDI

Semadi atau semedi adalah menghilangkan kehidupan jasad agar supaya seseorang dapat merasakan rahsaning gesang atau kehidupan sukma. Dengan sarana mengolah rasa disebut sirnaning papan lan tulis. Yakni jumeneng rasa jati yang benar-benar nyata, pasti dan weruh tanpa tuduh (menyaksikan sendiri tanpa referensi), atau menyaksikan “sesuatu” tanpa melibatkan badan wadag (akal-budi/ rasio/ pikiran/ imajinasi/mata-wadag). Keberhasilannya dengan cara meredam gejolak nafsu jasadiah, dan dengan mengolah gerak-gerik anggota badan.

Kehidupan jasad memiliki kesadaran yang rendah, sementara itu kehidupan sukma memiliki kesadaran yang tinggi. Kesadaran jasadiah sifatnya rentan oleh pengaruh nafsu-nafsu, di mana pikirannya terganggu oleh imajinasi rasio. Dalam kehidupan sukma itulah terletak kesadaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kesadaran jasad. Dapat digambarkan sukmanya keluar dari badan wadag atau jasad. Dalam kondisi demikian kesadaran jasadiah tidak lagi bisa mendominasi dan memanipulasi kesadaran batin. Kesadaran sejati yang ada pada kehidupan sukma akan membersihkan batin dari segala polusi dan imajinasi rasio dan nafsu-nafsu negatif. Pemahaman ini merupakan gambaran dari lampahan Sri Kresna di Dwarawati atau sang Arjuna yang meraga sukma. Untuk kita perhatikan semua, bawa cerita ini sekedar dijadikan sebagai perlambang atau kiasan yang memudahkan pemahaman akan hakekat dari semedi.  Adapaun tujuan melakukan semedi tidak lain untuk mengetahui alam kajaten atau kwahana kesejatian, yang sungguh-sungguh nyata dan ada di luar nalar atau akal budi kita.


SEMEDI & KESADARAN BATIN

Dalam upaya semedi dapat terjadi kegagalan dan keberhasilan. Kegagalan biasa terjadi dalam awal-awal latihan semadi namun lama kelamaan kita akan menemukan irama atau “frekuensi” yang dirasakan sangat “ajaib”. Bagi yang berhasil melakukan semadi pun ada dua kemungkinan yang berbeda tataran keberhasilannya. Kemungkinan yang pertama, meskipun berhasil dalam semedi namun seseorang belum mencapai puncak kesempurnaan semedi. Raga telah berhasil “dimatikan” sehingga yang terasa hanya getaran dahsyat dalam rasa. Getaran itu bersumber dari pusat kehidupan (atma) yang terletak pada susuhing angin/jantung, lalu menjalar ke seluruh “badan”. Bukan “badan” jasadiah semata, namun getaran itu terletak dalam badan halus/metafisik. Bila dirasakan sepintas lalu seolah badan wadag lah yang bergetar. Getaran berbeda dengan rasa gemetaran. Jika dikonotasikan sebagai prana ia sama-sama bersumber dari getaran rasa sejati. Bagi pelaku semedi yang masih berada pada tingkat ini hendaknya jangan merasa pesimistis karena tetap bisa merasakan berbagai keajaiban yang akan terjadi dalam wahana kesadaran semedi. Misalnya muncul bayangan atau gambaran gaib yang dapat menjelaskan sesuatu rahasia alam atau sebagai pralampita yang dapat menjadi petunjuk akurat dan tepat terhadap pelaku semadi. Kemungkinan kedua, pelaku semedi dapat mencapai  tataran sempurna atau kesempurnaan. Parameter kesempurnaan terjadi bilaman sukmanya benar-benar lepas dari badan wadagnya sendiri. Sukma dapat melanglang ke dalam buana gaib, menjelajah dalam ruang-ruang gaib yang berada di luar akal budi (jasad) yang menemukan kesadaran tinggi. Inilah yang disebut rahasia meraga sukma. Namun bagi yang berhasil meraih kesempurnaan dalam semedi –yang bermuara pada kejadian raga sukma– hal ini menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat. Meraga sukma bermanfaat besar untuk memperoleh kesadaran tinggi untuk memahami being dalam eksistensi noumena atau eksistensi di alam gaib.  Tentu saja kejadian ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang selalu dahaga dunia spiritual. Karena pelaku semedi akan memperoleh kesadaran tinggi dan dapat mengetahui hal-hal yang orang lain tidak ketahui/sadari.  Mengapa kesadaran tinggi diidamkan kebanyakan orang, tidak lain karena kemuliaan hidup yang sejati menuntut adanya kesadaran tinggi terlebih dulu. Tidak menjadi masalah bila kesadaran tinggi kita berasal dari referensi orang lain, kitab suci, maupun buku pedoman. Hanya saja bila kita merasakan sendiri pengalaman gaib secara langsung akan menjadikan sebagi pengalaman hidup yang sangat sensasional dan berharga. Hal ini bukan lah iming-iming namun sungguh apa adanya.


KUNCI KEBERHASILAN

Kesadaran sejati atau kesadaran batin dapat dicapai oleh siapapun tanpa tergantung agama dan ajarannya, asalkan seseorang mampu memerdekakan diri dari hegemoni kekuasaan nafsu negatif yang bercokol dalam jasadnya sendiri. Ibaratnya nafsu adalah kulit yang harus dikupas agar kita dapat menikmati daging buahnya. Nafsu jasadiah  seumpama cadar bagi mata batin, bila dibuka cadarnya maka mata batin akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan semua eksistensi gaib akan dapat dilihat dengan jelas. Pengendalian hawa nafsu bukanlah hal mudah ia perlu latihan terus menerus dengan kesabaran dan ketulusan. Tanpa bekal itu akan sulit mencapai tataran kesempurnaan dalam olah semedi. Dalam olah semedi pun harus dilakukan dengan rajin, sabar, ulet dan telaten jangan mudah menyerah dan cepat bosan. Biasanya jika sudah merasakan keberhasilan awal lantas akan menjadi ketagihan untuk lebih giat melatih diri.  Dua langkah utama yang menentukan keberhasilan yakni : mengendalikan nafsu, membersihkan hati dan batin dalam perbuatan sehari-hari dan rajin olah badan dalam tatacara semedi.


Teori Merubah Frekuensi

Kesadaran jasad jika diumpamakan sebagai gelombang AM radio, kejernihan dan kejelasan suaranya teramat rentan terjadi distorsi akibat gangguan kondisi cuaca alam yang buruk. Gelombang AM diumpamakan sebagai kesadaran jasad atau akal budi, sementara cuaca alam yang buruk seumpama gangguan imajinasi akal-budi dan nafsu. Artinya kesadaran ragawi atau jasad mudah sekali terkena tipu daya “setan” dalam hal ini nafsu dan imajinasi kita sendiri. Lain halnya dengan kesadaran rahsa sejati, diumpamakan gelombang FM radio. Suaranya jernih, bersih dan jelas. Gelombang FM juga tidak terpengaruh oleh cuaca alam yang buruk. Sekalipun terjadi angin ribut, hujan lebat dan guntur tidak akan menjadi gangguan kejernihan suara. Karena gelombang FM terpisah dan berbeda dari gelombang cuaca buruk. Ia berada dalam koridor frekuensi yang terpisah dari berbagai gelombang cuaca alam. Artinya, kesadaran rasa sejati terpisah dan tidak terpengaruh oleh imajinasi akal budi dan nafsu-nafsu negatif. Tugas semedi adalah mengalihkan gelombang atau frekuensi kita dari frekuensi AM ke FM. Dari kesadaran ragawi/jasad ke kesadaram rasa sejati (rasa pangrasa/indera ke-enam). Kelebihannya adalah dapat menangkap sinyal dari frekuensi rendah hingga yg paling tinggi sekalipun. Segala yang tadinya rahasia dan tertutup oleh nafsu dan rasio menjadi tersingkap semuanya tampak jelas.


SEMEDI ; RADIO TRANSISTOR

Cara lebih mudah membayangkan fungsi olah semedi, saya mengambil analogi  seumpamanya kita merubah diri kita menjadi radio transistor. Sebenarnya dalam ruang udara terdapat banyak sekali berbagai macam gelombang suara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Contohnya antara lain suara jangkrik sawah yang tidak bisa masuk jika direkam dengan pita kaset biasa. Atau suara kelelawar yang memiliki suara ultrasonik yang frekuensinya sangat tinggi sehingga tidak bisa ditangkap dengan telinga manusia. Begitu pula suara ikan paus yang dapat memancarkan gelombang suara sangat jauh namun sulit ditangkap telinga manusia pula.  Begitu juga gelombang suara yang dipancarkan antena transmisi stasiun radio tidak akan bisa ditangkap oleh telinga manusia sebelum dirubah dengan alat bernama radio transistor yang berfungsi merubah gelombang suara menjadi berfrekuensi yang sepadan dengan daya tangkap  kuping manusia. Sebelum dirubah oleh alat elektronik radio transistor, gelombang suara bagaikan suara eksistensi gaib. Nah analogi ini menjelaskan bila semedi ibaratnya merubah diri kita menjadi “radio transistor” yang dapat menangkap gelombang suara menjadi bunyi-bunyian. Artinya semedi merupakan sarana agar supaya kita dapat mendengar dan menangkap frekuensi yang terdapat di alam gaib. Dapat pula diistilahkan kita sedang menselaraskan antara “frekuensi jasad” kita dengan frekuensi gaib. Sebenarnya yang diselaraskan bukan frekuensi jasadnya dengan frekuensi gaib melainkan pindah chanel dari frekuensi “AM” ke frekuensi “FM”. Ke mana kita musti beli frekuensi FM ? Tidak perlu repot, karena di dalam setiap diri manusia telah terdapat frekuensi “FM” bawaan lahir yang sepadan/sinergis dengan “frekuensi” alam gaib, yakni frekuensi yang dimiliki rahsa sejati (rasa pangrasa). Tidak hanya manusia bahkan binatang malah lebih tajam “indera keenam” nya ketimbang manusia karena binatang tidak memiliki hawa nafsu. Kita dapat mencermati dari ayam, anjing, angsa dan binatang lainnya yang memiliki frekuensi sepadan dengan dimensi gaib. Binatang-binatang tersebut sering berlari ketakutan dikejar sesuatu yang tidak tampak oleh mata wadag.


TATA CARA SEMEDI

Semadi atau semedi, artinya sarasa = rasa tunggal = maligining rasa = rasa jati = rasa pangrasa. Disebut pula dengan maladihening, mesu budi, manekung, puja brata, tarak brata, dan masih banyak lagi istilahnya. Pada intinya olah semedi melibatkan dua kegiatan, pertama yakni ; SOLAH atau perilaku anggota badan dalam upaya “menidurkan” atau “mematikan” anggota raga untuk merasakan hidupnya rasa sejati. Kedua yakni BAWA atau perilaku batin, dengan cara mengolah rasa agar mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi. Atau menghidupkan batin kita yakni merasakan atma (energi hidup) dalam sukma sejati. Agar tidak rancu perlu saya tegaskan perbedaan antara sukma sejati  dengan rasa sejati yakni ; sukma sejati dapat dilihat wujudnya, sedangkan rasa sejati hanya bisa dirasakan sebagai energi atma/ hidup/ kayun/ kayu/ chayu. Sukma sejati adalah roh/ruh/ruhulah sementara rasa sejati adalah sir/sirulah (lihat thread : Maklumat Jati). Terdapat banyak sekali tatacara semedi, misalnya sembari duduk bersila, bisa juga sembari baringan atau merebahkan badan. Berikut ini saya jabarkan tata cara semedi sambil membaringkan badan.


1.      Carilah tempat yang nyaman, tenang, dan aman agar konsentrasi anda tidak terganggu oleh suasana lingkungan sekitar. Jangan melakukan semedi di tempat yang berbahaya misalnya tepi sungai, tepi jurang atau di antara semak belukar. Hal ini untuk menghindari resiko jatuh terperosok termasuk terjadinya serangan binatang buas, serangga berbisa dsb. Bisa pula di lakukan di dalam rumah atau kamar tidur anda. Carilah waktu watu saat yang tenang biasanya setelah beranjak larut malam. Keheningan suasana atau suara alam yang lembut justru justru sangat membantu dalam menciptakan konsentrasi. Setelah menemukan tempat yang tepat lalu baringkan badan anda…

2.      Posisi badan telentang menghadap ke atas, seperti  mau tidur. Jangan ada anggota badan yang posisinya kurang nyaman. Seluruh anggota badan “jatuh” menempel di pembaringan tanpa ada penahanan sedikitpun. Seluruh otot dan syaraf harus rileks atau loss.  .

3.      Tangan sedekap atau sedakep (sedeku) dengan posisi lengan atas tetap menempel di lantai/tempat berbaring sementara lengan bawah diletakkan di atas dada. Jari-jari tangan saling mengunci. Atau bisa juga agar lebih rileks, tangan diluruskan ke bawah (arah kaki), kedua telapak tangan menempel di paha kiri kanan sebelah luar. 

4.      Mata terpejam seakan anda sedang bersiap menidurkan diri. Bola mata tidak boleh bergerak-gerak, tahan dalam posisi pejam dan bola mata diam tidak bergerak, disebut meleng.

5.      Kaki lurus rileks telapak kaki kanan ditumpang di atas telapak kaki kiri disebut sedakep kaki tunggal, disebut saluku.


Posisi dan langkah-langkah di atas bertujuan untuk menghentikan daya cipta meliputi imajinasi, angan, pikiran, kemauan, gagasan. Selain itu olah pasamaden sebagai upaya menutup aliran panca indera yakni indera perasa, pendengaran, dan penglihatan. Selanjutnya samadi atau semedi seyogyanya diimbangi dengan perilaku sehari-hari dengan mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya.

Semedi merupakan salah satu cara meraih kemuliaan hidup, secara keseluruhan terdapat tujuh macam tahapan atau tingkatan “laku” yang harus dikerjakan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yakni :



1. Tapaning Jasad

Sopan santun dan mawas diri. Dalam olah semedi dengan cara mengendalikan / menghentikan daya gerak anggota tubuh atau kegiatannya. 

2. Tapaning Budi

Menghindari angan-angan dan prasangka yang buruk. Dalam olah semedi dengan bersikap positif thinking agar pikiran menjadi bersih dan dapat membentangkan pandangan seluas-luasnya. Namun jangan biarkan imajinasi menguasai rasio anda.

3. Tapaning Hawa Nafsu

Rela, legowo, menerima apa adanya (qonaah), sabar dan ikhlas. Jangan menyakiti hati sesama. Sabar menghadapi gangguan dan godaan dari dalam dan luar. Tidak suka iri hati dan dendam. Kuat lara wirang atau dipermalukan. Dalam olah semedi dengan cara sikap tidak buru-buru, sumeleh, mengalir apa adanya.

4. Tapaning Sukma

Menenangkan jiwa dan selalu jujur pada diri sendiri dan orang lain. Bersikap dermawan. Perbuatan lahir batinnya selalu diarahkan pada kebaikan. Tanpa pamrih semua hanya netepi sifating Zat. Dalam olah semedi harus bersikap pasrah, bersandar hanya kepada Hyang Widhi. Tidak memaksa diri mencapai hasil. Namun lebih mengutamakan prosesnya yang benar dan tepat.

5.Tapaning Rahsa

Perilaku yang utama, luhur budi pekertinya. Tidak takut bila menderita, dan kuat  laku prihatin. Tidak suka mengurusi (intervensi) hal yang bukan kewenangannya. Selalu mawas diri dan giat mencari ilmu hakekat. Dalam olah semedi indera perasa jasad dimatikan diganti dengan rasa pangrasa. Merasakan getaran indera ke-enam, atau rahsa sejati.

6.Tapaning Cahya

Menjaga kesucian lahir batin. Dalam olah semedi, selalu terkonsentrasi pada cahya di pangkal hidung antara kedua mata atau papasu.

7. Tapaning gesang

Selalu eling dan waspada serta mempunyai daya  memahami sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau samar karena kepalsuan “kulit”. Olah semedi hendaknya selalu ditujukan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan pribadi dan orang lain. Berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaan hidup, manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yakni target Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebagai kunci untuk memahami isi Rasa Jati, untuk mencapai sesuatu yang luhur.  Maka dalam meraih kemuliaan hidup mutlak diperlukan sinkronisasi antara perbuatan lahir dan batinnya (solah dan bawa).


PATRAPING NETRA

Konsentrasi mata difokuskan pada satu titik yakni pangkal hidung, letaknya di antara ke dua belah mata, diisitilahkan papasu. Kedua belah mata terpejam, namun manik mata memandang ke arah papasu. Di situ bisa langsung tampak ada cahaya atau sinar mencorong/terang mencolok biasanya berwarna putih kekuningan. Bila cahaya di papasu belum muncul dan masih tampak gelap gulita anda harus bersabar, tunggu beberapa saat hingga cahya muncul sedikit demi sedikit lalu berubah menjadi semakin terang bahkan bisa sangat menyilaukan. Bila posisi di atas sudah bisa anda lakukan dengan rileks, selanjutnya giliran menata nafas anda. Setelah dibarengi olah nafas yang rilek  anda tinggal konsentrasikan mata pada arah papasu. Lama-kelamaan cahaya kuning terang semu keputihan semakin terang, pusatkan konsentrasi pada cahaya tersebut. Tunggu dengan sabar dan rilek hingga akan muncul gambaran seperti lorong. Tugas anda bergerak mengikuti lorong tersebut dengan perasaan. Pergerakan dikomando oleh kareping rahsa, yakni kehendak rasa sejati. Nantinya lorong akan seperti berkelok melengkung-lengkung namun bukan menikung tajam. Lorong itu akan berujung pada wahana ruang yang sangat terang benderang.  Anda seolah masuk ke dalam ruang yang sangat luas dan sulit digambarkan eksotisnya. Itulah ruang gaib.

Pada tahapan ini belum terjadi raga sukma. Peristiwa ini, kesadaran kita  hanyalah sebatas berada di antara dunia wadag dengan dunia meta yang gaib. Dengan menggunakan mata batin kita menyaksikan eksistensi gaib melalui “jendela” dimensi gaib. Artinya sukma anda belum memasuki alam gaib.  Namun kesadaran batin kita bagaikan energi telekinetik bisa menjelajah ke tempat atau lokasi yang kita inginkan. Di analogikan penglihatan batin kita berubah fungsi sebagaimana alat periskop yang dimiliki kapal selam. Jika diumpamakan kesadaran jasad kita bagaikan berada di dalam kapal selam yang pandangannya sangat terbatas pada obyek yang ada di sekeliling kita dalam jarak yang sangat pendek. Maka mata batin bagaikan alat  periskop yang bisa digunakan untuk melihat ada apa di atas permukaan air.

Pada saat semedi minimal orang akan mendapatkan semacam ilham atau wisik yang dapat menjadi petunjuk untuk mengambil keputusan atau apa yang harus dilakukan dan dihindari. Bila latihan olah semedi dilakukan dengan telaten, lama-kelamaan akan mencapai tahap selanjutnya dimana sukma akan keluar dari badan wadag. Pada tahap ini anda akan merasakan keanehan-keanehan ;

1.      Merasakan seolah badan kita tidak bernafas dan indera perasa tidak merasakan sesuatu apapun, namun kita sadar bahwa diri kita tetap lah hidup.

2.      Pada tahap ini kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terdengar asing dan aneh. Suara-suara tersebut berasal dari dimensi lain. Karena kesadaran anda telah berada di ambang batas antara dunia wadag dengan dunia gaib. Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu justru menunjukkan bila anda sudah mulai berhasil merubah diri anda menjadi “radio transistor”. Nah, pada tahap ini terkadang anda dapat menangkap petunjuk, sasmita, pralampita yang berasal dari para leluhur.  Anda juga tidak perlu khawatir digoda setan/makhluk halus/hantu/demit/jin dsb, karena langkah semedi anda yang mematikan nafsu ragawi sudah cukup menguatkan mental dan batin anda, dan menjadi pagar gaib yang cukup kokoh.

3.      Melihat badan kita sendiri dari luar tubuh. Biasanya kita melihat diri kita seolah sedang tertidur pulas, atau sedang duduk bersila sesuai dengan posisi sewaktu kita melakukan semedi.

4.      Bila sudah terjadi posisi demikian, anda janganlah panik atau takut, tetap kendalikan semuanya melalui kehendak rasa anda sendiri. Misalnya anda ingin menjauh dari tubuh atau ingin menyatu kembali dengan tubuh semua perintah di bawah kendali sang rasa sejati, yakni kehendak rasa.

5.      Antara sukma anda dengan badan wadag bagaikan mengandung energi magnet yang saling tarik menarik. Bila anda berkehendak ingin kembali masuk ke tubuh seketika akan terasa ada energi kuat yang menyedot sukma ke dalam badan wadag. Energi tersebut saya identifikasi sebagai nyawa. Bedanya dengan orang yang meninggal dunia, nyawa sebagai daya perekat sudah tidak ada lagi. Dapat diumpamakan “lem perekat” antara sukma dengan badan wadag sudah hilang, sehingga terjadi pelepasan/perpisahan kekal antara sukma dengan badan wadag.

6.      Selama badan anda sehat wal afiat tidak perlu khawatir kelepasan.. J karena eksistensi nyawa itu prinsipnya tergantung dari kondisi kesehatan atau performance badan anda sendiri. Bila sukma anda berkelana tidak akan terjadi kematian selama nyawa masih bekerja sebagai “lem perekat” atau penghubung antara sukma dengan jasad. Untuk memudahkan pemahaman raga sukma dapat saya contohkan dengan orang yang sedang main layang-layang.  Layang-layang diibaratkan sukma sejati kita, tali layang-layang adalah nyawanya, dan orang yang memainkan layang-layang adalah badan wadagnya. Antara layang-layang dengan seseorang yang memainkan masih tetap terhubung oleh tali layang-layang tersebut.
 
7.      Bila anda merasa sukma sudah berada di luar tubuh hendaknya melatih untuk bepergian dalam jarak dekat dulu, baru kemudian semakin lama semakin jauh. Karena bila anda langsung berjalan jauh, terkadang mengalami kesulitan untuk kembali ke badan. Seumpama orang sedang berjalan menyusuri hutan belantara yang belum anda kenali seluk beluknya serta lupa jalan pulangnya. Hal ini sangat berbahaya, karena dalam tahap awal badan wadag anda belum kuat ditinggal sukma sejati terlalu lama. Persendian akan terasa kaku-kaku, peredaran darah tidak lancar dan tekanan darah (HB) nya bisa drop. Resiko ini yang dapat berakibat terjadi kematian.


OLAH NAFAS

Selanjutnya mulai menata irama nafas khusus diperlukan dalam olah semedi. Nafas ditarik dalam-dalam, jangan tergesa dan kasar, lakukan dengan cara yang lembut, namun kuat dan sepanjang-panjangnya nafas hingga habis.  Rasakan nafas mulai memenuhi puser kemudian semakin penuh naik hingga ke dada terasa penuh sesak lalu rasakan semakin naik hingga ke cethak atau langit-langit mulut, terus naik lagi hingga ke ubun-ubun kepala. Proses masuknya nafas memenuhi puser hingga ke ubun-ubun dilakukan dalam sekali tarikan nafas. Memakan waktu antara 4-7 detik. Atau dalam hitungan normal dari angka ke 1 hingga ke 7.

Setelah nafas mencapai ubun-ubun tahan sebentar dalam hitungan 7 detik lalu keluarkan nafas melalui mulut dalam hitungan 4 atau dalam waktu 4 detik. Prinsipnya jumlah tarikan nafas harus selalu lebih besar dibanding keluarnya nafas.


SASTRA CETHA

Rasakan pula saat menahan nafas di ubun-ubun, pada awalnya terasa ringan  lalu semakin lama semakin berat, jika sudah terasa berat sekali kemudian  lepaskan pelan-pelan seolah menurunkan beban yang mudah pecah. Beban itu sesungguhnya pergerakan rasa jati ada pula yang menyebut sebagai tenaga dalam yang terkonsentrasi. Olah nafas demikian disebut sastra cetha; sastra adalah empaning kawruh, atau kiasan sebagai umpan ilmu. Cetha adalah antebing swara cethak. Cethak adalah langit-langit mulut tempat keluarnya bunyi. Mengapa disebut sastra cetha, yakni untuk menggambarkan olah nafas yang ditarik hingga ke ubun-ubun. Nafas bisa mencapai ubun-ubun bila cethak ditutup rapat sehingga tidak lebih dulu gembos melalui mulut. Bila nafas tidak ditahan dengan cethak hanya akan mengikuti jalannya nafas yang wajar dengan sendirinya. Nafas tidak dapat mencapai ubun-ubun hanya sampai di cethak langsung turun lagi.


DAIWAN

Daiwan atau dawan artinya mengatur keluar masuk nafas yang panjang, rileks dan penuh kesabaran, tidak kemrungsung, buru-buru.  Daiwan berarti pula panjang tanpa ujung, langgeng atau abadi. Maksudnya adalah sarana hidup kita yang langgeng berada di dalam nafas kita. Nafas adalah keluar masuknya angin dalam badan seiring dengan keketeg panglampahing rah/roh. Bila kedua unsur tersebut (nafas dan roh) berhenti bekerja dinamakan mati yakni rusaknya badan wadag lalu kembali kembali ke asalnya. Maka nafas yang selalu keluar masuk badan hendaknya dipanjangkan sepanjangnya agar kita memperoleh energi kehidupan lebih panjang lagi.

Keluar masuknya nafas benar-benar dirasakan adanya energi hidup (atma/chayu/kayu/kayun)  sembari mengucap mantra dalam hati/batin saja. Mengucap “hu” pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. Lalu mengucap “ya” pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar. Naik turunnya nafas tadi melewati dada dan cethak. Nah, disebut sastra cetha karena pada saat mengucapkan kedua mantra hu – ya  dibarengi dengan pengendalian buka tutupnya cethak untuk menahan dan melepas nafas.
Setelah masuknya Islam ke nusantara, terjadi beberapa anasir seperti dalam wirid naqshabandiyah SSJ mantra hu – ya dirubah bunyi menjadi hu – allah. Namun kemudian terdapat mazab lain di luar mazabnya SSJ, dan melakukan modifikasi mantra hu – allah menjadi haillah – haillallah, dikenal sebagai wirit satariyah. Perbedaannya, dalam tradisi satariyah ini tidak dilakukan menahan nafas, melainkan hanya bernafas seperti biasanya.

Apapun kata dan bahasa yang digunakan dalam mantra toh tidak ada pengaruh dalam keberhasilan semedi. Letak keberhasilan semedi bukan pada ucapan,  namun bagaimana kita harus memahami dan menghayati makna hakekat dari hu – ya, hu – allah, maupun hailah – hailallah. Jangan terjebak oleh rangkaian kata-katanya namun konsentrasi harus di fokuskan kepada getaran Zat Mahamulia. Hu atau ha atau a atau the berarti “sesuatu”, yakni menggambarkan sesuatu yang paling dan maha, tidak lain adalah eksistensi Zat tertinggi yang tanpa nama sebagai tingkat pemahaman akan tataran hakekat Zat.


TRIPANDURAT

Satu kegiatan olah nafas dinamakan sastra cetha yakni sekali kegiatan menarik/menyedot nafas melalui hidung lalu di tahan, selanjutnya dilepas lagi lewat mulut. Setiap kegiatan olah sastra cetha, tidak perlu dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama tanpa putus. Sebaliknya dilakukan saja secara wajar misalnya 3 kali melakukan olah sastra cetha kemudia istirahat sejenak lalu dimulai lagi. Tiga kali melakukan olah sastra cetha disebut tripandurat. Tri ; tiga, pandu ; suci, rat ; jagad/ badan. Maksudnya tiga kali melakukan olah sastra cetha dapat menghasilkan persentuhan antara makhluk dengan Sang Pencipta atau tumameng ing ngabyantaraning yang Mahasuci, bertempat di dalam ubun-ubun atau suhunan yakni ingkang dipun suwuni.



Naik dan turunnya nafas dinamakan wahana paworing kawula-Gusti. Pada saat nafas di tarik mencapai ubun-ubun atau suhunan lantas ditahan, nafas berhenti sejenak. Posisi yang demikian dinamakan ; kita jumeneng Gusti, bila nafas sudah diturunkan kembali ke pusar (sembari nafas keluar perlahan lewat mulut) kita kembali dinamakan sebagai kawula. Sampai pada penjabaran ini jangan sampai para pembaca keliru memahami. Adapun yang dimaksud manunggaling kawula-gusti bukanlah nafas kita, melainkan daya cipta. Olah semedi harus membentangkan atau merentangkan keluar masuknya nafas agar menjadi panjang. Sembari mengheningkan dan membeningkan mata, karena mata kita berasal dari rasa pangrasa atau indera ke-enam.  

Begitu seterusnya hingga merasakan kemajuan-kemajuan. Ukuran kemajuan dalam latihan olah nafas bilamana mampu menahan nafas lebih lama lagi dari sebelumnya dan kuat melakukan latihan olah nafas dalam waktu yang semakin lama pula. Dengan kata lain jam terbangnya semakin tinggi.

Adapun olah semedi dapat dilakukan sepanjang masa, pada saat duduk, berdiri, berjalan, maupun saat bekerja. Namun cara yang dapat ditempuh cukup mengucap mantra hu – ya dalam setiap hela nafas keluar masuk. Tidak perlu diucap dengan lisan lebih utama ucapan mantra selalu terpatri di dalam hati menyambung koneksi antara diri sejati dengan Ilahi.


MANFAAT SEMEDI

Olah pasamaden atau ulah semedi sangat bermanfaat untuk kesehatan lahir batin, dan menjadi sarana belajar mengetahui hal-hal yang tersimpan di dalam rahasia gaib. Sehingga disebut pula sebagai sastra jendra hayungrat pangruwating diyu.

Sastra = empaning kawruh, jendra = harja-endra, harja = raharja, endra = ratu/dewa, yu = rahayu/wilujeng, ningrat = jagad/tempat/badan. Maknanya ; intisari ilmu pengetahuan sejati yang berguna untuk membangun kesadaran dan keselamatan, kesejahteraan, dan ketentraman. 

Pangruwating diyu = menjaga diri dari diyu. Diyu = raksasa/denawa/asura/buta  atau sifat raksasa bodoh, angkara murka dan gemar menganiaya, yakni sifat-sifat kebalikan dari dewa, sebagai lambang segala sesuatu yang baik. Maknanya ; olah semedi yang dapat menyirnakan segala hal yang buruk/jahat, gangguan, dan segala marabahaya.

Dari pengertian sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu mengandung makna yang mendalam yakni; siapapun yang tidak enggan melakukan olah semedi akan memperoleh berbagai kebaikan, dapat mengendalikan nafsu negatif, hatinya bersih, batin dan nuraninya tajam, naluri dan instinknya menjadi semakin kuat, memiliki sense of human, kepekaan sosial, kepekaan indera keenam (rahsa sejati). Bila badan sedang sakit atau dirasa tidak enak, akan menjadi sirna sakitnya.  Sifat temperamental menjadi sopan santun, sabar, belas kasih dan lapang dada.  Gemar bohong berubah menjadi jujur. Yang bodoh menjadi pinter. Yang sudah pinter menjadi pinter sekali. Hasil dari olah semedi dapat dikiaskan sebagai berikut ; yang sudra menjadi waesia, yang waesia menjadi satria, yang satria menjadi brahmana, yang brahmana menjadi berbadan braja berjiwa bethara. Yang gemuk jadi kurus, yang kurus jadi gemuk, dsb.  Tapi jangan pesimis dulu, berkat olah pernafasan ada beberapa yang berhasil kok, yang tadinya gemuk menjadi ideal. Seperti halnya berbagai perguruan ilmu “tenaga dalam” sudah membuktikan manfaat olah semedi (pernafasan) ini terutama dalam menjaga stamina dan kesehatan. Jika badan sehat, stamina bagus, maka jasad tidak mudah rusak, berarti dapat menghabiskan usia yang digariskan tuhan, dan  tentu saja tidak terjadi “kematian prematur” akibat human error, kecerobohan dan mismanajemen dalam menjalani kehidupan ini.

“sawarnaning kapiawon  tuwin saliring godha rencana, bebaya pakewed punapa kemawon, ingkang tuwuh saking cidraning manah pribadi, punika sedaya sirna lebur dening pangastuti ulah semedi, inggih amesu cipta, mesu budi, maladihening, ulah pasamaden, sedaya punika namung kangge amurmeng pandulu paworing kawula kalawan gusti. Makaten ugi sedaya  sawarnining bebaya ingkang medal saking pandameling tiyang sanes, sanadyan ugi kewan ingkang wantun angganggu damel, temtu ketaman ing wilalat, peksi miber ingkang ngungkuli temtu pejah sirna kuwandhanipun. Punapa dene tumrap sasamining titah ingkang nedya anglawan, angremehaken tuwin angluhuri kamenangan dateng sasaminipun, temtu boten badhe kalampahan. Salagi saweg purun papandengan kemawon sampun tamtu badanipun gemeter lolos otot bebayunipun. Inggih margi saking kaungkulan perbawa ingkang tansah sumunar gumawang purbawisesanipun kadosdene wimbaning purnama sada”.

Karena itu dalam kaitannya dengan olah asamaden, Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Manfaat Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah tatacara, jalan atau cara untuk mencapai kemuliaan dan kesempurnaan hidup yang sejati.

sabdalangit

Karipta saking Serat Aji Pameleng lan seserepan saking para ngaluhur ing ngalam kajaten. Ugi saking kasilipun ulah pasamaden, mesu cipta, mesu budi  duk ing nguni. Sedaya wau mugi migunani dumateng sagung paramaos dahat kinurmatan. Rahayu, suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

Sabtu, 29 Januari 2011

Geguritan "Tandha Katresnan ku"

Tandha Katresnan ku

Wiwit kok tulisake tresna iku.
Manuk-manuk kepodang padha geguyonan
Ing pang-pang godhonge waru.
Ijo enom lelagone langit biru.
Srengenge isuk kang mlethek ing ati sumunar.
Martakake dhina bakal ora kamendungan…

Wiwit kok kandhak’ake tresna iku.
Liwat kali dhak kintirake prau godhong pring.
Amrih bisa lelayaran aneng segaranining atimu…
Apepayon langit ing pucuking alun.
Banjur dak tunggu tekane nggawa warta.

Wiwit kok kidhungake tresna iku….
Apa aku kudu lumaku sadhuwure angin lan segara.
Njupuk kembang srengenge kang mlethek.
Banjur dak slempitake ing kupingmu.
Kareben nambahi brantaning ati….

Sanjerone ati iki,Yayi…
Ana panandhang,kirane mung kowe kang bisa mangerteni.
Liwat getering angin kang sumilir.
Sadawaning laku lan sepi tak ceritakake.

Yen ta…samengko bakal NYAWIJI….

                                 




-Juara I Lomba Nyastra Geguritan dan Menulis Lontar Fakultas  Bahasa
  Universitas Udayana. Denpasar, Bali 2008
- Narasi Ketoprak  Poerbatjaraka dalam Lakon “Damar Wulan Ngarit” di
   Art Centre Denpasar,Bali.
-Majalah Jaya Baya Edisi 38 Tahun 2008
-Workshop Puisi Kelompok Alief Mojoagung Tahun 2009
-Buku Antologi Puisi dan Geguritan " Facebrick" di PSBR Jombang,
  31 Desember 2010
                                          
  


Sanggar Karawitan Pura Gajah Denpasar Rabu Legi,09 januari 2008                                                                                   
                                                                                    
                                              SIGN MY LOVE
                          
Since you write a love story
Orioles birds  joke
Hibiscus tree limb on the branch
Green sang a blue sky

The morning sun is rising in the heart that shines
Indicates the days will not be covered cloudy

Since you say it's love
I'm Going a little boat of bamboo leaves
In order to sail in the ocean of your heart
Umbrella in the bud sky sky
Then I took a wait for the arrival of news

Since you love singing
What do I have to walk on the wind and the sea
Taking the expanding sunflower
Then I tuck in your ear
In order to increase lust in the heart

Deep down inside, the Beloved ...
There is a desire, which probably only you can understand
Through the wind that blows
Quiet throughout the journey and now I tell you
That ... everything in this world will merge into ONE.  


                                                                                            
TANDA CINTA KU
                            
Sejak engkau menuliskan cerita cinta itu
Burung-burung kepodang bersendau gurau
Di cabang dahan pohon waru
Hijau muda melagukan langit yang biru

Mentari Pagi yang terbit di dalam hati yang bersinar
Menandakan hari-hari tidak akan tertutup mendung

Sejak engkau mengucapkan cinta itu
Aku hanyutkan sebuah perahu kecil dari daun bambu
Agar bisa berlayar di dalam samudera hati mu
Berpayung langit di pucuknya angkasa
Lalu ku tunggu datangnya membawa sebuah berita

Sejak engkau mengkidungkan cinta itu
Apa aku harus berjalan di atas angin dan lautan
Mengambil bunga matahari yang mengembang
Lalu ku selipkan di daun telinga mu
Agar menambah birahi dalam hati

Di dalam lubuk hati ini,Kekasih…
Ada Keinginan,yang mungkin hanya engkau yang bisa mengerti
Lewat suara angin yang berhembus
Sepanjang perjalanan dan sepi ini aku ceritakan

Bahwasanya…semua yang ada di dunia ini akan menyatu menjadi SATU.




                                                             
Sanggar Karawitan Pura Gajah Denpasar Rabu Legi,09 januari 2008 


 Notabene :

Matur Sembah Nuwun Kagem :

- Kanjeng Gusti Pangeran ingkang Ngakarya Bawana ALLAH SWT
- Sang Hyang Ida Widhi Wasa
- Ibu ku...Ibu ku...Ibu ku...
- Kanjeng Biyung Nyai Roro Kidul
- Ong Ra Nini
- Maulana Danniswara
-Aku
- Emi Tamura
- Teman-teman dan Crew Kelompok Teater ALIEF Mojoagung....Semuanya.
- Majalah Jaya Baya
- Kang Didid Samoedra
- Mbakyu ku Ami DS
- Mbak Sunyahni
- Special Thanks Buat Mbak Andian Inurlaila atas bantuannya dalam 
   Titi Swara Pada Tembang "Lara Wuyung ".
- Kangmas Puguh Wicaksono untuk Wejangan nya...
- Mbak Rumania Namaste ( atas info serat dan buku nya )
-Keroncong Independent Mr. Ardit "Klentho" Januar
- Ukulele Baritone Maestro Junior C 372,Harmonica 270/48 Super Chromatic Hohner,
   Harmonika Hohner Special 20 Marine Band
- Lesan Pura
- Semua Nyawa yang pernah menemani ku di dunia ini
- Dan Pribadi-pribadi yang tidak bisa saya saya sebutkan satu per satu...

Rahayu...Rahayu...Rahayu Sagunging Dumadi.





Rabu, 26 Januari 2011

SERAT WEDHATAYA SALAH SATU DASAR ESTETIKA TARI JAWA SURAKARTA

Sakderengipun, Matur Sembah Nuwun Kagem : Dwiyasmono Staff pengajar jurusan tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

A. Pendahuluan
Keberadaan pustaka langka atau manuskrip tari jawa sampai
dewasa ini masih dipandang sebelah mata oleh para pelaku budaya
di masyarakat. Para ilmuwan dan penelitipun tidak banyak yang
tertarik pada masalah ini, hanya para peneliti yang mempunyai
dasar budaya Jawa yang mau menggeluti masalah ini. Hal ini
karena ada pemikiran bahwa sumber-sumber tersebut dianggap
telah ketinggalan jaman. Masyarakat pelaku budaya sekarang
cenderung lebih suka mengungkap beberapa masalah yang menjadi
mode/trend di masyarakat. Pustaka langka/manuskrip yang ada
tersebut mengandung nilai-nilai adiluhung. Beberapa pustaka
langka tersebut salah satunya adalah Serat Wedhataya. Pustaka
tersebut banyak mengungkap tentang seni tari Jawa gaya
Surakarta terutama menyoroti tentang konsep-konsep dan makna
filosofinya.

Penyusunan telaah pustaka dan manuskrip langka dalam hal
ini adalah Serat Wedhataya, yang masih berbentuk manuskrip
huruf Jawa kuno. Serat Wedhataya, menurut perkumpulan
Yogyataya, di Surakarta Hadiningrat adalah mencari makna dan
mengira-ira perihal cara membawakan tari Wireng Kuna. Karangan
ini disusun oleh murid-murid yang belum sempurna
pengetahuannya, sekedar untuk membukukan konsep-konsep tari,
jenis-jenis tari atau macam-macam tari yang diajarkan.


B. Analisa Bentuk dan Makna Sebelas Tarian dalam
Serat Wedhataya
Salah satu dari sedikit penjelasan tentang arti tari klasik
menurut orang Jawa, terdapat di dalam manuskrip dari awal abad
kedua puluh, yang berjudul Serat Wedhataya, ‘risalah (suci)
tentang seni tari. Anak judul risalah ini ialah: tegesipun piwulang
joged utawi piwulang mendhet suraosipun beksan wireng kina, ‘ arti
pelajaran tari, atau pelajaran mengambil makna dari tari
keprajuritan kuno’. Risalah ini dimulai dengan kalimat-kalimat
sebagai berikut:

‘Pakempalan Yogyataya, ing Surakarta Hadiningrat,
pangrehipun damel karangan serat dipun namekaken ‘Serat
Wedhataya’, gancaripun anyuraos saha anggrayangi solah
iraganipun beksa wireng kina, kapendhetan sagadukipun larelare
ingkang dereng sampurna pamawasipun, inggih namung
luwung kanggi panyatheting pamanggih, kados ing ngandhap
punika kawontenanipun. (NN.1923)

1.
Wiwit lenggah tumungkul, sila rapet kaliyan papan, punika
pasemon manungsa. Wiwitipun kedah andhap asor,
angengeti asalipun pasiten, lan asor ing alamipun.
2.
Manawi gangsa sampun sami mapan iramamipun, kedah
lajeng dhengek sapemandeng, asta kaleh kapangku, sikut
mengenceng, driji gandamaru; manawi gangsa ngelik lajeng
ngaras sareng gong. Punika pralambang: manawi manungsa
sampun lenggah dumadi, salam taklim, lajeng amawasa
kanthi kapurunan, ingkang ngantos kacepeng guthitanipun.
Dununging kawula gusti yen saged tamat dumugi raos, lajeng
manembaha dhateng ingkang Sipat Esa, mila dipun
namekaken beksa, raosipun ambeg sawiji saha ningga, inggih
punika piwulang yoga’.
‘Pengurus perkumpulan Yogyataya di Surakarta Hadiningrat
menulis sebuah kitab berjudul ‘Serat Wedhataya’, isinya
mencari makna serta mengungkap makna gaya gerak-gerik
tari keprajuritan kuno, diambil sejauh-jauh bagi anak-anak
yang masih belum tajam benar pemandangannya, sekedar
cukup sebagai pendapat, yaitu sebagai berikut:

1. Dimulai dengan
duduk tertunduk, bersila diam di tempat,
sebagai lambang tentang manusia yang harus bermula
dengan sopan santun, ingat tentang tanah asalnya, serta
sifatnya yang hina.
2.
Jika suara gamelan telah siap berirama, lalu angkatlah muka
ke depan, kedua tangan dipangkuan, siku meregang, jarijemari
yang berjalinan; apabila gamelan melengking lalu
bersembah bersamaan dengan bunyi gong. Ini merupakan
tamsil: apabila orang telah tahu tentang kedudukan makhluk,
lalu dengan taklim tataplah dengan berani, sehingga
tertangkap akan seluk-beluknya. Jika kedudukan makhluk
khalik telah tuntas terselami, maka bersembahlah kepada
Yang Bersifat Tunggal; karenanya disebut beksa, yang
maknanya berwatak manuggal serta muksa, demikianlah
ajaran yoga. (Brakel:18)

Seperti tersimpul di dalam judulnya, risalah ini membicarakan
masalah tari sebagai suatu bentuk kesenian yang mengungkapkan
konsep-konsep filsafat (mataya), dan memandang gerak-gerik
tarian sebagai olah yoga. Karena itu risalah ini tidak saja
mengemukakan aturan-aturan dan kaidah-kaidah tentang cara-cara
yang benar dalam memperagakan komposisi tarian (beksan), tetapi
diawali dengan menerangkan tentang simbolisme dan makna
batiniah (rasa) dari gerak-gerik tarian.

Baik sikap guru tari maupun murid-muridnya (siswa) sangat
dipengaruhi oleh pendapat, bahwa penyusun dan pembesutan
gerak-gerik tari Jawa klasik didasarkan kepada ide-ide estetika dan
filsafat, yang diambil dari dan berhubungan dengan peribadatan
keagamaan. Ini merupakan satu penjelasan atas kenyataan, bahwa
tarian merupakan pernyataan artistik dari kebudayaan Jawa yang
sangat diagungkan, yang telah dikembangkan pula menjadi suatu
bentuk kesenian yang paling rumit. Maka leksikon Jawa yang
sangat kaya dan beraneka ragam itupun merupakan petunjuk,
tentang betapa penting kedudukan tari di dalam kebudayaan Jawa.

Menurut Wedhataya (1974.20) gerakan pertama yang harus
dilakukan penari, sesudah berdiri dari sikap duduk di lantai,
dinamakan laras. Adapun peragaan dan maknanya, seperti
diuraikan di dalam bagian awal kitab ini, sebagai berikut:

‘Lajeng jumeneng winastan Laras, mlampah ngiwo nengen
wangsul tengah, pralambang rehning sampun mangertos
dhateng dunungipun Ingkang Sipat Esa, lajeng kalarasa
ingkang waspada ing jawi lebet’.
Lalu berdiri (dan melakukan gerakan) yang disebut ‘laras’,
melangkah ke kiri, kanan, dan kembali ke tengah; sebagai
tamsil, setelah tahu kedudukan Yang Maha Tunggal, lalu
laraslah dengan cermat, lahir dan batin’.

Apabila didalam paragaraf di atas kata laras digunakan untuk
menyebut gerak-gerik, yang dilakukan penari sesudah berdiri,
maka kepentingan konsep laras di dalam toeri dan praktek tari
diterangkan lebih lanjut pada paragraf berikut:

‘Wosipun ngagesang punika, kedah sampurna panglarasipun,
ing badan pribadi, ing jawi lebet, liripun: tumrap larasing
jawi, tiyang badhe njoged Alus, sarira kedah lurus, polatan
tajem, pasemon sumeh; ingkang beksa Branyak sarira repeh
kewes, pasemon wingit; ingkang beksa Bergas sarira antar
pasemon ladak; ingkang beksa Sareng-regu dedeg kepara
ageng inggil, radi balung kawetu, pasemon andik angajrihi.
(Brakel:21)

‘Intisari hidup ialah agar laras sempurna, dalam diri pribadi,
jiwa raga, maksudnya: tentang laras raga, jika orang akan
menarikan tarian alus, harus bertubuh lurus, pandangan
tajam, raut muka manis; jika menarikan branyak, tubuh
bersahaja dan luwes, air muka berwibawa; jika menarikan
tarian bergas, tubuh tenang, raut muka congkak,; jika
menarikan tarian sereng-regu,sosok tubuh agak tinggi besar,
tampak kuat dan raut muka keras menakutkan.


Uraian tentang larasing jawi, keselarasan lahiriah, ini diikuti

dengan uraian tentang kekuatan keselarasan batiniah (larasing

batin), yang memungkinkan orang mempengaruhi nasib, yaitu

dengan jalan mengendalikan pikiran dan perasaan, walaupun

tetang ini dipandang sukar melaksanakan.
Pada paragraf selanjutnya, empat macam ‘keselarasan

lahiriah’ itu sebagaimana terungkap di dalam empat gaya tarian

utama: alus, branyak, bergas, dan sereng-regu – dihubungkan

dengan pembagian masyarakat menurut hindu menjadi empat

golongan yang terkenal itu:
Jalaran manungsa punika, inggih pinerang sekawan pangkat:
satunggal Brahmana, kalih Satria, tiga Waisya, sekawan
Sudra; punika para penggalihan sampun ngantos kalentu
panglarasipun, dhumeh atmajaning pandhita ‘tamtu watak
Brahmana, putraning narendra tamtu ambeg Sinatriya,
sutaning saudagar tamtu watak Waisya, anaking pakathik
tamtu watak Sudra.

Manawi katetepaken makaten, taksih saged lepat, jalaran
sadaya tiyang kadunungan manungsa sejati, sekawan bangsa
punika gadhah kewajiban piyamabak-piyambak, ugi
ginanungan nistha madya utami sowang-sowang, punapa
malih sipating Pangeran Rahman Rohim, murah asih,
kepareng nyenyuwun santuning wateg, sok wategipun
santun-satun bangsanipun inggih ugi santun: Brahmana
saged santun Satria, Satria dados Waisya, Waisya dados
Sudra, Sudra dados Brahmana, makaten umpaminipun.
Ananging manawi sampun minggah, inggih kalayan rekaos,
beda yen maleret, inggih gampil kalaksananipun, awit gesang
punika lahiripun yen mboten upakara, inggih saya suda
ajinipun, sangsinipun Panjenengan Nata, ngawontenaken
putra nata, putra nata lajeng wayah-buyut-canggah, lajeng
limrah tiyang, bebujengan, woh-wohan sesekaran, saya lami
saya suda woh sekaripun, ugi suda ajinipun.

Ananging gesanginpun jiwa ingkang tumimbal dumadi,
panedhanipun sangsaya lami sedyanipun saya minggah, mila
patraping ngagesang punika manawi kalaras sayektos
panedha inggih gawat sanget. (Ibid.22)
Oleh karena umat manusia terbagi menjadi empat bagian:
yang pertama Brahmana, kedua Satria, ketiga Waisya, dan
keempat Sudra; tentang ini para pemerhati jangan sampai
menjadi sumbang: mentang-mentang anak pendeta pasti
berwatak Brahmana, anak raja pasti berpengarai Satria, anak
pedagang pasti berwatak Waisya, dan anak budak sahaya
pasti berwatak Sudra.
Jika dipastikan seperti itu, masih bisa terjadi kesalahan.
Sebab setiap manusia mempunyai jati diri, empat golongan
itu punya kewajiban sendiri-sendiri, juga membawa serta
kehinaan, kegairahan, dan keluhuran masing-masing. Apalagi
sifat Tuhan yang pemurah dan pengasih, dimungkinkanlah
memohon perubahan watak; jika watak berubah golongannya


pun berubah: Brahmana bisa menjadi Satria, Satria menjadi
Waisya, Waisya menjadi Sudra, Sudra menjadi Brahmana,
demikianlah misalnya. Tetapi jika berubah naik tentu dengan
susah payah, beda dengan berubah turun mudah saja
terjadinya. Karena semua makhluk hidup ini kenyataannya,
jika tanpa asuhan akan semakin berkurang nilainya. Contoh
Baginda Raja, yang melahirkan putera raja, putera rajapun
bercucu-cicit-piut, lalu awam biasa, beranak-pinak, berbuah
berkembang-biak, semakin lama semakin berkurang buah
dan bunganya, demikian pula berkurang harkat martabatnya.
Tetapi kehidupan jiwa yang terus menerus bertumbuh,
menuntut semakin lama semakin ke atas; oleh karena itu
tingkah laku hidup ini, jika benar-benar hendak dilaras,
tuntutannya sungguh sangat berat.
Di dalam paragraf ini, dengan agak secara tersirat, empat

gaya tari tersebut digolongkan dengan empat golongan
masyarakat. Arti penting keadaan keselarasan dijelaskan sebagai
suatu prerogatif bagi kesempurnaan jiwa, atau setidak-tidaknya
bagi ‘pendakiannya’ melalui berbagai-bagai eksistensi. Teori ini
sesuai dengan filsafat hidup Hindu-Budha yang meresapi pemikiran
Jawa serta bentuk-bentuk kesenian tradisionalnya. Dengan
demikian seni tari, menurut Wedhataya, memainkan peranan
sebagai olah yoga bagi makhluk hidup di dalam berdaya upaya
menyempurnakan dirinya sendiri.

Menurut pandangan ini raga dianggap tempat kediaman
sementara bagi jiwa, dan di sisi-sisi kanan dan kirinya merupakan
tempat daya kekuatan ‘baik’ dan ‘buruk’ yang berebut kekuasaan
di dalam setiap pribadi seseorang. Sedikit banyak ini merupakan
penjelasan tentang tata-sibuk dalam tari Jawa dengan gerak-gerik
sisi kanan dan kiri berganti-ganti, terutama dengan kedua tangan
dan lengan. Demikian, selagi penari masih duduk di lantai, ia
melakukan beberapa gerak-gerik tangan tertentu ke samping
kanan dan kiri tubuh, yang di dalam Wedhataya diuraikan sebagai
berikut:

‘…lajeng mratingkahaken asta kiwa lan tengen, driji
kagathukaken tengah sami tengah, asta kiwa lan tengen
kapetha silih ungkih, genthos kasor, wekasan ingkang kiwa
kalimputan ingkang tengen, punika pasemonipun, tindak
ngiwo punika ateges awon, nengen sae, dados menawi sae
sampun saged angungkuli awonipun, lajeng kanggea sare
manembah ingkang sawiji, nanging ingkang awon kadu
nungna panggenanipun, ingkang sae dipunkurepana, mila
rampungipun manembah, asta kiwa wangsul mangiwo, asta
tengen mangkureb ing suku tengen, punika sampun leres’.

‘…lalu tangan kiri dan kanan digerakkan, jari-jemari
dipertemukan yang tengah sama tengah, tangan kiri dan
kanan seolah-olah saling dorong, kalah mengalahkan,
akhirnya yang kiri dikuasai yang kanan; ini merupakan tamsil
bahwa jalan kiri berarti buruk, dan kanan baik; hingga, jika
baik telah bisa menguasai buruk, lalu gunakanlah beristirahat
bersembah dengan bulat hati. Tetapi si buruk dudukkanlah
pada tempatnya, dan telungkupkanlah si baik. Maka usai


bersembah, tangan kiri kembali ke kiri, tangan kanan

tertelungkup di kaki kanan, demikianlah cara yang benar’.
‘Perjuangan kekuasaan’ antara kanan dan kiri memasuki seluruh
aspek tari: gerak-gerik cenderung dilakukan oleh anggota badan
kiri dan kanan berganti-ganti, kepala dipalingkan bergantian ke
kanan dan ke kiri, pola-pola spasial para penari cenderung imbang,
atau bergantian antara orientasi-orientasi kiri dan kanan, atau
utara dan selatan/timur dan barat.

Wedhataya, kapanpun menyebut gerak-gerik dan posisi
tarian, tidak sekedar melukiskan tentang bentuk-bentuknya saja,
tetapi sekaligus mengemukakan pasemon atau interpretasi
simbolisnya. Di dalam buku ini simbolisme memberikan alasan, baik
bagi bentuk maupun gerak-gerik tangan dan sikap tubuh. ia
memberikan keterangan tentang cara penggelaran yang telah
diperhalus. Dan setepatnya, yang merupakan ciri khas bagi
koreografi-koreografi klasik yang disebut beksan itu.

Kata ‘klasik’ mungkin memerlukan penjelasan sekedarnya:
saya gunakan kata ‘klasik’, apabila dimaksudkan tari-tarian Jawa
digubah dan dipergelarkan menurut aturan-aturan yang ditetapkan
oleh guru tari dan pemain gamelan. Pathokan atau aturan-aturan
tersebut dengan secermat-cermatnya menentukan, bagaimana
masing-masing bagian tubuh melkukan gerak-gerik, atau dibentuk
menjadi sikap tubuh tertentu; bagaimana pula sesuatu koreografi
harus disusun, serta bagaimana alunan gerak-gerik harus serasi
dengan alunan musik (gemelan). Walaupun didalam situasi praktek
tari yang senyatanya semua ini disampaikan dari guru ke siswa dan
juga dari siswa yang satu ke siswa yang lain terutama sebagai
suatu tradisi lisan, namun tentang penerapannya bisa kita temukan
informasi sekedarnya di dalam beberapa risalah tertulis tentang tari
Jawa.

Di dalam Wedhataya biasanya aturan-aturan koreografi tidak
dinyatakan secara eksplisit, namun sedikit banyak bisa ditemukan
di dalam bagian-bagian deskriptif, seperti di dalam paragraf yang
menjelaskan bagaimana corak watak pokok harus dinyatakan
melalui gerak-gerik tari:

‘ Bakuning jagad sekawan warni: Alus, Branyak, Bergas,
Sereng-regu. Sekaraning jagad ingkang dados pada,
wastanipun tanjak, punika ugi, sekawan: yen beksa Alus
tanjakipun ’gangeng kanyut’, tlapakan semu jengat, dhengkul
katekuk, tandukipun ngantuni gong tengahing sereng; yen
beksa Branyak tanjakipun ‘prenjak tinaji’, dhengkul nekuk
sawetawis, tungkak mancat, tumandukipun nyarengi gong;
yen beksa Bergas tanjakipun ‘banyak silulup’ suku nekuk
semu nggrodha, tlapakan napak leres, lambung jaja
manglung, jangga tumungkul lajeng dhengek, tumandukipun
radi ngrumiyini gong; beksa ingkang Sereng-regu tanjakipun
‘kebo menggah’, patrapipun suku njangkah tlapakan tumapak
leres, lambung, jaja, jangga semu jejeg, tandukipun nyarengi
gong, ananging tandukipun sarira kedah runtut, pramila
lagunipun sesekaran warni-warni wau, inggih katinggal laras
saba turut’.


‘ada empat pokok jenis tari: halus, Branyak, Bergas, dan
Sereng-regu. Maka ada empat macam pula pola-pola tarian
untuk kaki yang dinamakna tanjak itu. Tanjak untuk tarian
halus ialah ’ganggeng kanyut’: telapak kaki agak menjungkat,
lutut berkeluk, gerakannya menyusul gong di saat meninggi;
tanjak tarian Branyak ialah ‘prenjak dipanah’. Lutut agak
berkeluk, tumit menumpu, gerakan bersama gong; tanjak
tarian Bergas, ‘angsa menyelam’: lutut menekuk bagai
garuda, telapak kaki menapak rata, lambung dada
melambung ke depan, leher menunduk kemudian diangkat,
gerakan sedikit mendahului gong; tanjak tarian Sereng-regu,
‘kerbau marah’: kedudukan kaki menjangkah, telapak kaki
menapak datar; lambung, dada, dan leher agak tegak,
gerakan bersamaan dengan gong. Tetapi gerak-gerik tubuh
tentu harus selaras, sehingga berbagai macam pola itupun
menjadi terlihat laras, lagi pula seirama.’
Uraian tersebut di atas mengandung beberapa petunjuk

penting untuk apresiasi tari Jawa, yaitu bahwa: empat jenis tarian
pokok itu (alus, branyak, bergas,dan sereng-regu) ditarikan dengan
empat gaya pokok yang selaras. Keempat-empatnya dinamakan
menurut gejala-gejala alam, yaitu bentuk dan gerak-gerik tumbuhtumbuhan
dan hewan. Dlam hal ini punjuga tampak adanya
hubungan yang dinamis antara alunan gerak-gerik tarian dengan
alunan suara gendhing, dan dalam hal ini pukulan gong memainkan
peranannya yang penting.

Susunan koreografi-koreografi klasik tidak saja berhubungan
dengan ulah yoga, tetapi juga dengan seluruh seluk-beluk
pemikiran Jawa sebagaimana yang terungkap di dalam cerita-cerita
tutur sejarah atau keagamaan, didalam tembang, wayang dan
dalam seni pertunjukan umumnya. Memang seni tari merupakan
suatu aspek penting dalam seni wayang. Bukan saja karena taritarian
tersebut mengambil temanya dari cerita-cerita yang
dimainkan dalam wayang, tetapi didalam pergelaran-pergelaran
wayang itu para pemainpun sering menggunakan gerak-gerik
stilisasi, atau tarian sepenuhnya.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap stilisasi beksan ialah
keadaan lingkungan, tempat beksan itu secara tradisional
dimainkan. Beksan dirancang untuk dimainkan di sebuah
pendhapa, yaitu ruangan bersegi empat dan berpilar, yang terletak
di depan bangunan tempat tinggal utama pada rumah Jawa. Sesuai
dengan ruang tengah segi empat pendhapa itu, maka koreografi
klasik mengarah pada seluruh empat penjuru mata angin. Maka
beksan ini pun mempunyai bagian-bagian pendahuluan dan
penutup, yang memungkinkan bagi penari tampil ke-atau
mengundurkan diri dari ruang tengah, tempat penggelaran utama
tarian tersebut.

Walaupun gerak-gerik tari klasik harus ditarikan dengan gaya
yang sangat luwes, serta mengikat bahwa beksan terikat oleh
banyak patokan, namun hal ini tidak harus berarti koreografi selalu
sama sekali telah ditetapkan (oleh seorang koreograf tertentu)
dalam setiap seluk-beluknya, sebelum koreografi itu ditarikan. Juga
tidak benar jika dikatakan, bahwa praktek dan apresiasi tari-tarian


klasik demikian itu harus merupakan prerogatif suatu golongan
‘elite’, sebagaimana dikemukakan oleh beberapa penulis tentang
tari Jawa.

Dalam menarikan beksan, energi amnusia dicurahkan
sedemikian rupa untuk menciptakan keindahan dan keselarasan
dari segala sudut, baik lahiriah maupun batiniah. Pada akhirnya
pertunjukan tari klasik Jawa ditujukan untuk menumbuhkan
ketajaman budi dan kesiagaan, sehingga memungkinkan mansusia
menghadapi kesulitan hidup dengan tenang, kepala tegak dan
senyum, yang sejak lama dipandang sebagai ciri karakteristik
kebudayaan Jawa.

Dalam bab ini di uraikan analisis beberapa tarian wireng putra
alus diantaranya:

1. Dhadap Kanoman
2. Dhadap Kareta
3. Dhadap Alus
4. Beksan Tameng Badung
5. Beksan Tameng Gleleng
6. Beksan Tameng Towok
7. Beksan Lawung Alit
8. Beksan Jemparing Alit
9. Beksan Gelas
10.
Beksan Panji Enem
11. Beksan Panji Sepuh
(Wedhataya.1923:28.Kridawayangga.1925:48-50.Sastra Miruda.
1930:51-54)
Secara rinci diulas makna dan maksud dari tiap-tiap tarian
tersebut.

1. Dhadap Kanoman
Tarian ini disajikan oleh 4 orang penari dengan gerak yang
sama menggunakan gending karawitan tari Rangsang Tuban pelog
pathet nem. Tari Dhadap Kanoman adalah dalam mencapai cita-cita
dan keinginan yang berlandaskan budi pekerti luhur selalu gigih
biarpun ada rintangan di depannya. Semua itu akan terwujud
apabila dilandasi ketulusan hati dalam pendekatan diri kepada-Nya.
Hal ini tergambar juga dalam iringan tari Karna Tinandhing yang
mempunyai kesan tenang, agung dan berwibawa sangatlah
harmoni utnutk mendukung gambaran perjalanan hidup manusia
yang mempunyai ketenangan jiwa dan berwibawa dalam
menyelesaikan masalah dalam pengambilan keputusan serta
mempunyai privasi harga diri yang agung. Sesuai dengan nama
beksan Dhadap Kanoman dapat diinterpretasikan bahwa
watak/karakter dalam tarian tersebut adalah penggambaran dari
manusia yang menginjak dewasa dengan belajar ketenangan diri,
kewibawaan, kepemimpinan, yang selanjutnya menemukan jati diri
sebagai manusia yang mempunyai derajat keagungan (menjadi
manusia dewasa).

2. Dhadap Kareta
Dhadap Kareta rakit 4 penari gending Segaran pelog pathet
nem. tari Dhadap Kareta mempunyai maksud sebagai lambang
kehidupan manusia yang banyak menampilkan dualisme baik –
buruk, suka cita, benar salah yang kemudian seseorang dapat


memilih sesuai dengan kata hatinya untuk menuju keabadian yang
khaliq. Dari kata kareta yang berarti kreta sebagai titian/ajaran
tentang baik buruk, benar salah, juga lambang ajaran untuk
mencapai kehidupan yang abadi. Gending Segaran pada tari
Dhadap Kareta mempunyai kesan agung, berwibawa, tenang. Hal
ini melambangkan juga dualisme kehidupan manusia yang harus
memilih sesuai dengan kehendak hati pada pilihan yang baik.

3. Dhadap Alus
Dhadap Alus rakit 4 penari, gendhing ladrang Kuwung pelog
pathet barang. Tari beksan Dhadap Alus ada 4 orang penari sebagai
batak, gulu, dada dan buncit. Batak sebagai lambang pikiran
manusia yang bisa memilihkan antara benar, salah, baik, buruk
dan segala tindakan yang sesuai dengan alam pikiran manusia.
Gulu sebagai lambang nafsu yang ada pada manusia sebagai
keinginan untuk dapat dipenuhi. Dada merupakan pengendalian
rasa dari tindakan pikiran manusia untuk memenuhi nafsu. Buncit
merupakan emosi jiwa dari manusia sebagai penebalan nafsu. Tari
Dhadap Alus sebagai lambang pertentangan antara pikiran, nafsu,
perasaan dan emosi jiwa dalam diri manusia. Dalam tari Dhadap
Alus pikiran dan emosi maupun sebaliknya. Akan tetapi
keempatnya merupakan satu kesatuan yang harus ada dalam hidup
seseorang. Namun bagaimana seseorang dalam mensikapinya
dapat mengendalikan pikiran, nafsu, perasaan dan emosi sehingga
tercipta suatu keseimbangan yang harmonis dari keempat unsur
tersebut. Hal ini tergambar dari akhir perang dalam tarian tersebut
yang sama geraknya maupun arah hadapnya. Dari uraian ini dapat
disimpulakan antara pikir, nafsu, rasa dan emosi dalam diri
seseorang hendaknya merupakan unsur yang saling menunjang
untuk menuju ke arah perilaku yang baik. Hal ini juga didukung
oleh gending ladrang Kuwung sebagai iringan tari Dhadap Alus
yang punya kesan rasa tenang dan agung. Kesan ini juga sebagai
interpretasi nama beksan Dhadap Alus yang menekankan pada
perilaku manusia yang tenang serta mempunyai kewibawaan untuk
mengambil keputusan dengan pertimbangan keagungan jiwa
sebagai wujud rasa manembah.

4. Beksan Tameng Badhung
Beksan Tameng Badhung rakit 4 penari, gendhing Kedhaton
Bentar slendro pathet nem. Beksan Tameng Badhung tersirat rasa
congkak. Sikap manusia yang mengandalkan kekuatan serta
kadigdayan fisik dalam meraih keinginan yang dilakukan dengan
sepenuh hati dalam menghadapi masalah yang menghadang.
Kebulatan tekad ditonjolkan tampak mempertimbangkan akibat
yang timbul maupun rasa hatinya/mengabaikan perasaan, yang
pokok mementingkan keinginan dan cita-citanya supaya terwujud.
Dengan kata lain gambaran perilaku dan sikap manusia yang
diperbudak oleh nafsu. Kesombongan dan kecongkakan terasa
tampak tebal. Dilihat dalam gendhingnya dalam tarian ini
mempunyai kesan gagah yang sedikit sombong. Hal ini harmonis
dengan analisis beksannya yang punya kesan gagah sombong
dalam perilaku manusia serta menganggap remeh sesuatu
masalah. Sehingga yang terlihat watak yang sombong namun tidak
mempertimbangkan akibat yang timbul dari perbuatannya. Dalam


hidup manusia kesombongan merupakan bagian dari sifat
kehidupannya. Meski tebal tipisnya seseorang berlainan. Dari nama
beksan Tameng Badhung terlintas interpretasi bahwa tarian ini
mempunyai kesan sombong, congkak dan menyiratkan sebuah
sikap tingkah laku dalam kehidupan seseorang yangpenuh dengan
kedombongan diri dalam menesikan masalah maupun dalam
mengambil keputusan.

5. Beksan Tameng Gleleng
Beksan Tameng Gleleng 4 rakit penari gendhing Jong Meru
Kudus pelog pathet barang. Pada prisipnya makna yang ada pada
beksan Tameng Gleleng hampir sama dengan makna beksan
Tameng Badung hanya perbedaannya pada beksan Tameng Gleleng
dalam memperlihatkan kesombongannya lebih tebal. Hal ini dalam
memperlihatkan bahwa penggambaran yang ada pada beksan
Tameng Gleleng adalah merupakan penggambaran manusia yang
berperilaku semaunya sendiri dan cenderung humoris (mempunyai
sifat melucu/ gecul agak mengejek serta meremehkan. Namun
dibalik itu mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan
permasalahan yang dihadapinya. Dari gendinya dapat
diinterpretasikan berkesan gagah sedikit rasa/berkesan gecul. Hal
ini menebalkan kesan gagah yang bercampur geculan yang
menimbulkan kesan kesombongan. Dari nama beksannya tersirat
juga kesan bahwa beksan ini menggambarkan kesan gagah yang
sedikit ada rasa geculnya.

6. Beksan Tameng Towak
Beksan Tameng Towak rakit 2 penari, menceritakan perang
tanding Patih Pragota dan Patih Dora Sembada, gendhing Gala
Ganjur slendro pathet sanga. Kesan pada tari ini merupakan
penggambaran dari seseorang berperilaku gagah tetapi dalam
menampilkan kegagahan itu didominasi oleh rasa gecul yang tebal.
Dalam penggambaran hidup seseorang pengambilan keputusan
tidak harus disikapi dengan keseriusan/formal, tetapi kadang kala
seseorang dalam menyelesaikan masalah disikapi dengan rasa
humoris yang tidak mengurangi tujuan dalam menyelesaikan
masalh tersebut. Hal ini tergambar dalam koreografi dari Tameng
Towak yang menampilkan Patih Pragota dan Patih Dora Sembada
sebagai perwakilan dari sikap-sikap gecul namun tidak terlena
dengan tujuan yang dicapai. Dari gendhing Kala Ganjur tersirat
kesan gagah gecul sehingga secara komposisi serasi dengan
tarinya.

7. Beksan Lawung Alit
Beksan Lawung Alit, rakit 4 penari, gendhing Embat-embat
Penjalin, slendra pathet sanga. Kesan beksan Lawung Alit ini
hampir sama seperti yang ada pada beksan Tameng Towok, tapi
kesan glenyengan tidak terasa melainkan yang terasa terkesan
tegas dan cakrak cenderung dengan kejelian dalam pengambilan
keputusan. Dari gendhing yang mengiringi terkesan gagah cakrak
penuh dengan kepastian dalam melangkah menentukan suatu
tindakan. Sikap ketegasan yang selalu diutamakan dalam
melangkah mengambil keputusan. Hal ini terkait erat dengan
komposisi tarinya.

8. Beksan Jemparingan Alit

Beksan Jemparingan Alit, rakit 2 peanri, gendhing Lengku
pelog pathet enem. Kesan yang tersirat pada beksan ini adalah
mengenai masalah baik buruknya. Penyelesaian masalah disikapi
dengan kehalusan budi dengan cara mempertimbangkan rasa dan
pikiran. Hal ini tidak merugikan satu dengan lainnya. Dari
gendhingnya dapat diinterpretasikan berkesan manis dan tenang.
Hal ini sesuai dengan komposisi koreografi tarinya.

9. Beksan Gelas
Beksan Gelas rakit 4 penari, gendhing Kagok Manduro slendro
pathet sanga. Beksan Gelas merupakan gambaran seseorang yang
tidak menguasai nafsunya, sehingga dalam dirinya timbul rasa
ketenangan karena semua nafsu yang terdapat dalam dirinya saling
mengisi, sehingga manusia itu dapat mengontrol dirinya dalam
menghadapi permasalahan yang secara eksplisit terlihat saling
mengisi itulah timbul/akan menimbulkan suatu keseimbangan,
sehingga tidak terjadi kontra dalam dirinya. Dilihat dari gendhing
tarinya yang berkesan gagal, sigrak, dan penuh dengan kedamaian
terasa harmonis dengan komposisi koreografi tarinya. Dari properti
gelas gergelek pada tari gelas mencerminkan suatu kseimbangan
antara wadah dan isi yang mana keduanya saling ada dan
melengkapi dalam kesatuan fungsi. Hal ini secara implisit tersirat
pada keseimbangan nafsu yang ada pada diri manusia, dimana
antara kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirinya ada saling
melengkapi.

10. Beksan Panji Enem
Beksan Panji Enem,rakit 2 penari, gendhing Sobrang pelog pathet
barang. Beksan Panji Enem menggambarkan masalah-masalah
yang terkait dengan baik-buruk. Hal ini tersirat penggambaran
tentang dualisme baik, buruk, benar, salah yang ada pada setiap
manusia yang merupakan suatu pilihan yang disikapi dengan
kebesaran hati. Dengan gendhing Sobrang terkesan gagah wibawa,
tenang. Secara implisit tersirat pada keterangan jiwa seseorang
dalam mensikapi dualisme yang harus memilih. Dengan arti kata
lain proses pendewasaan diri pada seseorang dalam menemukan
jati dirinya. Dari kata Panji yang berarti mapan/jidan enem yang
berarti muda, merupakan proses pendewasaan diri dalam pikiran,
tindakan dan perasaan.

11. Beksan Panji Sepuh
Beksan Panji Sepuh, rakit tunggal, gendhing Eling-eling
Kasmaran juga sering playon gangsal kalau mau dipakai wireng
nayuban gendhing-gendhingnya ladrang manis pelog pathet
barang, kalau mau kalajoran dijatuhkan ladrang Manis Betawen.
Beksan ini tersirat gambaran seseorang yang sudah mencapai
tingkatan dewasa, dalam arti pikiran, rasa maupun tindakan yang
dilakukan dengan penuh kebesaran jiwa, wibawa, andap asor,
bijaksana dalam mengambil suatu keputusan serta sifat legawa,
sareh dan pasrah serta cenderung bersifat ngayomi. Dari
gendingnya tersirat kesan manis dan penuh romantis yang sesuai
dengan komposisi tari yang menampilkan kesan kedewasaan
seseorang baik dalam pikiran, hati, maupun tindakan serta
kebesaran jiwa dalam mensikapi suatu masalah. Sifat pasrah,
andap asor dan legawa selalu diutamakan. Dari kata sepuh berarti


anepuhi/menyepuh adalah tingkatan kedewasaan seseorang baik
pikir, rasa, maupun tindakan yang tergambar dalam kebesaran jiwa
dan tindakan yang penuh dengan kepasrahan, legawa dan
sumarah.

KESIMPULAN

Manuskrip tentang tari Jawa gaya Surakarta sulit didapat dan
dipahami, oleh karena itu diperlukan kejelian untuk membaca
maupun menterjemahkan sekaligus mencari manuskrip-manuskrip
yang ada di kraton maupun perpustakaan-perpustakaan yang ada
di Surakarta. Salah satu manuskrip untuk telaah ini adalah
manuskrip Serat Wedhataya. Wujud asli manuskrip itu berupa
tulisan Jawa carik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Jawa yang kemudian dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia
untuk memudahkan telaah atau pengkajian dalam mencari makna
yang tersurat pada tulisan tersebut.

Hasil telaah yang telah didapat diantaranya adalah bahwa tari
merupakan pralambang manusia yang menyadari dalam kehidupan
akan hubungan dengan Tuhan sebisa mungkin sampai memahami
rasanya. Setelah memahami rasa yang ada pada dirinya kemudian
menyembah dengan jalan memohon pada Tuhan, yang kemudian
diartikan/dimaknai sebagai pelajaran yoga. Selain itu juga dapat
dimaknai bahwa dalam Serat Wedhataya di dalamnya menunjukkan
nama-nama tentang dualisme kehidupan manusia diantaranya baik
buruk, benar salah, suka cita dan lain-lain yang dalam
penggambaran nyata divisulisasikan pada sebelas tarian yang ada
dalam manuskrip Serat Wedhataya tersebut.

Pada Serat Wedhataya juga digambarkan perilaku manusia
yang divisulisasikan dalam bentuk-bentuk sekaran yang ada pada
sebelas tarian tersebut sehingga dalam kehidupan manusia,
perilaku-perilaku tersebut menjadi dasar untuk menggolongkan
manusia ke dalam empat tatanan/tingkatan yaitu Brahmana,
Satria, Waisya dan Sudra.

Pada Serat Wedhataya juga dijelaskan bahwa pertumbuhan
hidup manusia dari tingkat remaja (muda) sampai tingkat dewasa
mengalami perubahan jiwa, batin, dan emosi yang disertai nafsu



nafsunya dalam proses pendewasaan perilaku maupun jiwanya. Hal
ini digambarkan secara jelas pada bentuk-bentuk tarian
diantaranya Dhadap Kanoman, berbagai wireng yang kemudian
sampai pada bentuk tarian Panji Sepuh.

DAFTAR PUSTAKA

Brakel Clara Papenhuyzen. Kerja sama dengan Ngaliman S. Seni
Tari Jawa Tradisi Surakarta dan Peristilahannya. Belanda
University Leiden. Proyek Pengembangan Bahasa Indonesia.
Alih Bahasa Musabyo.

Kamajaya. 1986. Serat Centhini. Jojakarta. Yayasan Centhini.

Pakempalan Yogyataya. 1979. Serat Wedhataya. Surakarta. Seksi
Perpustakaan Diskotik dan Museum Konservatory Karawitan
Indonesia Surakarta (turunan)

Poerwadarminta W. J. S. Kabantu Soedarmo C. S. Poedja Soedira

J. Chr. 1939. Baoe Sastra Djawa. Ingkang Kangge Antjerantjer
Serat Baoe Sastra Djawi Wlandi Karanganipun T. H.
Pigeaud ing Ngajogjakarta. Wolter Suit Gevers – Maatscha
PPIJ Groningan. Batavia.
Prawiro
Atmojo. 1993. Busastra Jawa Indonesia. Jakarta. Haji
Masagung. Cetakan ke V.
Sastrakartika. 1925. Serat Kridha Wayangga (Pakem Beksa). Solo.
Trimurti.


Sastra Lesana. 1620. Kagoenan Djawi. Bab Beksa. Jilid I. solo.
Sadoe Boedi.

Soewojo Wojowasito. 1970. Kamus Kawi (Djawa Kuno) –Indonesia.
Malang. AM Publiksai Ilmiah Fakultas Keguruan Sastra dan
Seni I.K.I.P. Malang.

Sudarsono. Ben Suharto. Sumandiyo Hadi Y. Djoko Waluyo W.P.
Sudarsono R. B. 1977/1978. Kamus Istilah Tari dan
Karawitan Jawa. Jakarta. Proyek Penelitihan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan Daerah.

Sudaryanto. 1991. Kamus indonesia – Jawa. Yogyakarta. Duta
Wacana University Press.

Warsadiningrat. 1980. Wedhapradonggo. Ed. R. Wiranta. Surakarta
(SMK).

Winter Sr. C. F. 1991. Pnj: R. Ng. Rangga Warsita. Kamus Kawi –
Jawa. Yogyakarta. Gajah Mada University Pres.

Zoetmulder. P. J. Bekerjasama dengan S. D. Robson. 1995. Kamus
Jawa Kuno – Indonesia 1 – 2. Penerjemahan Daru Suprapto.
Sumarti Suprayitno. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama